Berita Terkini
BAZNAS RI–Urais Kemenag Perkuat UPZ Masjid, Dorong Digitalisasi Pengelolaan ZIS
JAKARTA – Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan dan penguatan kesejahteraan masyarakat. Potensi tersebut kini didorong untuk semakin optimal melalui penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) berbasis masjid dan tata kelola zakat, infak, serta sedekah (ZIS) yang transparan dan akuntabel.
Komitmen itu mengemuka dalam audiensi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Direktorat Urusan Agama Islam (Urais) Kementerian Agama RI di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi antara pengelola zakat dan pembina urusan keagamaan, khususnya dalam mengoptimalkan potensi ZIS yang berada di lingkungan masjid.
Audiensi dihadiri Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., Deputi Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI H. M. Arifin Purwakananta, S.I.Kom., M.IKom., CWC., CFRM., serta Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI H. Arsyad Hidayat, Lc., M.A., bersama jajaran.
Pimpinan Mobilisasi dan Pengumpulan BAZNAS RI Dr. H. Rizaludin Kurniawan menekankan pentingnya transformasi tata kelola UPZ masjid melalui pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar perubahan cara dalam melakukan penghimpunan ZIS, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat transparansi, akuntabilitas, pencatatan, dan pelaporan pengelolaan dana umat.
“UPZ masjid itu sudah digital saja. Setorannya juga digital. Jadi tidak ada yang manual. Kita libatkan generasi-generasi muda yang melek teknologi,” ujar Rizaludin.
Ia menyebut BAZNAS telah memiliki aplikasi Menara Masjid BAZNAS sebagai salah satu instrumen yang dapat mendukung penguatan ekosistem digital masjid.
“Menurut saya, itu satu-satunya solusi kaitan dengan transparansi. Di BAZNAS, kami sudah ada aplikasi Menara Masjid BAZNAS,” lanjutnya.
Dorongan digitalisasi tersebut menjadi relevan karena masjid berada sangat dekat dengan masyarakat dan memiliki basis jamaah yang kuat. Dengan sistem pengelolaan yang tertata, potensi ZIS di lingkungan masjid dapat dihimpun dan dimanfaatkan secara lebih terukur.
Penguatan UPZ masjid tidak semata diarahkan pada peningkatan penghimpunan dana. Lebih jauh, tata kelola yang baik diharapkan mampu memastikan dana ZIS memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Masjid dengan tata kelola ZIS yang transparan dapat membangun kepercayaan jamaah sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi program pemberdayaan masyarakat di sekitar masjid.
Karena itu, BAZNAS RI memandang perlu adanya pertukaran pengalaman antarpengelola UPZ masjid untuk menemukan berbagai praktik baik yang telah berjalan di daerah.
Rizaludin mengusulkan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bersama Urais Kemenag dengan menghadirkan pengurus UPZ berbasis masjid dari berbagai daerah.
“Kita ingin mendapatkan cerita bagus, success story yang mungkin sudah dilakukan oleh beberapa masjid yang sudah masuk. Mereka punya tata kelola yang bagus,” kata Rizaludin.
FGD tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk menggali pengalaman lapangan, mengidentifikasi berbagai tantangan, sekaligus memperoleh masukan terkait regulasi yang selama ini menjadi landasan pengelolaan UPZ masjid.
Masjid Didorong Hadirkan Manfaat Lebih Luas
Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI H. Arsyad Hidayat mengatakan, penguatan UPZ masjid sejalan dengan semangat pemberdayaan rumah ibadah.
Menurutnya, rumah ibadah memiliki posisi strategis dalam kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, keberadaan masjid tidak semestinya hanya dilihat dari fungsi ritual, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial bagi lingkungan sekitarnya.
Ia mengutip pesan Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., bahwa rumah ibadah perlu memberikan warna yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat.
“Rumah ibadah sekarang tidak hanya berfokus sebagai tempat salat. Rumah ibadah harus memberikan warna bagi masyarakat,” ujar Arsyad.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya mengembangkan masjid sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui pengelolaan ZIS yang profesional.
Kolaborasi BAZNAS RI dan Urais Kemenag tersebut membuka ruang penguatan pengelolaan ZIS berbasis masjid dari hulu hingga hilir—mulai dari penghimpunan, pencatatan, pelaporan, transparansi, hingga pemanfaatan dana untuk kemaslahatan masyarakat.
Penguatan UPZ masjid juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun budaya pengelolaan zakat yang semakin modern. Teknologi digital, keterlibatan generasi muda, tata kelola yang akuntabel, serta sinergi kelembagaan menjadi sejumlah unsur yang dibahas dalam upaya tersebut.
Pada akhirnya, masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat masyarakat datang untuk beribadah, tetapi juga menjadi ruang yang mampu menggerakkan kepedulian sosial, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi BAZNAS di daerah, termasuk BAZNAS Kabupaten Minahasa, penguatan UPZ berbasis masjid juga memiliki arti strategis. UPZ bukan sekadar perpanjangan tangan penghimpunan ZIS, melainkan bagian dari ekosistem pengelolaan zakat yang membutuhkan amanah, profesionalitas, transparansi, dan sinergi antara BAZNAS, pengurus masjid, muzaki, jamaah, dan masyarakat penerima manfaat.
Zakat bukan sekadar dana yang dihimpun. Di balik setiap rupiah ZIS terdapat amanah untuk menghadirkan kemanfaatan dan menguatkan kehidupan masyarakat.
23/09/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS Minahasa Sampaikan Selamat atas Amanah Baru Muhammad Ahmad Zaini Kiaydemak
MINAHASA — Pimpinan BAZNAS Kabupaten Minahasa menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Muhammad Ahmad Zaini Kiaydemak, S.Sos., atas amanah barunya sebagai Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.
Sebelumnya, Muhammad Ahmad Zaini Kiaydemak mengemban tugas sebagai Kasubbag Tata Usaha Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Kotamobagu.
Pimpinan BAZNAS Kabupaten Minahasa berharap pengalaman selama bertugas di Sulawesi Utara menjadi bekal untuk melanjutkan pengabdian di Kabupaten Kendal.
“Selamat dan sukses atas amanah baru. Semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, kemudahan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Pimpinan BAZNAS Kabupaten Minahasa.
BAZNAS Minahasa juga berharap silaturahmi yang telah terjalin selama bertugas di Sulawesi Utara tetap terjaga meski kini pengabdian berlanjut di Jawa Tengah.
Jabatan boleh berganti, tempat pengabdian boleh berpindah, tetapi semangat melayani dan memberikan manfaat harus terus menyala.
Selamat bertugas dan sukses mengemban amanah baru, Muhammad Ahmad Zaini Kiaydemak, S.Sos.
23/09/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
ZaWIN 2026 di Bandung: BAZNAS Dorong Kolaborasi agar Zakat Berdampak Lebih Luas
BANDUNG — Pengelolaan zakat nasional tidak cukup hanya berbicara tentang besarnya potensi penghimpunan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana dana zakat yang terkumpul mampu diubah menjadi program yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam forum Zakat & Waqf for Inclusive Impact and Networking (ZaWIN) 2026 yang digelar di Bandung, Selasa (22/9/2026).
Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc. menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ), dunia usaha, hingga kalangan akademisi untuk memperluas manfaat zakat.
Forum tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI bersama Rumah Zakat sebagai ruang pembinaan sekaligus penguatan jejaring pengelola zakat dan wakaf.
Sodik mengingatkan bahwa besarnya potensi zakat nasional harus diikuti dengan kemampuan lembaga pengelola zakat dalam meningkatkan penghimpunan, tata kelola, serta pendayagunaan dana ZIS-DSKL.
“Jangan hanya terus kita bermimpi potensi, potensi, potensi, tapi kita kurang realisasi,” ujar Sodik.
Menurut dia, profesionalisme menjadi salah satu kunci agar potensi zakat dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dalam forum tersebut, Sodik juga menyampaikan tiga arah strategis BAZNAS RI dalam mengoptimalkan pengelolaan ZIS-DSKL, yakni Expand, Trust, dan Collaborate.
Expand diarahkan pada perluasan basis muzaki. Trust menekankan pentingnya membangun kepercayaan melalui transparansi dan profesionalisme. Sementara Collaborate menjadi landasan untuk membangun sinergi berkelanjutan dengan berbagai pihak.
Ketiga pendekatan tersebut saling berkaitan. Basis muzaki yang semakin luas membutuhkan kepercayaan publik, sementara dampak program yang semakin besar membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, S.Ag., M.Ag. dalam forum yang sama menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan zakat.
Menurut Waryono, ukuran keberhasilan lembaga zakat tidak semata-mata dilihat dari jumlah dana yang berhasil dihimpun. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan lembaga dalam mendorong mustahik menjadi lebih berdaya dan mandiri.
“Hari ini ukuran keberhasilan lembaga zakat termasuk BAZNAS tidak lagi sekadar seberapa banyak pengumpulan yang diperoleh, tetapi bagaimana ada shifting paradigm dari pengumpulan menjadi bagaimana menjadikan mustahik berdaya dan mandiri,” tutur Waryono.
Paradigma tersebut menempatkan zakat bukan hanya sebagai instrumen bantuan jangka pendek, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat.
Program zakat dapat diarahkan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan potensi lokal.
Forum ZaWIN 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan zakat membutuhkan ekosistem yang saling terhubung.
Pemerintah memiliki peran dalam regulasi dan pembinaan. BAZNAS dan LAZ menjalankan fungsi pengelolaan serta pendayagunaan. Dunia usaha dapat memperkuat dukungan sumber daya dan program, sementara akademisi dapat berkontribusi melalui riset, inovasi, dan pengembangan model pemberdayaan.
Kementerian Agama sendiri menempatkan pendekatan kolaboratif sebagai bagian penting dalam pemberdayaan zakat. Dalam program Kampung Zakat 2026, misalnya, Kemenag menekankan sinergi pemerintah, BAZNAS, LAZ, dan akademisi untuk mendorong transformasi mustahik menjadi lebih mandiri melalui pengembangan potensi lokal.
Semangat ZaWIN 2026 juga relevan bagi pengelolaan zakat di tingkat daerah.
BAZNAS Kabupaten/Kota memiliki ruang besar untuk membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, masjid, UPZ, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan para muzaki.
Kolaborasi tersebut bukan untuk mengambil alih peran masing-masing lembaga, melainkan mempertemukan sumber daya, keahlian, jaringan, dan program agar manfaat ZIS dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Bagi BAZNAS Minahasa, semangat tersebut dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem zakat di daerah: memperluas muzaki, membangun kepercayaan, memperkuat UPZ, dan memastikan setiap program memiliki manfaat yang terukur bagi mustahik.
Pada akhirnya, zakat tidak berhenti pada angka penghimpunan.
Zakat adalah amanah yang harus dikelola secara profesional, disalurkan secara tepat, dan diubah menjadi manfaat yang mampu menguatkan kehidupan masyarakat.
23/09/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Artikel Terbaru
Merawat Amanah, Menumbuhkan Kebaikan: Ikhtiar BAZNAS Minahasa untuk Umat
Di tengah kehidupan yang terus bergerak, satu hal yang tidak boleh hilang adalah semangat kebersamaan. Karena dalam kebersamaan, kebaikan tidak hanya tumbuh—ia mengakar, menguat, dan meluas.
Islam telah mengajarkan sejak awal bahwa kebaikan bukan untuk dikerjakan sendiri. Ia adalah jalan yang ditempuh bersama, dengan hati yang saling terhubung dalam kepedulian.
Allah ? berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini bukan sekadar ajakan, tetapi arah—bahwa kebaikan sejati lahir dari kebersamaan yang tulus.
Setiap elemen masyarakat memiliki peran yang berharga. Pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi sosial, hingga masyarakat luas—semuanya bergerak dalam garis yang sama, meski dengan langkah yang berbeda.
Tidak perlu saling mendahului. Tidak perlu saling menonjolkan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan siapa yang terlihat, tetapi siapa yang memberi manfaat.
Kebersamaan yang dibangun di atas saling menghargai akan melahirkan:
kepercayaan yang tumbuh perlahan
kepedulian yang menguat tanpa dipaksa
dan kebaikan yang terasa nyata di tengah masyarakat
BAZNAS Kabupaten Minahasa: Ikhtiar dalam Senyap, Manfaat yang Diharap
Sebagai bagian dari BAZNAS, BAZNAS Kabupaten Minahasa menjalankan perannya dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebagai amanah umat.
Ikhtiar ini mungkin tidak selalu terlihat besar, namun terus diupayakan agar:
setiap amanah terjaga dengan baik
setiap penyaluran tepat sasaran
dan setiap langkah membawa nilai kebermanfaatan
Bukan tentang seberapa banyak yang dilakukan, tetapi tentang seberapa tulus amanah itu dijaga.
Dalam setiap zakat yang ditunaikan, ada harapan yang disampaikan. Ada beban yang ingin diringankan. Ada kehidupan yang ingin dikuatkan.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Zakat bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan untuk menghadirkan manfaat—bahkan dalam kondisi yang paling sederhana sekalipun.
BAZNAS Kabupaten Minahasa terus berikhtiar membuka ruang kebaikan yang bisa diisi bersama. Tanpa sekat, tanpa batas, tanpa harus mengurangi peran siapa pun.
Karena kebaikan tidak pernah meminta kita menjadi sama, tetapi mengajarkan kita untuk berjalan bersama.
Dengan semangat itu, diharapkan semakin banyak langkah kecil yang bertemu, lalu tumbuh menjadi gerakan besar yang memberi arti bagi sesama.
Pada akhirnya, kebaikan bukan tentang siapa yang paling banyak berbuat, tetapi siapa yang terus bertahan untuk berbuat.
Melalui peran yang diemban, BAZNAS Kabupaten Minahasa akan terus menjaga amanah ini—dengan sederhana, dengan tulus, dan dengan harapan yang tidak pernah padam.
Karena sejatinya… kebaikan tidak selalu hadir dalam gemuruh, sering kali ia tumbuh dalam diam— namun dampaknya mampu menghidupkan banyak harapan.
22/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Malam ke-29 Ramadhan: Silaturahmi Penuh Makna di Masjid Al Hijrah Rinegetan, BAZNAS dan BTM Perkuat Gerakan Kebaikan
Suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan mewarnai malam ke-29 Ramadhan di Sekretariat BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan, usai pelaksanaan sholat tarawih. Pimpinan BAZNAS Minahasa bersilaturahmi bersama jamaah, Tim UPZ, dan pengurus BTM dalam sebuah pertemuan yang sarat makna, refleksi, dan komitmen untuk terus menguatkan gerakan zakat di tengah masyarakat.
Pertemuan yang berlangsung hingga larut malam ini bukan sekadar agenda silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi pendistribusian zakat fitrah, sekaligus memastikan seluruh mustahik telah terdata dan menerima haknya secara tepat.
Di tengah kesibukan umumnya UPZ yang masih berjibaku dengan proses pengumpulan dan penyaluran zakat hingga mendekati hari raya, Tim UPZ Masjid Al Hijrah Rinegetan justru menunjukkan capaian luar biasa.
Di bawah koordinasi BTM dan keimaman masjid, seluruh proses pengumpulan, pendataan, hingga pendistribusian zakat fitrah telah diselesaikan sejak H-3 sebelum Lebaran, dengan data yang akurat dan tepat sasaran.
Hal ini menjadi cerminan nyata dari semangat amanah sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Dalam suasana santai namun penuh makna, diskusi antara BAZNAS Minahasa dan pengurus BTM berlangsung hangat. Berbagai pengalaman lapangan, tantangan, hingga strategi penguatan UPZ ke depan dibahas secara terbuka.
Ketua BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan, Ibrahim Hamid, menegaskan pentingnya menjaga sinergi dan semangat pelayanan umat.
“Kami bersyukur seluruh proses zakat tahun ini bisa diselesaikan lebih awal dengan baik. Ini bukan hanya soal kerja tim, tetapi tentang amanah kepada umat. Ke depan, kami siap terus bersinergi dengan BAZNAS Minahasa untuk memperkuat gerakan zakat agar semakin luas manfaatnya,” ujar Ibrahim Hamid.
Silaturahmi ini sekaligus mempertegas komitmen bersama untuk menjadikan masjid sebagai pusat gerakan kebaikan yang berkelanjutan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Malam itu terasa semakin hangat dengan suasana kebersamaan. Diiringi hidangan sederhana, secangkir kopi, dan makan malam bersama, para jamaah saling berbagi cerita—tentang perjuangan, tentang pelayanan umat, dan tentang harapan ke depan.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan hingga menunjukkan pukul 00.00 WITA. Namun tak ada rasa lelah—yang ada justru ketenangan dan kebahagiaan.
Karena mereka sedang berada di tempat yang paling dicintai Allah.
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid.” (HR. Muslim)
Malam ke-29 menjadi salah satu momen istimewa dalam 10 hari terakhir Ramadhan—waktu di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
Kebersamaan di masjid, diskusi kebaikan, serta memastikan hak mustahik tersalurkan dengan baik adalah bagian dari upaya menghidupkan malam-malam mulia tersebut.
Sebagaimana sabda Rasulullah ?:
“Barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan penting: bahwa kolaborasi antara BAZNAS Minahasa dan BTM Masjid Al Hijrah Rinegetan akan terus diperkuat melalui program-program bersama ke depan.
Dengan semangat kebersamaan, profesionalisme, dan keikhlasan, masjid diharapkan terus menjadi pusat pemberdayaan umat—bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi sepanjang waktu.
Malam ke-29 itu mungkin akan berlalu, namun semangatnya akan tetap hidup.
Dari Masjid Al Hijrah Rinegetan, lahir sebuah pesan sederhana namun kuat:
bahwa kebaikan yang dikerjakan bersama, dengan ikhlas dan terencana, akan selalu menemukan jalannya untuk memberi manfaat yang lebih luas.
“Tunjukkanlah kepada kebaikan, maka engkau akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
19/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
Dua hari lagi…
Ramadhan akan pergi.
Tanpa pamit. Tanpa notifikasi. Tanpa “last warning”.
Tiba-tiba saja… selesai.
Dan yang tersisa bukan lagi suasana. Bukan lagi takbir. Bukan lagi tarawih.
Yang tersisa hanyalah satu hal:
Amal kita.
Saat Semua Akan Ditanya… Termasuk Jempol Kita
Allah ? berfirman:
“Pada hari itu, Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka berbicara kepada Kami, serta kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)
Hari itu akan datang…
Hari di mana:
Mulut tidak bisa beralasan
Lidah tidak bisa berdalih
Tapi… tangan kita berbicara
Termasuk jempol kita.
Jempol yang setiap hari:
Scroll tanpa arah
Like tanpa pikir
Comment tanpa batas
Share tanpa sadar
Pertanyaannya…
Apa yang akan disampaikan jempol kita di hadapan Allah nanti?
Ramadhan: Bukan Tentang Awal… Tapi Akhir
Rasulullah ? bersabda:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Artinya…
Yang menentukan bukan seberapa semangat kita di awal Ramadhan… Tapi bagaimana kita menutupnya.
Hari ini…
Sebagian orang justru sibuk dengan:
Baju lebaran
Kue lebaran
TikTok lebaran
Konten hiburan tanpa batas
Ramadhan belum selesai… Tapi hati kita sudah “keluar” lebih dulu.
Zaman Berubah… Tapi Catatan Amal Tetap Berjalan
Dulu…
Orang berdosa harus pergi ke tempat maksiat.
Sekarang?
Maksiat bisa datang ke genggaman.
Dan lebih dahsyat lagi…
Sekali kita klik “share”… Kita tidak hanya berdosa sendiri.
Kita bisa “menggandakan dosa”.
Rasulullah ? bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya…” (HR. Muslim)
Bayangkan ini…
Satu video yang tidak pantas… Kita share…
Ditonton 1.000 orang… Dari 1.000 itu, 100 share lagi…
Dan dosa itu terus hidup…
Bahkan… saat kita sudah di dalam kubur.
Tapi Jangan Putus Asa… Karena Kebaikan Juga Bisa Viral
Allah Maha Adil.
Sebagaimana dosa bisa menyebar… pahala juga bisa mengalir tanpa henti.
Rasulullah ? bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Bayangkan sebaliknya…
Kita share satu ayat
Seseorang tersentuh
Ia mulai shalat
Ia ajak keluarganya
Anaknya menjadi shalih
Dan semua itu…
mengalir ke kita… tanpa kita sadari.
Kisah Nyata: Dari Status Biasa, Hidayah Luar Biasa
Ada seseorang… bukan ustadz… bukan tokoh terkenal…
Ia hanya rutin setiap hari posting satu ayat Al-Qur’an.
Tidak banyak like. Tidak viral.
Suatu hari… seseorang menghubunginya:
"Saya berubah karena status Anda… saya kembali shalat setelah lama meninggalkannya."
Allahu Akbar…
Yang kecil di mata kita… Bisa jadi besar di sisi Allah.
Like, Comment, Subscribe: Amal atau Masalah?
Hari ini kita terbiasa mendengar:
???? “Like, comment, dan subscribe…”
Tapi jarang kita sadar…
Setiap klik itu dicatat.
Like → dukungan
Comment → pernyataan
Share → penyebaran
Pertanyaannya sederhana:
Apa yang kita dukung selama ini?
Kebaikan… atau keburukan?
2 Hari Terakhir: Jangan Jadi Orang yang Rugi
Rasulullah ? bersabda:
“Sungguh merugi seseorang yang bertemu Ramadhan, lalu tidak diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi)
Ini bukan ancaman biasa.
Ini peringatan keras.
Karena Ramadhan adalah:
Bulan ampunan
Bulan pahala dilipatgandakan
Bulan pintu surga dibuka
Kalau di bulan ini saja kita tidak berubah…
Lalu kapan lagi?
Coba Jujur… Ini Pertanyaan untuk Kita Semua
Hari ini…
Berapa lama kita pegang HP?
Dan dari waktu itu:
Berapa menit untuk Al-Qur’an?
Berapa menit untuk dzikir?
Berapa menit untuk kebaikan?
Dan…
Berapa jam untuk hal yang tidak bermanfaat?
Gerakan Sederhana Tapi Dahsyat
Tidak perlu jadi ustadz. Tidak perlu jadi orang besar.
Mulai dari sini:
- Share 1 ayat setiap hari- Sebarkan 1 kebaikan- Stop konten negatif- Dukung dakwah dengan jempol
Karena hari ini…
Jempol lebih cepat dari lisan. Dan jangkauannya lebih luas dari langkah kaki.
Bayangan yang Tidak Bisa Kita Hindari
Bayangkan…
Di hari kiamat nanti…
Kita melihat pahala besar…
Kita bertanya:
"Ya Allah… dari mana ini?"
Dan Allah menjawab:
"Dari apa yang kamu sebarkan… yang kamu sudah lupa."
Penutup: Ini Mungkin Ramadhan Terakhir Kita
Dua hari lagi…
Ramadhan pergi.
Dan mungkin…
Ini Ramadhan terakhir kita.
Tidak ada yang tahu.
Maka sebelum ia benar-benar hilang…
Perbaiki:
Shalat kita
Hati kita
Dan… jejak digital kita
Karena jejak itu tidak hilang.
Ia akan menjadi:
- Saksi yang meringankan… atau- Saksi yang memberatkan
Jangan biarkan Ramadhan pergi… tanpa perubahan.
Karena yang kita bawa nanti…
Bukan HP kita… Bukan followers kita…
Tapi:
Apa yang kita lakukan dengan semuanya itu.
Allahu Akbar…
Semoga kita termasuk orang yang:
Diampuni dosanya
Diterima amalnya
Dan menjadi bagian dari penyebar kebaikan… di dunia nyata maupun digital
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
18/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa



