WhatsApp Icon

REFLEKSI 24 TAHUN MEMORIAL CONFERENCE PROF. KH. IBRAHIM HOSEN

11/11/2025  |  Penulis: Humas BAZNAS Minahasa

Bagikan:URL telah tercopy
REFLEKSI 24 TAHUN MEMORIAL CONFERENCE PROF. KH. IBRAHIM HOSEN

“24 Tahun Memorial Conference – Refleksi Pemikiran Prof. KH. Ibrahim

Mengenang Warisan Keilmuan Prof. KH. Ibrahim Hosen: Ulama Pembaharu yang Menyatukan Ilmu, Akhlak, dan Moderasi

Jakarta, 10 November 2025, Dengan penuh kekhidmatan dan suasana kekeluargaan yang hangat, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menggelar sebuah acara istimewa bertajuk “24 Tahun Memorial Conference – Refleksi Pemikiran Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML”, yang disiarkan secara langsung melalui Channel YouTube resmi IIQ Jakarta.

Kegiatan ini bukan sekadar mengenang sosok ulama besar, tetapi juga menjadi forum reflektif dan edukatif yang menghidupkan kembali nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan moderasi beragama yang beliau wariskan untuk bangsa dan umat Islam Indonesia.

Hadir dalam acara ini Rektor IIQ Jakarta beserta jajaran, keluarga besar Prof. KH. Ibrahim Hosen, para guru besar, cendekiawan Muslim, serta tokoh nasional yang pernah bersentuhan langsung dengan keilmuan dan keteladanan beliau.
Suasana talk show dibuat santai namun sarat makna, menghadirkan dialog yang mengalir antara generasi ulama masa lalu dan penerusnya hari ini.

Dalam sesi pembuka yang dipandu oleh Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D., suasana hangat langsung terasa.
Beliau mengenang sang ayah, Prof. KH. Ibrahim Hosen, bukan hanya sebagai guru besar fikih dan usul fikih, tetapi juga sebagai sosok ayah yang rendah hati, cerdas, humoris, dan penuh kasih sayang.

“Abah itu bukan hanya guru besar dalam ilmu, tetapi juga guru dalam akhlak. Beliau mendidik dengan kasih, membimbing dengan senyum, dan mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan adab,” tutur Prof. Nadir dengan nada lembut yang menggetarkan hati para hadirin.

Sebagai Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) selama lebih dari dua dekade, Prof. Ibrahim Hosen dikenal luas sebagai ulama pembaharu yang menembus batas mazhab dan zaman.
Beliau tidak hanya menulis dan berfatwa, tetapi juga membuka jalan dialog lintas pemikiran, mempertemukan teks dan konteks, syariat dan kemanusiaan.

Prof. Asrul Niam, Ketua MUI Bidang Fatwa yang kini meneruskan jejak beliau, menegaskan bahwa cara berpikir Prof. Ibrahim Hosen adalah contoh moderasi beragama yang berakar pada keluasan ilmu dan kebijaksanaan hati.

“Apa yang dianggap kontroversial di masa lalu, sejatinya adalah bentuk keluasan ilmu beliau. Beliau mengajarkan bahwa perbedaan adalah rahmat, bukan perpecahan,” ungkap Prof. Asrul Niam di hadapan hadirin dan pemirsa daring.

Salah satu murid sekaligus sahabat beliau, Prof. Dr. Gani Abdullah, yang dikenal sebagai mantan Kepala BPHN dan Hakim Agung, turut berbagi kisah penuh makna.
Ia mengingat masa ketika Prof. Ibrahim Hosen menjadi penguji disertasinya tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Kerajaan Bima.

“Beliau bukan hanya penguji, tapi pembimbing dalam arti sesungguhnya. Dari beliau saya belajar bahwa hukum Islam bukan sekadar teori, tapi jalan hidup menuju keadilan,” kenang Prof. Gani dengan suara bergetar.

Sementara itu, K.H. Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama RI, menegaskan pentingnya menjadikan warisan intelektual Prof. Ibrahim Hosen sebagai sumber inspirasi generasi muda Islam.

“Di tengah derasnya arus perbedaan dan polarisasi, kita perlu belajar dari keteladanan beliau — berpikir terbuka, bersikap lembut, dan menebar rahmat, bukan kebencian,” ujar Lukman Hakim Saifuddin yang juga dikenal sebagai pelopor moderasi beragama.

Turut hadir pula Dr. K.H. Jazil Fawaid, tokoh nasional dan alumni PTIQ, yang mengulas sisi lain Prof. Ibrahim Hosen sebagai pengajar fikih siasah — fikih politik yang menekankan moralitas dalam kekuasaan.

“Abah mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa akhlak akan kehilangan arah, dan agama tanpa cinta akan kehilangan makna,” ucapnya tegas namun penuh kehangatan.

Acara 24 Tahun Memorial Conference ini tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali semangat keilmuan, integritas, dan cinta damai yang pernah ditanamkan Prof. Ibrahim Hosen kepada murid-muridnya.

Dari kisah dan refleksi yang mengalir malam itu, tergambar jelas bahwa beliau bukan sekadar ulama besar, tetapi pelita yang terus menyinari perjalanan keislaman Indonesia — ulama yang memadukan ilmu, akhlak, dan kasih sayang dalam satu kesatuan keindahan.

“Warisan beliau bukan hanya buku dan fatwa, tetapi nilai. Nilai bahwa agama harus membebaskan, bukan menekan. Bahwa cinta dan ilmu harus berjalan beriringan,” tutup Prof. Nadirsyah Hosen dalam kalimat penutup yang penuh makna.

Semoga semangat dan keteladanan Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML, terus hidup di hati umat Islam Indonesia — sebagai cahaya ilmu, akhlak, dan kasih sayang yang menuntun menuju peradaban yang berkeadilan dan penuh rahmat.

Untuk menyimak kisah dan refleksi lengkap para tokoh, tonton tayangan ulangnya di Channel YouTube resmi Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Bagikan:URL telah tercopy

Berita Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat