Berita Terkini
Tiga Putranya Gugur di Gaza, Ulama Palestina Datangi BAZNAS: “Saya Tetap Mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”
JAKARTA, — Suasana haru terasa saat Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli, ulama sekaligus akademisi asal Gaza, Palestina, berbicara di hadapan jajaran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Maher datang bersama pengurus Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP). Kedatangannya menjadi kesempatan untuk menyampaikan secara langsung kondisi masyarakat Gaza yang hingga kini masih menghadapi situasi kemanusiaan yang berat, meski telah ada gencatan senjata.
Namun, yang disampaikan Maher bukan hanya cerita tentang kondisi masyarakat Gaza. Ia juga membawa kisah kehilangan dari keluarganya sendiri.
Tiga putranya, cucu, dua saudara laki-laki, serta puluhan kerabatnya disebut telah gugur akibat serangan bom di Gaza.
“Saya hadir di hadapan Anda sekalian sebagai gambaran kecil dari penderitaan rakyat Gaza, di mana tiga putra saya, cucu saya, dua saudara laki-laki, beserta puluhan kerabat telah gugur syahid akibat serangan bom,” kata Maher.
Kehilangan tiga anak tentu menjadi duka yang tidak mudah bagi seorang ayah. Terlebih, Maher menyebut ketiga putranya merupakan pahlawan penghafal Al-Qur'an.
Namun di tengah kesedihan tersebut, Maher berusaha tetap menunjukkan keteguhan hati. Ia mengatakan bahwa dirinya tetap mengucapkan syukur kepada Allah SWT.
“Tiga putra saya, saudara-saudara saya, dan kerabat saya telah syahid, namun demikian di hadapan kondisi ini saya tetap mengucapkan Alhamdulillahi rabbil 'alamin,” ujarnya.
Bagi Maher, kehilangan anggota keluarga merupakan penderitaan yang sangat berat. Tetapi ketika berbicara mengenai kondisi masyarakat Gaza secara keseluruhan, ia mengaku masih sulit menahan air mata.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat Palestina saat ini sudah berada pada kondisi yang sangat krisis. Tidak hanya persoalan keamanan di Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa, warga Gaza juga masih berhadapan dengan kebutuhan dasar yang mendesak.
Salah satunya adalah kebutuhan untuk menangani dan memakamkan jenazah para korban yang terus ditemukan dan dievakuasi.
Maher menyebut masyarakat Gaza bahkan membutuhkan bantuan biaya dan material untuk dapat memakamkan jasad puluhan hingga ratusan syuhada yang dievakuasi setiap harinya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bahwa persoalan kemanusiaan di Gaza belum selesai meskipun telah ada gencatan senjata.
Ancaman musim dingin juga menjadi perhatian. Masyarakat yang kehilangan rumah dan berbagai fasilitas kehidupan membutuhkan bantuan untuk menghadapi kondisi yang semakin berat.
Karena itu, kedatangan Maher ke BAZNAS RI menjadi kesempatan untuk menyampaikan secara langsung apa yang terjadi di Gaza sekaligus kebutuhan masyarakat di sana.
Ia tidak datang membawa cerita dari jauh. Ia datang sebagai seseorang yang keluarganya sendiri ikut menjadi korban.
Dalam pertemuan itu, Maher juga menyampaikan pesan mengenai keluarga para syuhada di Gaza.
“Sebagaimana disebutkan bahwa ini adalah pertemuan dengan keluarga para syuhada, maka saya juga akan menyampaikan perkataan ini kepada keluarga para syuhada di Gaza, insya Allah Rabbil 'Alamin, bahwa para syuhada selalu hadir di dalam hati Dr. Sodik Mudjahid, hadir di pikirannya, hadir di tengah rekan-rekannya, dan hadir di BAZNAS, insya Allah Rabbil 'Alamin,” tuturnya.
BAZNAS Terima Kesaksian Langsung dari Gaza
Sementara itu, Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. mengatakan, pihaknya menyambut kedatangan Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli untuk mendengarkan secara langsung kondisi masyarakat Gaza.
Menurut Sodik, kesaksian Maher penting untuk memberikan gambaran mengenai keadaan rakyat Gaza saat ini, termasuk kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk menghadapi musim dingin dan Ramadan.
“Hari ini kami kedatangan akademisi langsung dari Gaza, Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli yang tiga putranya serta kerabatnya telah wafat syahid akibat bom, untuk menceritakan secara langsung keadaan rakyat Gaza saat ini beserta kebutuhan mereka menghadapi masa depan,” kata Sodik.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi BAZNAS untuk mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat Palestina dari seseorang yang mengalami sendiri dampak konflik tersebut.
