“Antara Imsak dan Subuh: Di Mana Sebenarnya Awal Puasa Dimulai?”
20/02/2026 | Penulis: Humas BAZNAS Minahasa
“Antara Imsak dan Subuh: Di Mana Sebenarnya Awal Puasa Dimulai?”
Ramadhan selalu datang membawa suasana yang khas. Selain gema tilawah dan cahaya lampu masjid yang tak pernah padam hingga larut malam, ada satu tradisi yang begitu lekat dalam ingatan kolektif umat Islam di Indonesia: berkumandangnya seruan “Imsak” menjelang fajar.
Di banyak kampung hingga kota besar, suara itu menjadi alarm spiritual. Sendok terakhir segera diletakkan. Gelas air diteguk perlahan. Suasana sahur yang semula riuh berubah hening dan khusyuk. Namun setiap tahun, diskusi yang sama kembali muncul: apakah waktu imsak benar-benar batas akhir makan sahur?
Jika merujuk pada ketentuan syariat, batas dimulainya puasa bukanlah waktu imsak, melainkan terbitnya fajar shadiq, yaitu fajar kedua yang menandai masuknya waktu Subuh.
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…” (QS. Al-Baqarah: 187)
Para ulama klasik menegaskan hal tersebut:
Imam Al-Mawardi dalam Iqna’ menyebutkan bahwa waktu puasa adalah sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Musthafa al-Khin dalam Al-Fiqh al-Manhaji mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari pembatal sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari disertai niat.
Artinya, secara hukum fiqih, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga benar-benar masuk waktu Subuh, bukan ketika imsak diumumkan.
Penjelasan serupa juga banyak dikupas dalam kajian-kajian fikih Ramadhan oleh media dan lembaga Islam terpercaya seperti NU Online dan Rumaysho, yang menegaskan bahwa imsak bukan batas syar’i, melainkan bentuk kehati-hatian.
Mengapa Ada Jadwal Imsakiyah?
Lalu, mengapa di Indonesia ada jadwal imsakiyah yang biasanya ditetapkan sekitar 10 menit sebelum Subuh?
Di sinilah kearifan ulama Nusantara berbicara.
Waktu imsak bukanlah hukum wajib, melainkan ihtiyath (langkah kehati-hatian). Tujuannya:
- Menghindari keraguan apakah fajar sudah terbit atau belum.
- Memberi jeda agar umat tidak terburu-buru menyelesaikan sahur.
- Menjaga kesempurnaan ibadah puasa.
Tradisi ini tidak ditemukan di semua negara Muslim. Ia tumbuh dari kultur religius masyarakat Indonesia yang sangat menghormati nasihat ulama. Para alim kita memandang umat dengan kasih sayang—yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah—agar ibadah tidak rusak karena ketidaktahuan atau kelalaian.
Imsak adalah “lampu kuning” spiritual. Ia bukan palang pintu, melainkan pengingat.
Antara Fiqih dan Kebijaksanaan
Secara syariat, batas makan sahur adalah azan Subuh atau terbitnya fajar shadiq. Namun mengikuti jadwal imsak merupakan pilihan bijak untuk menjaga ketenangan hati.
Karena hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menata disiplin dan ketundukan.
Ramadhan mengajarkan ketepatan waktu, kesadaran, dan kejujuran pada diri sendiri. Ketika seseorang berhenti makan saat imsak sebagai bentuk kehati-hatian, itu adalah ekspresi ketakwaan. Namun ketika ia masih makan sebelum azan Subuh dengan keyakinan waktu belum masuk, itu pun sah secara fiqih.
Yang terpenting adalah ilmu, bukan sekadar kebiasaan.
Sahur: Momen Berkah yang Jangan Disia-siakan
Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Maka jadikan waktu sahur sebagai ruang doa, bukan hanya ruang makan.
Tenang. Terjadwal. Tidak tergesa-gesa.
Karena puasa yang dimulai dengan kesadaran akan lebih ringan dijalani hingga magrib tiba.
Ramadhan adalah bulan ibadah dan juga bulan kepedulian sosial.
Mari sempurnakan ibadah dengan memperkuat solidaritas:
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Minahasa.
Tunaikan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Perkuat kepedulian sosial melalui ZIS DSKL di BAZNAS Kabupaten Minahasa .
Bayar zakat dan fidyah secara digital melalui:
https://kabminahasa.baznas.go.id/bayarzakat
Hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kabupaten Minahasa:
0823 3275 5860
Kunjungi juga:
https://kabminahasa.baznas.go.id/
Ramadhan bukan hanya tentang kapan kita berhenti makan.
Ia tentang kapan kita mulai lebih taat, lebih peduli, dan lebih sadar.
Jadikan imsak sebagai pengingat.
Jadikan Subuh sebagai saksi.
Dan jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik menuju takwa yang lebih nyata.
#RamadanPenuhBerkah
#NiatPuasaRamadan
#Imsak
#KeutamaanRamadan
Berita Lainnya
Asisten I Setdakab Minahasa Sampaikan Ucapan Idul Fitri 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Pelayanan Publik
BAZNAS Minahasa Kolaborasi dengan UPZ Masjid, Salurkan Beras Zakat di Rinegetan Tondano
Malam ke-29 Ramadhan, Imam Masjid Al Hijrah Tondano Ingatkan: Zakat Fitrah Bukan Tradisi
BAZNAS Bangun Kelas Darurat di Gaza, Jaga Asa Pendidikan Anak Palestina di Tengah Krisis
Jelang Lebaran, BAZNAS Gandeng The Park Sawangan Santuni Anak Yatim dan Dhuafa
BAZNAS Bandar Lampung & Wali Kota Salurkan Berkah Ramadhan untuk 800 Petugas Kebersihan
Di Balik Layanan Zakat, Ada Kepedulian Sunyi yang Menguatkan BAZNAS Minahasa
Pimpinan Wilayah Pergunu Sulawesi Utara Sampaikan Pesan Idul Fitri 1447 H: Momentum Kembali ke Fitrah dan Menguatkan Perjuangan Pendidikan
BAZNAS Minahasa Salurkan Beras Zakat di Desa Tikela, Hadirkan Kebahagiaan di Wilayah Perkebunan
Pos Mudik BAZNAS Hadir di Tasikmalaya, Pemudik Bisa Istirahat, Pijat Gratis hingga Dapat Takjil
BAZNAS Riau Santuni 213 Anak Yatim di Pekanbaru, Buka Puasa Penuh Haru Jelang Lebaran
Wabup Minahasa Tekankan Nilai Fitrah dan Kerukunan dalam Momentum Idul Fitri 1447 H/2026
Harmoni Lintas Iman di Tondano: Gereja Advent dan Masjid Al Hijrah Bersatu Tebar Kebaikan di Bulan Suci
Tsamara Amany Ajak Gen Z Salurkan ZIS Lewat BAZNAS: “Anak Muda Punya Daya Besar untuk Ubah Negeri!”
BAZNAS Punya “Peta Besar” Hadapi Disinformasi Global, Pakar: Tinggal Perkuat Tim!

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Minahasa.
Lihat Daftar Rekening →