Prof. Ir. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Sc., Ph.D.
Prof. Nandra: Arsitek Digitalisasi Zakat yang Kembali Bertarung di Seleksi Pimpinan BAZNAS
29/08/2025 | Humas BAZNAS MinahasaJakarta – Nama Prof. Ir. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Sc., Ph.D., atau akrab disapa Prof. Nandra, kembali menyeruak di tengah publik menjelang seleksi pimpinan BAZNAS RI periode 2025–2030. Sosok yang dikenal sebagai arsitek transformasi digital zakat ini menyatakan kesiapannya untuk maju, meski dengan kerendahan hati ia menilai peluangnya hanya “satu persen.”
“Salam saya, in syaa Allah, akan ikut seleksi calon pimpinan BAZNAS RI periode 2025–2030, karena banyaknya permintaan teman-teman daerah yang minta saya ikut lagi. Jujurnya peluang saya hanya 1 persen, namun saya tetap ikhtiar dan memohon bantuan doa dari Bapak Ibu pimpinan BAZNAS daerah yang selama ini saya sebagai pembina wilayah. Terima kasih atas dukungan dan doanya, jazakallah khairan katsiran barakallah fiikum,” ujar Prof. Nandra dalam pesannya yang beredar di kalangan internal amil zakat.
Namun pernyataan rendah hati itu justru ditangkap publik sebagai kritik halus terhadap mekanisme seleksi pimpinan yang kerap dianggap elitis dan kurang terbuka. Di tengah sorotan soal transparansi dan profesionalisme lembaga zakat, munculnya figur dengan gagasan progresif seperti Prof. Nandra menjadi ujian bagi keberanian BAZNAS untuk berubah.
Rekam jejaknya tak terbantahkan. Di tangannya, BAZNAS bertransformasi dari lembaga pengumpul zakat menjadi pusat inovasi sosial. Ia menggagas ratusan Kantor Digital, menginisiasi pelatihan jurnalistik bagi amil, hingga menggerakkan solidaritas global untuk Palestina dengan penghimpunan lebih dari Rp300 miliar. Semua dijalankan dengan prinsip: zakat adalah energi sosial untuk perubahan bangsa dan dunia.
Visinya pun melampaui teknis kelembagaan. Prof. Nandra kerap menekankan pentingnya growth mindset, work-life balance, dan humility dalam kepemimpinan modern. Baginya, zakat hanya akan dipercaya publik bila dikelola secara profesional, transparan, dan berbasis data real-time.
Dukungan dari daerah terus mengalir. Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Minahasa, Sahlan Kokalo, menyebut Prof. Nandra sebagai sosok dengan gagasan besar. “Kami mendoakan Prof. Nandra agar dimudahkan Allah dalam ikhtiarnya. Beliau punya visi yang bisa membawa BAZNAS lebih dekat dengan masyarakat digital dan memperkuat kepercayaan publik,” ujarnya.
Ketua BAZNAS Provinsi Sulawesi Utara Lutvia Alwi, SH., MH mempertegas dukungan kolektif. “In Shaa Allah Prof, kami dari BAZNAS Provinsi & Kabupaten/Kota se-Sulut men-support dan mendoakan. In Shaa Allah doa kita diijabah dan ikhtiar Prof. untuk maju dimudahkan Allah SWT. Tetap semangat Prof,” ungkapnya penuh optimisme.
Kini pertanyaannya bukan lagi soal seberapa besar peluang Prof. Nandra, tetapi apakah BAZNAS RI berani memberi ruang bagi sosok dengan intelektualitas, visi digital, dan keberanian moral yang konsisten. Jika jawaban atas pertanyaan itu ragu-ragu, maka kritik “peluang hanya satu persen” bisa berubah menjadi cermin besar bagi lembaga zakat nasional: apakah siap melompat ke era baru, atau tetap nyaman dengan pola lama yang mengekang perubahan.
