Tingkatkan Kesejahteraan Umat, Kemenag RI Desak Amil UPZ BAZNAS Perkuat Profesionalisme
10/09/2025 | Penulis: Humas BAZNAS Minahasa
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) Kemenag RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur
Bogor – Zakat kembali ditegaskan sebagai senjata strategis untuk menekan kemiskinan di Indonesia. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, secara lugas mengingatkan para amil Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BAZNAS agar tidak lagi bekerja setengah hati.
“Kerja amil adalah kerja mulia. Tapi jangan berhenti sebatas mengambil zakat. Yang jauh lebih penting adalah memastikan dampaknya sampai ke mustahik, khususnya 24 juta fakir miskin yang masih ada di negeri ini,” kata Waryono saat membuka Rapat Kerja Nasional UPZ BAZNAS di Bogor, Jawa Barat, Selasa, 9 September 2025.
Pernyataan Waryono jelas: zakat bukan sekadar ritual pengumpulan dana, melainkan instrumen perubahan sosial. Namun potensi zakat yang triliunan rupiah itu, hingga kini masih jauh dari optimal. “Realisasi penghimpunan zakat masih rendah. Ini pekerjaan rumah kita semua. Jangan sampai potensi besar hanya berhenti di atas kertas,” ujarnya.
Waryono menekankan, profesionalisme, akuntabilitas, dan transparansi adalah harga mati. Tanpa itu, publik sulit percaya. “Kalau masyarakat percaya, mereka tidak akan ragu menitipkan zakatnya melalui UPZ BAZNAS,” tegasnya.
Ia juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali menekankan bahwa kemerdekaan sejati baru akan hadir bila kemiskinan dihapuskan. “Instrumen itu ada pada kita—zakat, infak, sedekah, bahkan wakaf. Semua harus dikelola serius, jangan ala kadarnya,” kata Waryono.
Lebih jauh, ia mengingatkan kembali sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. “Yang kaya tidak sombong, yang miskin tidak minder. Dan jembatan antara keduanya adalah para amil,” katanya, menegaskan kembali peran vital pengelola zakat.
Rakernas UPZ BAZNAS, menurut Waryono, bukan sekadar ajang seremonial. Forum ini dituntut melahirkan rekomendasi konkret yang benar-benar menyentuh akar masalah. “Indikator keberhasilan kita bukan sekadar laporan kegiatan. Indikator utamanya adalah penurunan angka kemiskinan. Itu komitmen yang harus kita pegang bersama,” ucapnya menutup sambutan.
Pesannya jelas: zakat bukan sekadar ibadah individu, melainkan alat perjuangan sosial. Amil zakat ditantang bekerja lebih profesional, agar dana umat tidak hanya terkumpul, tetapi juga mampu menjadi bahan bakar perubahan menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
Berita Lainnya
Kembali ke Sekolah Bersama BAZNAS, Ribuan Paket Perlengkapan Belajar Disalurkan untuk Siswa Penyintas Banjir di Sumatra
BAZNAS RI Terima Rp80 Juta Bantuan Kemanusiaan dari UPZ KPK untuk Penyintas Banjir Sumatra
BAZNAS Salurkan 13.000 Paket Logistik untuk Penyintas Bencana di Sumatra
BAZNAS Layani Kesehatan Ribuan Penyintas Banjir di Sumatra
Sambut Ramadan, BAZNAS Salurkan Peralatan Ibadah untuk Masjid Terdampak Banjir di Sumatra Barat
BAZNAS Tutup Bootcamp Santripreneur Kuliner 2025, Siapkan Santri Jadi Motor Ekonomi Nasional

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
