Jihan Nabillah: Dari Kampus Dakwah Menuju Panggung Google Student Ambassador 2026
24/03/2026 | Penulis: Humas BAZNAS Minahasa
Suara Muda dari Kampus Dakwah yang Siap Membawa Teknologi Lebih Dekat ke Mahasiswa
Di tengah arus percepatan teknologi digital, nama Jihan Nabillah mulai mencuri perhatian sebagai salah satu kandidat Google Student Ambassador 2026 Indonesia. Mahasiswi semester enam dari Universitas KH. Abdul Khalim Mojokerto Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam ini tampil bukan sekadar dengan semangat, tetapi dengan gagasan yang terukur dan pendekatan yang segar.
Dalam video presentasinya yang diunggah melalui kanal YouTube Jihan Nabillah - Kandidat Google Student Ambassador 2026 Indonesia, Jihan menunjukkan satu hal yang jarang dimiliki kandidat lain: kemampuan menjembatani teknologi dengan komunikasi yang membumi.
Menurut Jihan, kekuatan utama Google bukan hanya terletak pada kecanggihan inovasinya, melainkan pada kemampuannya menyederhanakan teknologi agar dapat diakses oleh semua kalangan. Filosofi user-first yang dipegang Google menjadi titik refleksi baginya sebagai mahasiswa komunikasi.
“Teknologi bukan hanya soal inovasi, tapi bagaimana itu bisa dipahami dan dimanfaatkan oleh banyak orang,” ujarnya dalam pemaparannya.
Pandangan ini bukan sekadar teori. Jihan melihat peran Google Student Ambassador sebagai ruang strategis untuk menghadirkan teknologi dalam bahasa yang lebih dekat dengan mahasiswa—tidak kaku, tidak eksklusif, tetapi komunikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Berbeda dari pendekatan seminar konvensional, Jihan menawarkan konsep Tech & Chill yang dirancang lebih santai namun tetap bermakna. Ia memperkenalkan ide kegiatan interaktif bernama Tech-Tactive Mixer, sebuah permainan berbasis mystery dan networking.
Dalam skenario ini, peserta tidak hanya duduk dan mendengar, tetapi terlibat aktif. Mereka harus mengumpulkan potongan cerita, berinteraksi satu sama lain, lalu memanfaatkan teknologi seperti Google Lens dan AI untuk menyelesaikan teka-teki.
Pendekatan ini mencerminkan satu hal penting: teknologi tidak diajarkan, tetapi dialami.
“Mahasiswa tidak merasa sedang belajar, tapi mereka langsung merasakan bagaimana teknologi membantu berpikir dan berkolaborasi,” jelasnya.
Targetnya pun tidak main-main. Jihan menargetkan keterlibatan minimal 100 hingga 150 mahasiswa dalam tahap awal, dengan harapan tercipta efek berantai dalam pemanfaatan teknologi di lingkungan kampus.
Pengalaman Jihan dalam berpikir di luar kebiasaan juga menjadi kekuatan tersendiri. Ia pernah berada dalam situasi genting saat mengikuti kompetisi, di mana produk timnya dinilai kurang praktis untuk diterapkan di lapangan.
Alih-alih mengubah produk yang membutuhkan waktu, Jihan memilih mengubah strategi. Ia memperkuat narasi, membangun ulang cara penyampaian, dan menyesuaikan pendekatan komunikasi agar lebih relevan.
Hasilnya, tim tersebut tidak hanya lolos ke 10 besar, tetapi juga meraih penghargaan sebagai most marketable.
Pengalaman ini menegaskan satu prinsip yang ia pegang: solusi tidak selalu teknis, tetapi sering kali terletak pada cara berpikir dan cara menyampaikan.
Jika terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026, Jihan tidak ingin berhenti pada kegiatan seremonial. Ia menargetkan terbentuknya ekosistem mahasiswa yang aktif memanfaatkan teknologi dalam keseharian mereka.
Program seperti Tech & Chill akan menjadi pintu masuk, dilanjutkan dengan workshop dan komunitas berkelanjutan. Fokusnya jelas: menciptakan mahasiswa yang tidak hanya kreatif, tetapi juga marketable—mampu menggabungkan ide, komunikasi, dan teknologi dalam satu kesatuan.
“Karena ide yang bagus tidak cukup, kalau tidak bisa dikomunikasikan dengan baik,” tegasnya.
Di balik semua gagasan tersebut, Jihan membawa satu pesan yang sederhana namun kuat: teknologi adalah alat, tetapi dampaknya ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.
Dengan latar belakang komunikasi dan pengalaman membangun narasi, ia menawarkan sesuatu yang berbeda—bukan hanya memahami teknologi, tetapi menghidupkannya dalam interaksi nyata.
Dalam peta persaingan Google Student Ambassador 2026, Jihan Nabillah tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia tampil sebagai representasi generasi muda yang siap menjadi penghubung antara inovasi dan manusia.
Dan dari sana, perubahan kecil bisa mulai bergerak.
Berita Lainnya
Tiga Putranya Gugur di Gaza, Ulama Palestina Datangi BAZNAS: “Saya Tetap Mengucapkan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”
10 Mahasiswa Pergunu Sulut Melanjutkan Studi ke UAC, Tiba di Surabaya Disambut Ketua FMS Mojokerto
BAZNAS RI dan KemenPANRB Bahas Penguatan Tata Kelola Zakat Nasional
BAZNAS RI dan ICMI Jajaki Kolaborasi Inovasi Lingkungan hingga Riset Zakat
BAZNAS RI dan Kemendukbangga/BKKBN Perkuat Program ZCD, BAZNAS Minahasa Ikuti Agenda Secara Daring
BAZNAS RI Bahas Kerja Sama Bantuan Kemanusiaan Palestina dengan YPSP
Dari Dapur Umum BAZNAS, Penyintas Gempa NTT Bangkit dan Menguatkan Sesama
BAZNAS Hadir di Muktamar NU ke-35, Salurkan 15 Ribu ZChicken hingga Siagakan Layanan Kesehatan
RSB BAZNAS Hadir untuk Mualaf di Batam, Cek Kesehatan Gratis hingga Bantuan Pangan
Hadiri Pra-Rakornas 2026, BAZNAS Kabupaten Minahasa Siap Perkuat Pengelolaan Muzaki secara Profesional
BAZNAS RI Bersama Kemendiktisaintek Buka Beasiswa Cendekia 2026 di 246 Perguruan Tinggi
Empat Kali Berturut-turut! BAZNAS RI Kembali Raih IHYA 2026
Jihan Nabillah Kokalo, Putri Minahasa yang Tembus Kementerian Pariwisata dengan Nilai Evaluasi 97
BAZNAS RI Salurkan 500 Paket Logistik untuk Penyintas Gempa NTT
BAZNAS RI–Urais Kemenag Perkuat UPZ Masjid, Dorong Digitalisasi Pengelolaan ZIS

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Minahasa.
Lihat Daftar Rekening →