WhatsApp Icon

Renungan Ramadan 2026- Orang-orang yang Bersedekah

28/02/2026  |  Penulis: Dr. Omar Shakir Al-Kubaisy

Bagikan:URL telah tercopy
Renungan Ramadan 2026- Orang-orang yang Bersedekah

Renungan Ramadan 2026- Orang-orang yang Bersedekah

Sedekah bukan sekadar memindahkan harta dari satu tangan ke tangan lain, dan bukan pula sekadar tindakan lahiriah atau formalitas kedermawanan. Sedekah adalah transformasi sadar dalam makna harta dan kepemilikan: dari sekadar memiliki dan menikmati menuju cakrawala ibadah dan ketaatan kepada Allah. Sedekah bisa bersifat wajib seperti zakat, dan bisa pula bersifat sukarela seperti bentuk sedekah lainnya.

Dalam timbangan syariat, sedekah tidak diukur dari jumlahnya, melainkan dari kedudukannya di dalam hati. Yang menjadi ukuran bukan apa yang keluar dari tangan, melainkan apa yang keluar dari jiwa. Allah Ta‘ala berfirman:

“Apa saja harta yang kamu infakkan, maka itu adalah untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak kecuali karena mengharap keridaan Allah. Apa saja yang kamu infakkan berupa kebaikan, niscaya akan dibalas dengan sempurna kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”

(QS. Al-Baqarah 2:272)

Dan Allah berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menenteramkan jiwa mereka.”

(QS. At-Taubah 9:103)

Dengan demikian, sedekah adalah penyucian dari sifat kikir jiwa dan sarana untuk menata kembali hubungan seorang hamba dengan hartanya. Harta tidak lagi menguasai hati, dan nikmat tidak berubah menjadi belenggu atau fitnah. Inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah ? ketika beliau bersabda:

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba kain sutra, celakalah hamba beludru. Jika diberi, ia ridha; dan jika tidak diberi, ia murka.”

Dari sini menjadi jelas bahwa orang yang benar-benar bersedekah adalah mereka yang tulus dalam cintanya kepada Rabb-nya, dan membuktikan ketulusan itu melalui infak yang wajib maupun yang sunnah. Ia tidak menilai sedekahnya semata-mata dari besarnya jumlah yang diberikan, melainkan dari keluasan cakrawala pemberiannya. Ia melampaui batas minimal kewajiban menuju seluruh ladang kebaikan, dan menjadikan hartanya sebagai bagian yang dikenal bagi orang lain, baik sedikit maupun banyak.

Inilah makna hidayah dan keberuntungan yang ditegaskan Al-Qur’an ketika Allah berfirman:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Baqarah 2:2–5)

Allah juga memberikan kepada orang yang bersedekah kemuliaan tersembunyi yang tidak terlihat oleh manusia: Dia menugaskan para malaikat yang setiap pagi mendoakannya. Sebagaimana diriwayatkan secara sahih dari Nabi ?:

“Tidaklah suatu hari berlalu ketika para hamba Allah memasuki waktu pagi, melainkan turun dua malaikat. Salah satu dari keduanya berkata:

‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’

Dan yang lain berkata:

‘Ya Allah, binasakanlah orang yang menahan (hartanya).’”

Pada bulan Ramadan, makna sedekah menjadi semakin kuat. Orang yang berpuasa merasakan langsung arti kebutuhan, mencicipi rasa kekurangan, dan merasakan keadaan orang-orang miskin. Oleh karena itu, Rasulullah ? adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya mencapai puncaknya di bulan Ramadan ketika Jibril ???? ?????? menemuinya dan mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. Pada saat itu, Rasulullah ? lebih dermawan daripada angin yang berhembus bebas.

Untuk menyempurnakan makna ini, Nabi ? juga menganjurkan memberi makan orang yang berpuasa, meskipun dengan sesuatu yang sederhana. Beliau bersabda:

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”

Karena itu, orang-orang yang bersedekah sepanjang sejarah menjadi pelopor dalam memberi, dan menjadi kunci tersalurnya rezeki bagi orang lain. Allah menuliskan bagi mereka sebutan yang baik di bumi dan penerimaan di langit. Sebab, nilai sedekah bukan terletak pada banyaknya yang diberikan, melainkan pada kejujuran dan ketulusan dalam memberi.

Berbahagialah orang yang menjadikan hartanya sebagai jalan untuk penyucian jiwanya, dan berbahagialah orang yang sedekahnya menjadi saksi atas arah dan tujuan hidupnya menuju Allah.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Minahasa.

Lihat Daftar Rekening →