Bagi masyarakat Gaza, persoalan yang dihadapi bukan hanya tentang kehilangan tempat tinggal atau kerusakan fasilitas. Ada keluarga yang kehilangan anak, orang tua yang kehilangan anaknya, dan saudara yang tidak lagi dapat berkumpul seperti sebelumnya.
Kesaksian Prof. Maher menjadi pengingat bahwa di balik berbagai angka mengenai korban dan kerusakan akibat konflik, terdapat manusia dan keluarga yang harus menjalani kehidupan dengan kehilangan yang sangat besar.
Dari Gaza, Maher membawa cerita tentang keluarganya dan masyarakat yang masih bertahan di tengah krisis.
Di Jakarta, cerita itu disampaikan kepada BAZNAS sebagai bagian dari upaya menjaga perhatian dan kepedulian terhadap penderitaan masyarakat Palestina.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, pesan yang dibawa Maher sederhana tetapi kuat: masyarakat Gaza masih membutuhkan perhatian, bantuan dan solidaritas kemanusiaan.
01/10/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI Bahas Kerja Sama Bantuan Kemanusiaan Palestina dengan YPSP
JAKARTA, — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP) membahas rencana kerja sama untuk memperkuat penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina, khususnya warga di Gaza.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam agenda audiensi di Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Menurutnya, YPSP diharapkan dapat menjadi salah satu mitra tambahan BAZNAS dalam memperluas jangkauan penyaluran bantuan ke Palestina.
"Insyaallah kita akan bekerja sama dengan yayasan sebagai tambahan mitra BAZNAS dalam penyaluran bantuan ke Palestina, wabilkhusus untuk Gaza," jelas Sodik Mudjahid.
Kerja sama yang sedang disiapkan itu mencakup beberapa bentuk bantuan, mulai dari pangan, fasilitas air bersih hingga kebutuhan masyarakat untuk menghadapi musim dingin. Selain itu, turut dibahas rencana pengiriman imam-imam asal Palestina ke sejumlah daerah di Indonesia.
Sodik mengatakan, perhatian dan dukungan terhadap masyarakat Palestina tetap diperlukan karena kondisi di Gaza belum sepenuhnya pulih. Ia juga menyoroti adanya penurunan aliran bantuan kemanusiaan belakangan ini.
Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah anggapan sebagian masyarakat bahwa kondisi Gaza sudah aman setelah adanya perkembangan terkait gencatan senjata. Padahal, kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut masih cukup besar.
Dalam kesempatan itu, Sodik juga menjelaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina memiliki landasan yang kuat, baik dari sisi kebangsaan maupun keagamaan.
"Jadi ada dua motivasi, satu motivasi kebangsaan Indonesia sesuai dengan konstitusi dan kebijakan Presiden, dan motivasi kedua adalah amanah Al-Qur'an dan Sunnah dari Allah dan Rasul," tegas Sodik.
Sementara itu, Ketua YPSP Dr. Ahed Abul Atha menyampaikan kesiapan pihaknya untuk mendukung penyaluran bantuan yang nantinya dipercayakan kepada YPSP.
Menurut Ahed, YPSP memiliki tim yang bekerja langsung di sejumlah permukiman di Gaza. Keberadaan tim tersebut diharapkan dapat membantu proses distribusi bantuan agar dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
"Alhamdulillah YPSP siap untuk menyalurkan bantuan-bantuan kemanusiaan langsung di Gaza, karena kami memiliki tim yang memang bekerja langsung di permukiman Gaza," katanya.
Kerja sama yang dibahas BAZNAS RI dan YPSP ini menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan kemitraan dalam penyaluran bantuan kemanusiaan Palestina. Dengan adanya mitra yang memiliki tim di lapangan, penyaluran bantuan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah sesuai kebutuhan masyarakat.
Audiensi tersebut turut dihadiri Ketua Bidang Fatwa Asosiasi Ulama Palestina Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli, Sekretaris Utama BAZNAS RI Dr. H. Subhan Cholid, Lc., M.A., Deputi II Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS RI Dr. K.H. M. Imdadun Rahmat, M.Si., serta Kepala Divisi Kebencanaan BAZNAS RI Dian Aditya Mandana Putri.
Pembahasan antara BAZNAS RI dan YPSP diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi kemanusiaan, sehingga bantuan dari masyarakat Indonesia dapat terus disalurkan kepada warga Palestina yang masih membutuhkan dukungan.
01/10/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI dan ICMI Jajaki Kolaborasi Inovasi Lingkungan hingga Riset Zakat
JAKARTA, BAZNAS MINAHASA — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) menjajaki kerja sama strategis dalam berbagai bidang, mulai dari inovasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi umat, hingga riset pengelolaan zakat.
Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam agenda audiensi antara BAZNAS RI dan jajaran pengurus ICMI yang berlangsung di Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, kedua lembaga membahas sedikitnya 13 program prioritas yang berpotensi dikolaborasikan. Program tersebut mencakup pemanfaatan teknologi penyediaan air bersih dan pengolahan sampah hasil pengembangan para ilmuwan ICMI, pemberdayaan ekonomi umat, riset bersama di bidang zakat, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. mengatakan, BAZNAS RI terbuka terhadap berbagai bentuk sinergi yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya para mustahik.
"Ada 13 program prioritas, mulai dari BAZNAS Siaga Kemiskinan, BAZNAS Tanggap Bencana, Beasiswa Cendikia BAZNAS, Lumbung Pangan BAZNAS, Balai Ternak BAZNAS, hingga Rumah Terang BAZNAS untuk tempat yang belum berlistrik," jelas Sodik.
Menurutnya, berbagai program tersebut memiliki ruang kolaborasi dengan kapasitas keilmuan dan jaringan yang dimiliki ICMI. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pelaksanaan program, tetapi juga menghadirkan pendekatan berbasis inovasi dan teknologi dalam pemberdayaan masyarakat.
Salah satu peluang kerja sama yang dibahas adalah penerapan teknologi dalam penyediaan air bersih dan pengelolaan sampah. BAZNAS juga membuka peluang kolaborasi dalam memberikan dukungan kepada masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pengumpulan sampah.
"Kami juga membuka peluang sinergi dalam penggunaan teknologi pengolahan sampah maupun bantuan langsung kepada para pemulung sampah bersama ICMI," ujar Sodik Mudjahid.
Selain bidang lingkungan, pembahasan juga mencakup penguatan ekonomi umat melalui dukungan modal usaha berbasis masjid dan pengembangan program bagi mualaf melalui Mualaf Center yang berada dalam pembinaan ICMI.
Kolaborasi riset mengenai pengelolaan zakat turut menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian. Kerja sama di bidang penelitian diharapkan dapat menghasilkan kajian dan rekomendasi yang mendukung pengembangan tata kelola serta program zakat yang semakin berbasis data dan kebutuhan masyarakat.
Wakil Ketua Umum ICMI Bidang IPTEK, Agromaritim, dan Lingkungan Hidup Mohammad Jafar Hafsah menyambut baik rencana kolaborasi antara ICMI dan BAZNAS RI.
Ia mengatakan, berbagai bidang yang dibahas dalam audiensi tersebut pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan program dan kapasitas yang dimiliki ICMI sehingga dapat dikembangkan melalui sinergi antarlembaga.
"Alhamdulillah dengan rencana MoU ini juga berarti hubungan kita dengan BAZNAS dalam bentuk program-program itu akan lebih baik. Dan program-program semuanya yang dikemukakan itu semua ada di ICMI, jadi tinggal kita sinergikan," tuturnya.
Rencana kerja sama tersebut juga diarahkan pada penyusunan nota kesepahaman (MoU) antara BAZNAS RI dan ICMI sebagai landasan pengembangan berbagai program kolaboratif ke depan.
Melalui sinergi tersebut, BAZNAS RI dan ICMI memiliki ruang untuk menghubungkan kekuatan pengelolaan zakat dengan kapasitas keilmuan, teknologi, riset, serta jaringan pemberdayaan masyarakat.
Kerja sama ini sekaligus memperluas peluang agar dana zakat tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga dapat diarahkan pada program pemberdayaan yang mendukung kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
Turut hadir dalam agenda tersebut dari BAZNAS RI, Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI H. Idy Muzayyad, S.H.I., M.Si., serta Deputi I Pengumpulan BAZNAS RI H. M. Arifin Purwakananta, S.IKom., M.I.Kom., CWC., CFRM.
Sementara dari jajaran pengurus ICMI hadir Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Organisasi dan Kerja Sama Antar Lembaga Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Umat Teuku Abdullah Sanny, Bendahara Umum Andi Irman, Ketua Panitia Muktamar Ismail Rumadhan, Sekretaris Panitia Muktamar Ina Marlina, serta Bendahara Panitia Muktamar Andi Ida Nursanti.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring kolaborasi antara lembaga zakat nasional dan organisasi cendekiawan Muslim dalam menghadirkan program yang berbasis inovasi, ilmu pengetahuan, pemberdayaan, dan kebutuhan nyata masyarakat.
01/10/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Artikel Terbaru
Merawat Amanah, Menumbuhkan Kebaikan: Ikhtiar BAZNAS Minahasa untuk Umat
Di tengah kehidupan yang terus bergerak, satu hal yang tidak boleh hilang adalah semangat kebersamaan. Karena dalam kebersamaan, kebaikan tidak hanya tumbuh—ia mengakar, menguat, dan meluas.
Islam telah mengajarkan sejak awal bahwa kebaikan bukan untuk dikerjakan sendiri. Ia adalah jalan yang ditempuh bersama, dengan hati yang saling terhubung dalam kepedulian.
Allah ? berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini bukan sekadar ajakan, tetapi arah—bahwa kebaikan sejati lahir dari kebersamaan yang tulus.
Setiap elemen masyarakat memiliki peran yang berharga. Pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi sosial, hingga masyarakat luas—semuanya bergerak dalam garis yang sama, meski dengan langkah yang berbeda.
Tidak perlu saling mendahului. Tidak perlu saling menonjolkan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang terlihat, tetapi siapa yang memberi manfaat.
Kebersamaan yang dibangun di atas saling menghargai akan melahirkan:
kepercayaan yang tumbuh perlahan
kepedulian yang menguat tanpa dipaksa
dan kebaikan yang terasa nyata di tengah masyarakat
BAZNAS Kabupaten Minahasa: Ikhtiar dalam Senyap, Manfaat yang Diharap
Sebagai bagian dari BAZNAS, BAZNAS Kabupaten Minahasa menjalankan perannya dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebagai amanah umat.
Ikhtiar ini mungkin tidak selalu terlihat besar, namun terus diupayakan agar:
setiap amanah terjaga dengan baik
setiap penyaluran tepat sasaran
dan setiap langkah membawa nilai kebermanfaatan
Bukan tentang seberapa banyak yang dilakukan, tetapi tentang seberapa tulus amanah itu dijaga.
Dalam setiap zakat yang ditunaikan, ada harapan yang disampaikan. Ada beban yang ingin diringankan. Ada kehidupan yang ingin dikuatkan.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan untuk menghadirkan manfaat—bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun.
BAZNAS Kabupaten Minahasa terus berikhtiar membuka ruang kebaikan yang bisa diisi bersama. Tanpa sekat, tanpa batas, tanpa harus mengurangi peran siapa pun.
Karena kebaikan tidak pernah meminta kita menjadi sama, tetapi mengajarkan kita untuk berjalan bersama.
Dengan semangat itu, diharapkan semakin banyak langkah kecil yang bertemu, lalu tumbuh menjadi gerakan besar yang memberi arti bagi sesama.
Pada akhirnya, kebaikan bukan tentang siapa yang paling banyak berbuat, tetapi siapa yang terus bertahan untuk berbuat.
Melalui peran yang diemban, BAZNAS Kabupaten Minahasa akan terus menjaga amanah ini—dengan sederhana, dengan tulus, dan dengan harapan yang tidak pernah padam.
Karena sejatinya… kebaikan tidak selalu hadir dalam gemuruh, sering kali ia tumbuh dalam diam— namun dampaknya mampu menghidupkan banyak harapan.
22/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Malam ke-29 Ramadhan: Silaturahmi Penuh Makna di Masjid Al Hijrah Rinegetan, BAZNAS dan BTM Perkuat Gerakan Kebaikan
Suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan mewarnai malam ke-29 Ramadhan di Sekretariat BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan, usai pelaksanaan sholat tarawih. Pimpinan BAZNAS Minahasa bersilaturahmi bersama jamaah, Tim UPZ, dan pengurus BTM dalam sebuah pertemuan yang sarat makna, refleksi, dan komitmen untuk terus menguatkan gerakan zakat di tengah masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung hingga larut malam ini bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi pendistribusian zakat fitrah, sekaligus memastikan seluruh mustahik telah terdata dan menerima haknya secara tepat.
Di tengah kesibukan umumnya UPZ yang masih berjibaku dengan proses pengumpulan dan penyaluran zakat hingga mendekati hari raya, Tim UPZ Masjid Al Hijrah Rinegetan justru menunjukkan capaian luar biasa.
Di bawah koordinasi BTM dan keimaman masjid, seluruh proses pengumpulan, pendataan, hingga pendistribusian zakat fitrah telah diselesaikan sejak H-3 sebelum Lebaran, dengan data yang akurat dan tepat sasaran.
Hal ini menjadi cerminan nyata dari semangat amanah sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dalam suasana santai namun penuh makna, diskusi antara BAZNAS Minahasa dan pengurus BTM berlangsung hangat. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan, hingga strategi penguatan UPZ ke depan dibahas secara terbuka.
Ketua BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan, Ibrahim Hamid, menegaskan pentingnya menjaga sinergi dan semangat pelayanan umat.
“Kami bersyukur seluruh proses zakat tahun ini bisa diselesaikan lebih awal dengan baik. Ini bukan hanya soal kerja tim, tetapi tentang amanah kepada umat. Ke depan, kami siap terus bersinergi dengan BAZNAS Minahasa untuk memperkuat gerakan zakat agar semakin luas manfaatnya,” ujar Ibrahim Hamid.
Silaturahmi ini sekaligus mempertegas komitmen bersama untuk menjadikan masjid sebagai pusat gerakan kebaikan yang berkelanjutan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Malam itu terasa semakin hangat dengan suasana kebersamaan. Diiringi hidangan sederhana, secangkir kopi, dan makan malam bersama, para jamaah saling berbagi cerita—tentang perjuangan, tentang pelayanan umat, dan tentang harapan ke depan.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul 00.00 WITA. Namun tak ada rasa lelah—yang ada justru ketenangan dan kebahagiaan.
Karena mereka sedang berada di tempat yang paling dicintai Allah.
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid.” (HR. Muslim)
Malam ke-29 menjadi salah satu momen istimewa dalam 10 hari terakhir Ramadhan—waktu di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
Kebersamaan di masjid, diskusi kebaikan, serta memastikan hak mustahik tersalurkan dengan baik adalah bagian dari upaya menghidupkan malam-malam mulia tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan penting: bahwa kolaborasi antara BAZNAS Minahasa dan BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan akan terus diperkuat melalui program-program bersama ke depan.
Dengan semangat kebersamaan, profesionalisme, dan keikhlasan, masjid diharapkan terus menjadi pusat pemberdayaan umat—bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang waktu.
Malam ke-29 itu mungkin akan berlalu, namun semangatnya akan tetap hidup.
Dari Masjid Al Hijrah Rinegetan, lahir sebuah pesan sederhana namun kuat:
bahwa kebaikan yang dikerjakan bersama, dengan ikhlas dan terencana, akan selalu menemukan jalannya untuk memberi manfaat yang lebih luas.
“Tunjukkanlah kepada kebaikan, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
19/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
Dua hari lagi…
Ramadhan akan pergi.
Tanpa pamit. Tanpa notifikasi. Tanpa “last warning”.
Tiba-tiba saja… selesai.
Dan yang tersisa bukan lagi suasana. Bukan lagi takbir. Bukan lagi tarawih.
Yang tersisa hanyalah satu hal:
Amal kita.
Saat Semua Akan Ditanya… Termasuk Jempol Kita
Allah ? berfirman:
“Pada hari itu, Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka berbicara kepada Kami, serta kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
Hari itu akan datang…
Hari di mana:
Mulut tidak bisa beralasan
Lidah tidak bisa berdalih
Tapi… tangan kita berbicara
Termasuk jempol kita.
Jempol yang setiap hari:
Scroll tanpa arah
Like tanpa pikir
Comment tanpa batas
Share tanpa sadar
Pertanyaannya…
Apa yang akan disampaikan jempol kita di hadapan Allah nanti?
Ramadhan: Bukan Tentang Awal… Tapi Akhir
Rasulullah ? bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Artinya…
Yang menentukan bukan seberapa semangat kita di awal Ramadhan… Tapi bagaimana kita menutupnya.
Hari ini…
Sebagian orang justru sibuk dengan:
Baju lebaran
Kue lebaran
TikTok lebaran
Konten hiburan tanpa batas
Ramadhan belum selesai… Tapi hati kita sudah “keluar” lebih dulu.
Zaman Berubah… Tapi Catatan Amal Tetap Berjalan
Dulu…
Orang berdosa harus pergi ke tempat maksiat.
Sekarang?
Maksiat bisa datang ke genggaman.
Dan lebih dahsyat lagi…
Sekali kita klik “share”… Kita tidak hanya berdosa sendiri.
Kita bisa “menggandakan dosa”.
Rasulullah ? bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya…” (HR. Muslim)
Bayangkan ini…
Satu video yang tidak pantas… Kita share…
Ditonton 1.000 orang… Dari 1.000 itu, 100 share lagi…
Dan dosa itu terus hidup…
Bahkan… saat kita sudah di dalam kubur.
Tapi Jangan Putus Asa… Karena Kebaikan Juga Bisa Viral
Allah Maha Adil.
Sebagaimana dosa bisa menyebar… pahala juga bisa mengalir tanpa henti.
Rasulullah ? bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Bayangkan sebaliknya…
Kita share satu ayat
Seseorang tersentuh
Ia mulai shalat
Ia ajak keluarganya
Anaknya menjadi shalih
Dan semua itu…
mengalir ke kita… tanpa kita sadari.
Kisah Nyata: Dari Status Biasa, Hidayah Luar Biasa
Ada seseorang… bukan ustadz… bukan tokoh terkenal…
Ia hanya rutin setiap hari posting satu ayat Al-Qur’an.
Tidak banyak like. Tidak viral.
Suatu hari… seseorang menghubunginya:
"Saya berubah karena status Anda… saya kembali shalat setelah lama meninggalkannya."
Allahu Akbar…
Yang kecil di mata kita… Bisa jadi besar di sisi Allah.
Like, Comment, Subscribe: Amal atau Masalah?
Hari ini kita terbiasa mendengar:
???? “Like, comment, dan subscribe…”
Tapi jarang kita sadar…
Setiap klik itu dicatat.
Like → dukungan
Comment → pernyataan
Share → penyebaran
Pertanyaannya sederhana:
Apa yang kita dukung selama ini?
Kebaikan… atau keburukan?
2 Hari Terakhir: Jangan Jadi Orang yang Rugi
Rasulullah ? bersabda:
“Sungguh merugi seseorang yang bertemu Ramadhan, lalu tidak diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi)
Ini bukan ancaman biasa.
Ini peringatan keras.
Karena Ramadhan adalah:
Bulan ampunan
Bulan pahala dilipatgandakan
Bulan pintu surga dibuka
Kalau di bulan ini saja kita tidak berubah…
Lalu kapan lagi?
Coba Jujur… Ini Pertanyaan untuk Kita Semua
Hari ini…
Berapa lama kita pegang HP?
Dan dari waktu itu:
Berapa menit untuk Al-Qur’an?
Berapa menit untuk dzikir?
Berapa menit untuk kebaikan?
Dan…
Berapa jam untuk hal yang tidak bermanfaat?
Gerakan Sederhana Tapi Dahsyat
Tidak perlu jadi ustadz. Tidak perlu jadi orang besar.
Mulai dari sini:
- Share 1 ayat setiap hari- Sebarkan 1 kebaikan- Stop konten negatif- Dukung dakwah dengan jempol
Karena hari ini…
Jempol lebih cepat dari lisan. Dan jangkauannya lebih luas dari langkah kaki.
Bayangan yang Tidak Bisa Kita Hindari
Bayangkan…
Di hari kiamat nanti…
Kita melihat pahala besar…
Kita bertanya:
"Ya Allah… dari mana ini?"
Dan Allah menjawab:
"Dari apa yang kamu sebarkan… yang kamu sudah lupa."
Penutup: Ini Mungkin Ramadhan Terakhir Kita
Dua hari lagi…
Ramadhan pergi.
Dan mungkin…
Ini Ramadhan terakhir kita.
Tidak ada yang tahu.
Maka sebelum ia benar-benar hilang…
Perbaiki:
Shalat kita
Hati kita
Dan… jejak digital kita
Karena jejak itu tidak hilang.
Ia akan menjadi:
- Saksi yang meringankan… atau- Saksi yang memberatkan
Jangan biarkan Ramadhan pergi… tanpa perubahan.
Karena yang kita bawa nanti…
Bukan HP kita… Bukan followers kita…
Tapi:
Apa yang kita lakukan dengan semuanya itu.
Allahu Akbar…
Semoga kita termasuk orang yang:
Diampuni dosanya
Diterima amalnya
Dan menjadi bagian dari penyebar kebaikan… di dunia nyata maupun digital
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
18/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa



