WhatsApp Icon
banner
banner
banner

Berita Terkini

BAZNAS Bangun Kelas Darurat di Gaza, Jaga Asa Pendidikan Anak Palestina di Tengah Krisis
BAZNAS Bangun Kelas Darurat di Gaza, Jaga Asa Pendidikan Anak Palestina di Tengah Krisis
Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan global. Kali ini, Badan Amil Zakat Nasional membangun tujuh tenda kelas darurat bagi anak-anak di Beit Lahia, Gaza Utara, Palestina. Langkah ini dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan akses pendidikan meskipun berada di tengah situasi krisis kemanusiaan yang belum mereda. Tenda-tenda tersebut difungsikan sebagai ruang belajar sementara yang dilengkapi meja dan kursi. Fasilitas ini diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan layak bagi anak-anak Gaza. Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid menegaskan, pendidikan tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun, termasuk saat bencana dan konflik. “Kami ingin anak-anak di Gaza tetap memiliki ruang belajar yang aman dan layak. Tenda kelas darurat ini diharapkan membantu mereka melanjutkan kegiatan belajar meskipun berada di tengah situasi yang sulit,” ujar Sodik dalam keterangannya, Jumat (20/3/2026). Menurutnya, pembangunan kelas darurat ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya pemulihan psikososial bagi anak-anak yang terdampak konflik. Tak lupa, BAZNAS juga menyampaikan apresiasi kepada Prabowo Subianto serta masyarakat Indonesia yang terus memberikan dukungan terhadap berbagai program kemanusiaan untuk Palestina. “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang luar biasa. Ini menjadi bukti bahwa kepedulian bangsa Indonesia untuk Palestina terus hidup,” tambahnya. Tampung 100 Anak, Belajar Bergantian Fasilitas kelas darurat ini dirancang mampu menampung hingga 100 anak. Sistem belajar dibagi menjadi dua sesi, dengan masing-masing sesi diikuti sekitar 45 hingga 50 siswa. Selain tenda yang kokoh, sarana pendukung seperti meja dan kursi juga disediakan untuk menunjang kenyamanan proses belajar. Kehadiran fasilitas ini membawa kebahagiaan bagi anak-anak. Salah satunya dirasakan oleh Zeina Al Motawaq (8), siswa sekolah dasar di Gaza. “Kami dulu sangat kesulitan. Kami duduk di lantai saat menulis sampai punggung kami sakit. Sekarang kami sangat bersyukur sudah ada meja dan kursi. Terima kasih masyarakat Indonesia, terima kasih BAZNAS,” ujarnya. Bantuan Kemanusiaan Terus Bergulir Selain pembangunan kelas darurat, BAZNAS juga terus menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina. Mulai dari paket pangan, hidangan berbuka puasa, layanan kesehatan, hingga distribusi air bersih, pakaian, dan selimut. Tak hanya itu, BAZNAS juga membangun berbagai fasilitas darurat lainnya seperti tenda pemukiman, tenda rumah, hingga tenda masjid untuk membantu warga bertahan di tengah kondisi sulit. Ajak Masyarakat Terus Berkontribusi BAZNAS mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan ini melalui program Dompet Solidaritas Palestina. Kontribusi dapat disalurkan melalui: BSI 100.426.6893 a.n. Badan Amil Zakat Nasional Atau melalui laman resmi: baznas.go.id/bantupalestina
21/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Kisah Rojali Bangkit dari Banjir Aceh Tamiang: Dari Korban Jadi Relawan Dapur Umum BAZNAS
Kisah Rojali Bangkit dari Banjir Aceh Tamiang: Dari Korban Jadi Relawan Dapur Umum BAZNAS
Aceh Tamiang – Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada November lalu menyisakan luka mendalam. Rumah hanyut, harta benda lenyap, dan kehidupan berubah seketika. Namun di balik duka itu, muncul kisah keteguhan dari seorang penyintas bernama Muhammad Rojali (44). Melalui program Dapur Umum Hidangan Berkah Ramadan yang diinisiasi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, Rojali tak hanya menjadi penerima bantuan. Ia memilih bangkit—menjadi relawan, memasak untuk sesama korban. “Awalnya saya hanya menerima bantuan makanan, tapi saya tergerak hati untuk ikut membantu memasak. Saya merasa tidak enak kalau hanya menerima saja,” ujar Rojali saat ditemui di tenda pengungsian Desa Lubuk Sidup. Rumah Rojali hanyut tanpa sisa. Kini, ia tinggal di tenda darurat bersama istri dan tiga anaknya. Di tengah keterbatasan itu, dapur umum menjadi tumpuan utama kebutuhan pangan warga. Setiap hari, dapur tersebut mengolah sekitar 50 kilogram beras untuk menyediakan hingga 700 porsi makanan bagi para penyintas. Menariknya, dapur ini tidak dijalankan oleh pihak luar semata, melainkan oleh warga sendiri secara gotong royong—memasak sayur, ikan, hingga menyiapkan takjil berbuka puasa. “Kalau tidak ada program ini, kami kesulitan. Untuk masak daging saja kami belum mampu. Tapi melalui bantuan BAZNAS, kami bisa makan dengan layak dan bergizi,” tutur Rojali. Sekretaris Utama BAZNAS RI, Subhan Cholid, menegaskan bahwa dapur umum ini dirancang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari pemulihan mental masyarakat. “Filosofi zakat adalah memberdayakan. Lewat dapur umum ini, BAZNAS tidak hanya menyalurkan makanan, tetapi juga menciptakan ekosistem gotong royong,” jelas Subhan. Menurutnya, pelibatan langsung para penyintas menjadi kunci untuk membangun kembali rasa percaya diri dan kemandirian kolektif di tengah masa sulit. Bagi Rojali, dapur umum ini bukan sekadar tempat memasak, tetapi ruang untuk bangkit dan menemukan kembali makna kebersamaan. “Kami sangat berterima kasih kepada BAZNAS dan para donatur. Bantuan ini memberi semangat bagi kami untuk terus kuat,” ucapnya. BAZNAS sendiri menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi para penyintas hingga tahap rehabilitasi pascabencana. Kisah Rojali menjadi bukti—bahwa di tengah kehilangan, zakat mampu menggerakkan hati, menumbuhkan solidaritas, dan menghidupkan kembali harapan. Di antara tenda-tenda pengungsian, api dapur umum itu tak hanya memasak makanan—tetapi juga menyalakan semangat untuk bangkit bersama.
21/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Asisten I Setdakab Minahasa Sampaikan Ucapan Idul Fitri 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Pelayanan Publik
Asisten I Setdakab Minahasa Sampaikan Ucapan Idul Fitri 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Pelayanan Publik
Minahasa – Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026 M dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Minahasa untuk memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, dan pelayanan kepada masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Riviva Maringka selaku Asisten I Setdakab Minahasa dalam ucapan resminya. Jumat, 20/3/2026 Dalam keterangannya, Riviva mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik balik untuk mempererat persatuan serta meningkatkan kualitas kehidupan sosial yang harmonis di Kabupaten Minahasa. “Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga momentum suci ini menjadi penguat bagi kita semua untuk terus menjaga persaudaraan, toleransi, dan semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya. Sebagai Asisten I yang membidangi pemerintahan dan kesejahteraan rakyat, Riviva menegaskan pentingnya menjaga stabilitas sosial, ketertiban umum, serta membangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, Idulfitri bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan. “Kita ingin masyarakat Minahasa tetap hidup rukun dalam keberagaman. Nilai saling menghormati harus terus dijaga sebagai fondasi utama dalam pembangunan daerah,” tegasnya. Lebih lanjut, Riviva juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pelayanan publik yang responsif dan humanis, terutama dalam momentum Lebaran yang identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat. Ia mengingatkan seluruh jajaran pemerintah untuk tetap siaga dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Pelayanan publik harus tetap berjalan optimal. Kehadiran pemerintah harus dirasakan, terutama dalam memastikan keamanan, kenyamanan, dan kebutuhan masyarakat selama Idulfitri,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Riviva juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sosial, terutama terhadap kelompok rentan dan masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, semangat berbagi dan solidaritas yang tumbuh di bulan Ramadan harus terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita jadikan Idulfitri sebagai momentum untuk memperkuat empati sosial. Kepedulian terhadap sesama adalah bagian penting dari pembangunan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Menutup pernyataannya, Riviva berharap Idulfitri tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Minahasa dan menjadi energi baru untuk membangun daerah yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing. “Semoga kita semua kembali dalam keadaan fitri, dengan hati yang bersih, serta semangat baru untuk terus berkarya dan mengabdi bagi Minahasa yang lebih baik,” pungkasnya. Momentum Idulfitri 1447 H pun diharapkan tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga penguat nilai persatuan, pelayanan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
21/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa

Artikel Terbaru

“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?”
“2 Hari Lagi Ramadhan Pergi… Tapi Jempolmu Akan Jadi Saksi: Menuju Surga atau Neraka?” Dua hari lagi… Ramadhan akan pergi. Tanpa pamit. Tanpa notifikasi. Tanpa “last warning”. Tiba-tiba saja… selesai. Dan yang tersisa bukan lagi suasana. Bukan lagi takbir. Bukan lagi tarawih. Yang tersisa hanyalah satu hal: Amal kita. Saat Semua Akan Ditanya… Termasuk Jempol Kita Allah ? berfirman: “Pada hari itu, Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka berbicara kepada Kami, serta kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65) Hari itu akan datang… Hari di mana: Mulut tidak bisa beralasan Lidah tidak bisa berdalih Tapi… tangan kita berbicara Termasuk jempol kita. Jempol yang setiap hari: Scroll tanpa arah Like tanpa pikir Comment tanpa batas Share tanpa sadar Pertanyaannya… Apa yang akan disampaikan jempol kita di hadapan Allah nanti? Ramadhan: Bukan Tentang Awal… Tapi Akhir Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari) Artinya… Yang menentukan bukan seberapa semangat kita di awal Ramadhan… Tapi bagaimana kita menutupnya. Hari ini… Sebagian orang justru sibuk dengan: Baju lebaran Kue lebaran TikTok lebaran Konten hiburan tanpa batas Ramadhan belum selesai… Tapi hati kita sudah “keluar” lebih dulu. Zaman Berubah… Tapi Catatan Amal Tetap Berjalan Dulu… Orang berdosa harus pergi ke tempat maksiat. Sekarang? Maksiat bisa datang ke genggaman. Dan lebih dahsyat lagi… Sekali kita klik “share”… Kita tidak hanya berdosa sendiri. Kita bisa “menggandakan dosa”. Rasulullah ? bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengikutinya…” (HR. Muslim) Bayangkan ini… Satu video yang tidak pantas… Kita share… Ditonton 1.000 orang… Dari 1.000 itu, 100 share lagi… Dan dosa itu terus hidup… Bahkan… saat kita sudah di dalam kubur. Tapi Jangan Putus Asa… Karena Kebaikan Juga Bisa Viral Allah Maha Adil. Sebagaimana dosa bisa menyebar… pahala juga bisa mengalir tanpa henti. Rasulullah ? bersabda: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim) Bayangkan sebaliknya… Kita share satu ayat Seseorang tersentuh Ia mulai shalat Ia ajak keluarganya Anaknya menjadi shalih Dan semua itu… mengalir ke kita… tanpa kita sadari. Kisah Nyata: Dari Status Biasa, Hidayah Luar Biasa Ada seseorang… bukan ustadz… bukan tokoh terkenal… Ia hanya rutin setiap hari posting satu ayat Al-Qur’an. Tidak banyak like. Tidak viral. Suatu hari… seseorang menghubunginya: "Saya berubah karena status Anda… saya kembali shalat setelah lama meninggalkannya." Allahu Akbar… Yang kecil di mata kita… Bisa jadi besar di sisi Allah. Like, Comment, Subscribe: Amal atau Masalah? Hari ini kita terbiasa mendengar: ???? “Like, comment, dan subscribe…” Tapi jarang kita sadar… Setiap klik itu dicatat. Like → dukungan Comment → pernyataan Share → penyebaran Pertanyaannya sederhana: Apa yang kita dukung selama ini? Kebaikan… atau keburukan? 2 Hari Terakhir: Jangan Jadi Orang yang Rugi Rasulullah ? bersabda: “Sungguh merugi seseorang yang bertemu Ramadhan, lalu tidak diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi) Ini bukan ancaman biasa. Ini peringatan keras. Karena Ramadhan adalah: Bulan ampunan Bulan pahala dilipatgandakan Bulan pintu surga dibuka Kalau di bulan ini saja kita tidak berubah… Lalu kapan lagi? Coba Jujur… Ini Pertanyaan untuk Kita Semua Hari ini… Berapa lama kita pegang HP? Dan dari waktu itu: Berapa menit untuk Al-Qur’an? Berapa menit untuk dzikir? Berapa menit untuk kebaikan? Dan… Berapa jam untuk hal yang tidak bermanfaat? Gerakan Sederhana Tapi Dahsyat Tidak perlu jadi ustadz. Tidak perlu jadi orang besar. Mulai dari sini: - Share 1 ayat setiap hari- Sebarkan 1 kebaikan- Stop konten negatif- Dukung dakwah dengan jempol Karena hari ini… Jempol lebih cepat dari lisan. Dan jangkauannya lebih luas dari langkah kaki. Bayangan yang Tidak Bisa Kita Hindari Bayangkan… Di hari kiamat nanti… Kita melihat pahala besar… Kita bertanya: "Ya Allah… dari mana ini?" Dan Allah menjawab: "Dari apa yang kamu sebarkan… yang kamu sudah lupa." Penutup: Ini Mungkin Ramadhan Terakhir Kita Dua hari lagi… Ramadhan pergi. Dan mungkin… Ini Ramadhan terakhir kita. Tidak ada yang tahu. Maka sebelum ia benar-benar hilang… Perbaiki: Shalat kita Hati kita Dan… jejak digital kita Karena jejak itu tidak hilang. Ia akan menjadi: - Saksi yang meringankan… atau- Saksi yang memberatkan Jangan biarkan Ramadhan pergi… tanpa perubahan. Karena yang kita bawa nanti… Bukan HP kita… Bukan followers kita… Tapi: Apa yang kita lakukan dengan semuanya itu. Allahu Akbar… Semoga kita termasuk orang yang: Diampuni dosanya Diterima amalnya Dan menjadi bagian dari penyebar kebaikan… di dunia nyata maupun digital Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
18/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Masjid, Zakat, dan UPZ: Meluruskan Kesalahpahaman yang Selama Ini Terjadi di Tengah Umat
Masjid, Zakat, dan UPZ: Meluruskan Kesalahpahaman yang Selama Ini Terjadi di Tengah Umat
Di berbagai daerah di Indonesia, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial umat. Dari masjidlah lahir berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, hingga kepedulian sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan. Salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan adalah pengumpulan zakat, infak, dan sedekah dari jamaah. Setiap memasuki bulan Ramadhan, banyak masjid membuka layanan penerimaan zakat fitrah maupun zakat mal. Jamaah datang dengan penuh kepercayaan menyerahkan zakat mereka kepada pengurus masjid untuk kemudian disalurkan kepada fakir miskin di lingkungan sekitar. Namun di tengah praktik yang sudah berlangsung lama ini, muncul satu perdebatan yang cukup sering terdengar di masyarakat: apakah masjid boleh mengumpulkan zakat tanpa menjadi UPZ atau tanpa memiliki SK dari BAZNAS? Pertanyaan ini sering memunculkan berbagai pendapat. Ada yang mengatakan boleh, ada pula yang berpendapat harus melalui lembaga resmi. Untuk memahami persoalan ini secara jernih, penting melihatnya dari dua perspektif utama: syariat Islam dan sistem pengelolaan zakat di Indonesia. Sejak masa Rasulullah ?, masjid memiliki fungsi yang sangat luas. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat kegiatan sosial, pendidikan, bahkan pengambilan keputusan penting bagi umat. Dalam sejarah Islam, zakat dikelola oleh negara melalui petugas yang ditunjuk secara resmi. Para amil zakat bertugas menghimpun zakat dari kaum muslimin dan menyalurkannya kepada delapan golongan yang berhak menerima (asnaf). Tradisi ini menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga bagian dari sistem sosial yang bertujuan menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Karena itulah, hingga hari ini masjid sering dipercaya masyarakat sebagai tempat yang aman dan amanah untuk menyalurkan zakat. Perspektif Syariat Islam Dalam kajian fiqh Islam, tidak ada ketentuan yang mewajibkan zakat harus disalurkan melalui lembaga tertentu. Selama beberapa prinsip utama terpenuhi, zakat tetap dianggap sah secara syariat, yaitu: Muzaki memenuhi kewajiban zakatnya Zakat disalurkan kepada mustahik yang berhak Pengelola zakat menjalankan amanah dengan jujur Dengan demikian, secara syariat masjid boleh menerima dan menyalurkan zakat, selama pengurusnya amanah dan zakat tersebut benar-benar sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Dalam konteks negara modern seperti Indonesia, pengelolaan zakat juga diatur melalui sistem kelembagaan agar lebih tertib dan terkoordinasi. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, negara menetapkan bahwa pengelolaan zakat secara nasional dikoordinasikan oleh Badan Amil Zakat Nasional. Dalam sistem ini, penghimpunan zakat dilakukan oleh: BAZNAS di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang memiliki izin pemerintah Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang dibentuk oleh BAZNAS UPZ biasanya dibentuk di berbagai institusi seperti kantor pemerintahan, perusahaan, sekolah, hingga masjid. Fungsi UPZ adalah membantu menghimpun zakat dari masyarakat sekaligus menjadi penghubung antara muzaki dan sistem pengelolaan zakat nasional. Mengapa Pembentukan UPZ di Masjid Penting? Masjid yang memiliki UPZ sebenarnya mendapatkan banyak manfaat. Pertama adalah legalitas dan pengakuan resmi sebagai bagian dari sistem pengelolaan zakat nasional. Kedua adalah transparansi dan akuntabilitas, karena pengelolaan zakat dilakukan dengan sistem pelaporan yang jelas. Ketiga adalah penguatan program pemberdayaan umat, karena dana zakat dapat terintegrasi dengan berbagai program sosial seperti bantuan pendidikan, layanan kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Melalui sinergi ini, zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Di tengah masyarakat, terkadang muncul anggapan bahwa jika zakat dikelola melalui BAZNAS atau UPZ, maka peran masjid akan berkurang. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru melalui pembentukan UPZ, peran masjid semakin diperkuat sebagai pusat penghimpunan zakat di lingkungan jamaahnya. Masjid tetap menjadi tempat masyarakat menunaikan zakat, sementara sistem pengelolaan menjadi lebih tertib dan terintegrasi. Sinergi ini penting agar potensi zakat umat yang sangat besar dapat dikelola secara optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Sinergi Masjid dan BAZNAS untuk Kesejahteraan Umat Potensi zakat di Indonesia sangat besar. Jika dikelola dengan baik, zakat dapat menjadi kekuatan sosial yang mampu membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi antara masjid dan Badan Amil Zakat Nasional merupakan langkah strategis untuk memperkuat gerakan zakat nasional. Masjid tetap menjadi pusat ibadah dan kedekatan umat, sementara BAZNAS menghadirkan sistem pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan terstruktur. Ketika keduanya bersinergi, zakat tidak hanya menjadi ibadah individual, tetapi juga menjadi kekuatan besar yang mampu menghadirkan keberkahan dan kesejahteraan bagi umat. Masjid memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kepedulian sosial umat, termasuk dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Secara syariat Islam, masjid boleh menerima dan menyalurkan zakat selama dilakukan dengan amanah dan diberikan kepada mustahik yang berhak. Namun dalam konteks pengelolaan zakat di Indonesia yang sudah memiliki sistem nasional, pembentukan UPZ melalui Badan Amil Zakat Nasional menjadi langkah yang sangat dianjurkan agar pengelolaan zakat berjalan lebih tertib, transparan, dan berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan sinergi antara masjid dan BAZNAS, zakat tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi umat.
16/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Ramadhan di Ujung Waktu: Rasulullah SAW Ingatkan Nilai Amal Ditentukan pada Penutupnya
Ramadhan di Ujung Waktu: Rasulullah SAW Ingatkan Nilai Amal Ditentukan pada Penutupnya
Ramadhan 1447 Hijriah perlahan memasuki penghujungnya. Hari-hari terakhir bulan suci ini terasa begitu cepat berlalu, seakan baru kemarin umat Islam menyambutnya dengan takbir dan doa penuh harap. Kini, waktu seolah berlari meninggalkan kita. Dalam hitungan hari, Ramadhan akan berpamitan, dan umat Islam bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri. Namun bagi seorang mukmin, berakhirnya Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender ibadah. Ia adalah momen refleksi yang sangat mendalam: apakah bulan penuh rahmat ini telah diisi dengan amal terbaik, atau justru berlalu tanpa makna yang berarti? Dalam tradisi Islam, akhir dari sebuah amal memiliki nilai yang sangat menentukan. Rasulullah SAW memberikan pesan yang sangat kuat melalui sebuah hadis sahih: "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seorang hamba dalam ibadah bukan semata-mata pada bagaimana ia memulai, melainkan bagaimana ia menutupnya. Di hari-hari terakhir Ramadhan, Allah SWT justru membuka kesempatan yang lebih besar bagi hamba-Nya untuk memperbaiki diri. Malam-malam terakhir menjadi saat yang paling berharga, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1–3) Inilah sebabnya Rasulullah SAW justru meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim disebutkan: "Apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." Hadis ini menunjukkan bahwa garis finish Ramadhan adalah fase paling menentukan. Para ulama besar memberikan pandangan yang sangat menyejukkan sekaligus memotivasi. Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibn Taymiyyah dalam Majmu’ Al-Fatawa menjelaskan sebuah prinsip penting: "Yang menjadi ukuran adalah sempurnanya penutupan, bukan kurangnya permulaan." Artinya, jika di awal Ramadhan seseorang merasa belum maksimal dalam ibadah, ia masih memiliki kesempatan besar untuk memperbaikinya di akhir. Hal yang sama diingatkan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lath?’if al-Ma’?rif: “Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan telah bertekad untuk pergi dan tidak tersisa darinya kecuali sedikit. Maka siapa yang telah berbuat baik hendaklah ia menyempurnakannya, dan siapa yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia menutupnya dengan yang lebih baik.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa tidak ada kata terlambat selama Ramadhan belum benar-benar berakhir. Ramadhan juga menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Dalam Islam, ibadah tidak hanya berdimensi spiritual kepada Allah, tetapi juga berdimensi sosial kepada sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan." (HR. At-Tirmidzi) Melalui zakat dan sedekah, umat Islam membersihkan hartanya sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi kaum dhuafa. Inilah semangat yang terus digelorakan oleh Badan Amil Zakat Nasional di berbagai daerah, termasuk Badan Amil Zakat Nasional, yang secara konsisten menggerakkan program kepedulian sosial sepanjang Ramadhan. Strategi Mengoptimalkan Hari-Hari Terakhir Ramadhan Agar tidak kehilangan momentum emas ini, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh setiap muslim: Pertama, memperbanyak istighfar dan taubat. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Sisa Ramadhan menjadi kesempatan emas untuk kembali kepada Allah dengan hati yang tulus. Kedua, menyempurnakan zakat dan sedekah. Menunaikan zakat fitrah dan memperbanyak sedekah menjadi bagian penting dari penyempurna ibadah Ramadhan. Ketiga, mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Jika belum mampu mengkhatamkan berkali-kali, maka membaca dengan tadabbur dan memahami maknanya sudah menjadi amal yang sangat mulia. Keempat, meningkatkan kualitas ibadah malam. Qiyamul lail, doa, dan dzikir di malam hari menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Garis Finish Seorang Mukmin Ramadhan sejatinya adalah perjalanan spiritual. Dan seperti seorang pelari yang mempercepat langkahnya menjelang garis akhir, seorang mukmin seharusnya meningkatkan ibadahnya justru di akhir Ramadhan. Karena sesungguhnya, nilai sebuah amal bukan hanya pada awalnya, tetapi pada bagaimana ia diakhiri. Ramadhan mungkin segera meninggalkan kita, tetapi pintu ampunan Allah masih terbuka hingga malam terakhir. Maka jangan biarkan bulan yang penuh berkah ini berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan kita. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum perubahan, menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Karena pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan bukan hanya dirasakan saat Idul Fitri tiba, tetapi ketika hati benar-benar kembali kepada fitrahnya.
16/03/2026 | Humas BAZNAS Minahasa