Dari Ciputat ke Melbourne: Jejak Intelektual Prof. Nadirsyah Hosen, Santri Indonesia yang Mendunia
11/11/2025 | Penulis: Humas BAZNAS Minahasa
Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D.
Melbourne, Australia — Di ruang-ruang kuliah bergengsi Universitas Melbourne, Australia, nama Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D. begitu dihormati. Ia bukan sekadar dosen, tapi simbol dari keberanian intelektual seorang santri Indonesia menembus dunia akademik internasional.
Perjalanan panjang itu bermula dari lorong-lorong kampus IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat—kini UIN Jakarta—tempat di mana Gus Nadir menimba ilmu, berdiskusi, dan menanamkan tradisi berpikir kritis yang kelak membawanya menjadi Profesor Hukum di Melbourne Law School, fakultas hukum terbaik di Australia dan peringkat sepuluh besar dunia.
Melalui wawancara dalam program Podcast Alumni Bicara, yang dipandu oleh Ace Hasan Syadzily, Ketua Umum Ikatan Alumni UIN Jakarta, Gus Nadir membuka kisahnya dengan rendah hati: sebuah perjalanan dari Ciputat yang sederhana hingga menjadi sosok ilmuwan Muslim yang berpengaruh di kancah global.
Gus Nadir tumbuh dalam keluarga yang lekat dengan tradisi ilmu dan agama. Ayahnya, Prof. H. Ibrahim Hosen, MA, adalah ulama besar dan pakar hukum Islam yang dikenal luas. Dari sang ayah, ia belajar kebebasan berpikir, disiplin intelektual, dan keberanian berdialog dengan siapa pun.
“Abah membebaskan saya ikut kelompok studi mana pun, asal bertanggung jawab. Dari situ saya belajar berdialog dengan siapa saja tanpa kehilangan jati diri,” kenang Gus Nadir.
Semasa kuliah di Fakultas Syariah IAIN Jakarta, jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH), Gus Nadir aktif dalam berbagai forum diskusi ilmiah. Forum-forum seperti MSI (Mahasiswa Studi Islam), Formasi, dan Flamboyan menjadi tempat lahirnya tradisi berpikir terbuka dan progresif di kalangan mahasiswa Ciputat.
“Diskusi kami bisa sampai tengah malam. Kadang topiknya melompat dari fikih ke hermeneutika, dari teologi ke filsafat Barat. Kami menyebutnya ‘The First University’ — tempat kami belajar tidak hanya dari dosen, tapi dari perdebatan dan keberagaman pikiran,” ujarnya tersenyum.
Tradisi intelektual semacam itulah yang menumbuhkan keberanian berpikir lintas batas dalam diri Gus Nadir. Ia tidak ingin berhenti hanya sebagai penghafal teks, tetapi sebagai pencipta makna baru dalam tradisi keilmuan Islam.
Kebanyakan lulusan Fakultas Syariah kala itu melanjutkan studi ke Timur Tengah. Namun Gus Nadir justru mengambil jalur berbeda: ia ingin menjembatani hukum Islam dengan hukum positif. Karena itu, selain kuliah di IAIN, ia juga menempuh kuliah sore di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
“Saya ingin menunjukkan bahwa hukum Islam bisa berdialog dengan hukum modern. Jangan sampai hukum Islam terisolasi di menara gading,” ujarnya.
Dari situlah langkah internasionalnya dimulai. Ia meraih beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri — pertama di Australia, lalu di Singapura. Hebatnya, Gus Nadir menulis dua disertasi doktoral di dua negara berbeda: satu tentang hukum Islam, satu lagi tentang hukum tata negara.
“Itu masa yang berat, tapi saya menikmati prosesnya. Saya merasa sedang menjalankan misi: mempertemukan dua dunia hukum dalam satu jembatan keilmuan.”
Kini, Gus Nadir tercatat sebagai dosen pertama asal Indonesia yang mengajar Hukum Konstitusi Australia di universitas setingkat dunia. Ia mengajar mahasiswa internasional dengan sudut pandang khas Indonesia—penuh nilai, tradisi, dan kearifan sosial.
“Pasal yang dibahas bisa sama,” katanya, “tapi cara kita memaknainya berbeda. Pengalaman Indonesia dalam demokrasi dan pluralisme justru menjadi bahan refleksi menarik di kelas.”
Perjalanan Gus Nadir di Australia tidak selalu mudah. Namun justru keunikan latar belakangnya membuat universitas tertarik menerimanya.
“Saya pernah bertanya kepada dekan yang menerima saya di University of Wollongong. Saya bilang, ‘Kenapa saya diterima, padahal saya belum punya pengalaman di sistem hukum Australia?’ Beliau menjawab, ‘Kami butuh perspektifmu. Mahasiswa kami perlu belajar melihat hukum dari cara berpikir dunia Islam.’”
Pengakuan itu membuktikan bahwa ilmu tidak mengenal batas geografis. Ilmuwan yang berani berpikir berbeda justru akan membuka jalan baru dalam dunia pengetahuan.
Karena itu, di Melbourne Law School, Gus Nadir tidak hanya mengajar hukum Australia, tapi juga berhasil memperkenalkan mata kuliah baru berjudul “Islamic Law and Society.”
Mata kuliah ini disetujui oleh dekan dan tim akademik, menjadikannya kuliah pertama tentang hukum Islam di universitas hukum terbaik di Australia.
“Saya ingin mahasiswa Barat melihat hukum Islam bukan dari kacamata orientalis, tapi dari sumber aslinya—dari orang Islam sendiri.”
Selain mengajar, Gus Nadir dikenal aktif menulis dan berdialog di ruang publik. Ia menulis banyak artikel dan buku yang membumikan Islam dengan bahasa yang ramah dan ilmiah.
Salah satu karyanya yang populer adalah “Kiai Ujang di Negeri Kanguru”, buku yang mengangkat kisah fiksi santri Indonesia di Australia dengan balutan nilai-nilai fikih yang relevan.
“Saya ingin orang belajar fikih tanpa merasa digurui. Buku itu memang membahas hukum Islam yang berat, tapi dikemas dengan cerita ringan dan penuh humor,” katanya.
Buku lainnya seperti “Islam Yes, Khilafah No” menjadi bacaan wajib bagi banyak kalangan karena membongkar sejarah panjang gagasan khilafah dan memaparkan Islam dalam konteks kebangsaan. Buku tersebut bahkan mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional, termasuk Ibu Megawati Soekarnoputri.
Namun bagi Gus Nadir, karya terbesarnya bukan hanya dalam bentuk buku, melainkan dalam komitmen untuk menjaga ruang publik digital dari misinformasi agama.
“Kalau para ulama dan cendekiawan menjauh dari media sosial, ruang itu akan diisi oleh orang-orang tanpa sanad keilmuan yang jelas. Karena itu, saya hadir di sana—untuk berdialog, bukan berdebat.”
Sebagai ahli hukum, Gus Nadir tetap mencermati kondisi tanah air. Ia menilai bahwa reformasi hukum di Indonesia telah membawa kemajuan secara formal—terlihat dari lahirnya lembaga-lembaga seperti Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Yudisial (KY), dan KPK. Namun, ia juga menyoroti bahwa di tataran substantif, praktik hukum masih perlu perbaikan.
“Kita sudah berhasil mengubah konstitusi, tapi perilaku koruptif dan abuse of power masih bercokol. Seperti kata Prof. Mahfud MD, korupsi sekarang lebih sopistikated, lebih halus, tapi tetap merusak.”
Baginya, perubahan hukum bukan hanya soal lembaga, tetapi juga soal mentalitas dan etika publik. Ia percaya bahwa santri dan akademisi harus turut berperan memperkuat nilai keadilan dalam sistem demokrasi Indonesia.
Di luar kesibukan akademik, Gus Nadir tetap aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Ia menjadi salah satu pendiri Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI NU) Australia dan Selandia Baru serta menjabat sebagai Rois Syuriah selama 17 tahun.
“Saya ingin menunjukkan bahwa santri juga bisa mendunia tanpa kehilangan akar tradisinya. Nilai-nilai NU seperti tawassuth, tawazun, dan tasamuh justru sangat dibutuhkan di dunia global saat ini.”
Lewat kiprahnya, Gus Nadir membawa wajah Islam Indonesia ke ruang dialog internasional — Islam yang ramah, ilmiah, dan berkemajuan.
Di akhir perbincangan dengan Ace Hasan Syadzily, Gus Nadir menyampaikan pesan mendalam bagi mahasiswa dan santri di seluruh Indonesia.
“Jangan berhenti belajar, jangan takut berbeda, dan tetap hormat pada tradisi. Dari sanalah lahir keberanian untuk berinovasi dan berpikir lintas batas.”
Ace Hasan menutup podcast dengan refleksi bahwa kisah Gus Nadir adalah simbol nyata dari harmoni antara iman, ilmu, dan keterbukaan.
“Dari Ciputat hingga Melbourne, Gus Nadir membuktikan bahwa tradisi pesantren bisa menjadi pondasi kokoh untuk menembus dunia akademik internasional,” ujar Ace.
Kisah Prof. Nadirsyah Hosen bukan sekadar perjalanan karier seorang akademisi. Ini adalah cerita tentang keyakinan bahwa ilmu adalah ibadah, dan berpikir kritis adalah bagian dari dzikir.
Dari ruang kuliah Fakultas Syariah IAIN Jakarta hingga ruang dosen di Melbourne Law School, jejaknya menegaskan satu hal:
Bahwa santri Indonesia mampu berdiri sejajar di kancah dunia, tanpa melepaskan akar keislaman dan kebangsaan.
Dan di balik pecinya yang selalu menempel di kepala, tersimpan pesan abadi bagi generasi muda:
“Berpikirlah global, tapi jangan pernah lupa dari mana kamu berasal.”
Berita Lainnya
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Dorong Regulasi BAZNAS Diperkuat, Zakat Diusulkan Jadi Pengurang Pajak
Maybank Indonesia Finance Gandeng BAZNAS Salurkan Rp340 Juta untuk Penyediaan Air Bersih
BAZNAS Terima Dana CSR Mitsui Leasing untuk Perkuat Respons Bencana di Sumatra
Silaturahmi BPJS Ketenagakerjaan Minahasa ke BAZNAS Minahasa, Dorong Perlindungan Pekerja Mustahik
BAZNAS RI Terima Rp80 Juta Bantuan Kemanusiaan dari UPZ KPK untuk Penyintas Banjir Sumatra
BAZNAS Sukses Berdayakan Pedagang Kantin di Bukittinggi, Omzet Tembus Rp40 Juta per Bulan

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
