Berita Terbaru
211 Ribu Pouch Daging Dam Siap Dibagikan, Menag: Hari Bersejarah
Jakarta – Sebuah babak baru dalam pengelolaan ibadah haji dan pemberdayaan umat resmi dimulai. 211.075 pouch daging Dam hasil haji tahun 2025 akan segera mengalir ke meja makan 42.215 mustahik di tujuh provinsi Indonesia.
Bukan sekadar angka, program ini menghadirkan jawaban atas dilema panjang jamaah haji Indonesia: bagaimana kewajiban Dam bisa dijalankan tanpa sekadar berhenti di Tanah Suci, tetapi memberi manfaat nyata bagi masyarakat tanah air.
“Hari ini bersejarah. Kita melaunching sesuatu yang belum ada sebelumnya secara formal. Ini prestasi BAZNAS. Terima kasih atas kerja samanya yang cepat dan bagus. Semoga ini jadi role model ke depan,” ujar Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., saat penyaluran simbolis di Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Senin (8/9/2025).
Dari Jamaah Haji untuk Negeri
Mayoritas jamaah haji Indonesia melaksanakan haji Tamattu’, sehingga Dam menjadi kewajiban. Selama ini, pelaksanaannya sering menimbulkan dilema: diurus di luar negeri, manfaatnya pun jauh dari masyarakat Indonesia. Kini, paradigma itu diputar balik.
Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., menyebut langkah ini sebagai terobosan besar. “Dam bisa disembelih di Indonesia dan kemudian dibagikan untuk masyarakat kita, terutama di daerah 3T. Inilah wujud nyata ibadah yang berdampak langsung pada kesejahteraan umat,” katanya.
Capaian awal pun mengejutkan. Target yang semula hanya menyasar ribuan jamaah, kini melonjak 211 persen. Dari perkiraan 4.000 Dam, terkumpul lebih dari 8.400 Dam. Angka ini menjadi bukti bahwa jamaah percaya pada profesionalitas dan transparansi BAZNAS.
Tak hanya berdampak sosial, pengelolaan Dam kali ini juga dijalankan dengan prinsip 3 Aman: Aman Syari, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Semua proses pengadaan hingga distribusi dilakukan terbuka, sesuai syariat, dan taat aturan.
“Kami pastikan semua sesuai regulasi, lelang terbuka, hingga konsultasi dengan Irjen. Ini tidak hanya soal ibadah, tapi juga soal kepercayaan publik,” tegas Noor.
Bayangkan, jika ke depan 200 ribu kambing Dam disembelih di Indonesia, itu berarti 240 juta kaleng daging bisa dibagikan ke masyarakat. Sebuah potensi raksasa yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menguatkan fondasi gizi dan kesehatan bangsa.
Program distribusi daging Dam ini bukan sekadar inovasi administratif. Ia adalah simbol: ibadah haji yang ditunaikan di Tanah Suci, kini kembali pulang dalam bentuk kebermanfaatan nyata untuk masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari Dam untuk umat, dari ibadah untuk kesejahteraan. Hari bersejarah ini menandai awal zaman baru pengelolaan zakat dan kurban di Indonesia: transparan, berdampak, dan membangun jembatan antara ritual dan realitas.
BERITA10/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI Gelar Rakernas UPZ 2025: Perkuat Tata Kelola, Tantang Amil Buktikan Dampak Nyata
Bogor – Zakat kembali digugat agar tak berhenti sebagai angka penghimpunan semata. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan UPZ Award 2025 pada 9–11 September 2025 di Bogor, dengan tema : “UPZ BAZNAS yang Kompeten, Berdampak, dan Berkelanjutan.”
Hadir dalam forum strategis ini Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH Noor Achmad, MA., Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI Prof. Dr. Waryono Abdul Ghafur, Deputi Kemenko PMK Prof. Warsito, S.Si., DEA, Ph.D., serta jajaran pimpinan BAZNAS RI. Perwakilan UPZ dari kementerian, lembaga, BUMN hingga BUMS pun turut menyemarakkan forum.
“Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 telah memberikan mandat kepada BAZNAS membentuk UPZ. UPZ adalah perpanjangan tangan BAZNAS dalam mengelola zakat. Mereka garda terdepan dalam memastikan dana umat terkumpul dan tersalurkan dengan benar,” kata Kiai Noor dalam sambutannya.
Data BAZNAS menunjukkan, hingga 2024 tercatat 146 UPZ aktif dengan total penghimpunan Rp390 miliar. Angka ini menjadi bukti potensi besar, sekaligus tantangan agar zakat benar-benar menjadi solusi sosial, bukan sekadar angka di laporan tahunan.
“Kontribusi UPZ sudah terbukti signifikan. Tapi pekerjaan kita belum selesai. Penguatan kelembagaan, inovasi penghimpunan, dan layanan zakat yang transparan-akuntabel harus terus didorong,” ujar Noor menegaskan.
Rakernas kali ini tidak sekadar agenda rutin. Forum ini dimaksudkan untuk menguji keseriusan UPZ menjawab tantangan sosial-ekonomi bangsa. Noor menekankan bahwa pengelolaan zakat harus mampu menembus akar masalah: kemiskinan yang masih membelit puluhan juta warga.
“Kita ingin zakat hadir dengan wajah baru: kompeten, berdampak nyata, dan berkelanjutan. Inilah saatnya zakat membuktikan dirinya bukan hanya instrumen ibadah, tetapi juga alat transformasi sosial,” ujar Noor.
Kementerian Agama dan Kemenko PMK melalui perwakilannya pun memberikan sinyal kuat: zakat harus ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama pengentasan kemiskinan, sejalan dengan arahan Presiden.
Sebagai penutup agenda, BAZNAS menggelar UPZ Award 2025, sebuah bentuk penghargaan bagi UPZ dengan kinerja terbaik. Namun di balik gemerlap penghargaan itu, terselip pesan keras: kinerja amil tak boleh berhenti di seremoni.
“Apresiasi penting, tetapi indikator keberhasilan sejati adalah penurunan angka kemiskinan. Itulah yang harus dicatat dalam sejarah,” kata Noor mengingatkan.
BERITA10/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Tingkatkan Kesejahteraan Umat, Kemenag RI Desak Amil UPZ BAZNAS Perkuat Profesionalisme
Bogor – Zakat kembali ditegaskan sebagai senjata strategis untuk menekan kemiskinan di Indonesia. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, secara lugas mengingatkan para amil Unit Pengumpul Zakat (UPZ) BAZNAS agar tidak lagi bekerja setengah hati.
“Kerja amil adalah kerja mulia. Tapi jangan berhenti sebatas mengambil zakat. Yang jauh lebih penting adalah memastikan dampaknya sampai ke mustahik, khususnya 24 juta fakir miskin yang masih ada di negeri ini,” kata Waryono saat membuka Rapat Kerja Nasional UPZ BAZNAS di Bogor, Jawa Barat, Selasa, 9 September 2025.
Pernyataan Waryono jelas: zakat bukan sekadar ritual pengumpulan dana, melainkan instrumen perubahan sosial. Namun potensi zakat yang triliunan rupiah itu, hingga kini masih jauh dari optimal. “Realisasi penghimpunan zakat masih rendah. Ini pekerjaan rumah kita semua. Jangan sampai potensi besar hanya berhenti di atas kertas,” ujarnya.
Waryono menekankan, profesionalisme, akuntabilitas, dan transparansi adalah harga mati. Tanpa itu, publik sulit percaya. “Kalau masyarakat percaya, mereka tidak akan ragu menitipkan zakatnya melalui UPZ BAZNAS,” tegasnya.
Ia juga mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali menekankan bahwa kemerdekaan sejati baru akan hadir bila kemiskinan dihapuskan. “Instrumen itu ada pada kita—zakat, infak, sedekah, bahkan wakaf. Semua harus dikelola serius, jangan ala kadarnya,” kata Waryono.
Lebih jauh, ia mengingatkan kembali sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. “Yang kaya tidak sombong, yang miskin tidak minder. Dan jembatan antara keduanya adalah para amil,” katanya, menegaskan kembali peran vital pengelola zakat.
Rakernas UPZ BAZNAS, menurut Waryono, bukan sekadar ajang seremonial. Forum ini dituntut melahirkan rekomendasi konkret yang benar-benar menyentuh akar masalah. “Indikator keberhasilan kita bukan sekadar laporan kegiatan. Indikator utamanya adalah penurunan angka kemiskinan. Itu komitmen yang harus kita pegang bersama,” ucapnya menutup sambutan.
Pesannya jelas: zakat bukan sekadar ibadah individu, melainkan alat perjuangan sosial. Amil zakat ditantang bekerja lebih profesional, agar dana umat tidak hanya terkumpul, tetapi juga mampu menjadi bahan bakar perubahan menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.
BERITA10/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Keteladanan Nabi Muhammad SAW Jadi Kunci Persaudaraan dan Kepemimpinan, Pesan Ir. Djafar Alkatiri dalam Maulid Nabi di Minahasa
MINAHASA, Tondano 8/9/2025 – Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1447 Hijriah/2025 Masehi di Kabupaten Minahasa berlangsung meriah sekaligus penuh makna. Bertempat di halaman Masjid Al-Hijrah Rinegetan, ratusan jamaah hadir dengan semangat kebersamaan. Tema yang diusung, “Maulid Nabi sebagai Momentum Mempererat Silaturahmi dan Menebar Kedamaian”, menjadi pengikat acara yang sarat nilai edukasi, persaudaraan, dan spiritualitas.
Hikmah Maulid disampaikan oleh Ir. H. Djafar Alkatiri, M.M., M.Pd.I, yang menegaskan pentingnya umat Islam menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam seluruh aspek kehidupan, terutama dalam kepemimpinan.
“Maulid ini adalah peringatan kelahiran Baginda Rasulullah SAW, sekaligus momen untuk meneladani akhlak beliau. Rasulullah SAW membangun persaudaraan sejati antara kaum Muhajirin dan Ansar, yang mampu melahirkan masyarakat damai, penuh rahmah, bahkan membangun peradaban. Karena itu, kita butuh pemimpin yang berketeladanan kuat, yang mampu mempersatukan umat, bukan memecah belah. Pertikaian dan perdebatan hanya berakhir pada kebencian, sementara ukhuwah melahirkan kekuatan dan kemajuan,” ujar Djafar.
Ia menambahkan, persaudaraan sejati bukan hanya slogan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, program kebersamaan, dan ruang-ruang silaturahmi yang inklusif.
“Mari kita tumbuhkan rasa persamaan. Mari kita isi dengan kegiatan positif yang bisa mempersatukan dan menutup prasangka. Dengan begitu, ikatan persaudaraan akan semakin kokoh,” imbuhnya.
Dalam sambutan mewakili Bupati Minahasa, Ir. Janni Moniung (Kepala Badan Kesbangpol Minahasa) menekankan bahwa Maulid Nabi adalah kesempatan menggali nilai luhur yang diwariskan Rasulullah.
“Kasih sayang, keadilan, kejujuran, kesabaran, dan kepedulian sosial adalah pilar penting dalam membangun masyarakat yang rukun dan damai. Masyarakat Minahasa dikenal menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama. Inilah kekayaan sosial yang harus kita jaga bersama. Tanpa kerukunan, pembangunan tidak akan berjalan. Semangat Maulid Nabi ini sangat relevan dengan kebangsaan dan kebersamaan kita,” ujarnya.
Ketua MUI Minahasa, H. Sjaogil Ahmad, S.Hi, M.H, menggarisbawahi bahwa Maulid adalah momentum spiritual yang diperintahkan Al-Qur’an untuk dirayakan dengan penuh kegembiraan.
“Dalam QS Yunus ayat 58 Allah memerintahkan kita bergembira dengan rahmat-Nya. Dan Rasulullah adalah rahmat terbesar bagi seluruh alam. Karena itu, Maulid ini penuh hikmah, mengajarkan kita untuk bersyukur dan meneladani beliau dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Menambahkan semangat kebersamaan, Wakil Ketua I BAZNAS Minahasa, Joko Kurnia Winjaya, menyampaikan bahwa Maulid Nabi adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk memperkuat solidaritas dan aksi nyata membantu sesama.
“BAZNAS Minahasa memandang Maulid Nabi sebagai momentum tidak hanya untuk memperkuat ukhuwah, tetapi juga menebar kepedulian. Zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen syariat yang sangat relevan dengan nilai keteladanan Rasulullah. Rasul mengajarkan kita kepedulian, berbagi kepada yang membutuhkan, dan membangun masyarakat yang adil. Inilah yang menjadi ruh kerja-kerja BAZNAS. Kami ingin masyarakat Minahasa merasakan kehadiran BAZNAS sebagai mitra kebaikan,” tegas Joko.
Ia menambahkan, BAZNAS Minahasa siap berkolaborasi dengan pemerintah, ormas Islam, dan masyarakat luas untuk mendorong tumbuhnya gerakan zakat yang berdampak nyata bagi kesejahteraan umat.
Ketua Badan Takmir Masjid Al-Hijrah Rinegetan Ibrahim Hamid bersama Imam masjid menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung suksesnya acara ini.
“Kami sampaikan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Minahasa, Bank SulutGo, mahasiswa KKN IAIN Manado, dan seluruh jamaah. Tanpa dukungan tenaga, pikiran, serta pengorbanan, acara ini tidak mungkin terselenggara. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat ganda,” ucapnya.
Acara turut dihadiri Ketua NU Minahasa, Baznas Minahasa, Camat Tondano Barat, Lurah Rinegetan, perwakilan Dandim Minahasa, Wakil Kepala Cabang Bank SulutGo, perwakilan Kementerian Agama, Ketua MUI Minahasa, serta para imam masjid se-Kabupaten Minahasa. Kehadiran mereka mempertegas pentingnya Maulid Nabi sebagai ruang silaturahmi lintas tokoh, lembaga, dan masyarakat.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Minahasa tahun ini bukan hanya acara seremonial, melainkan momentum edukatif untuk meneguhkan nilai keteladanan Rasulullah. Pesan tentang kepemimpinan, persaudaraan, kepedulian sosial, dan kebersamaan menjadi garis merah yang diharapkan bisa dihidupi seluruh umat.
Dengan semangat Maulid, Minahasa diharapkan terus menjadi daerah yang damai, rukun, dan berkemajuan, serta menjadikan BAZNAS sebagai garda terdepan dalam menguatkan kepedulian sosial umat.
BERITA09/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS & Ivan Gunawan Buktikan Amanah Umat: 25.000 Liter Air Bersih dan 800 Porsi Makanan Siap Saji Sampai ke Gaza
Jakarta, 3 September 2025 – Di tengah krisis kemanusiaan yang terus melanda Gaza, Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (BAZNAS RI) bersama desainer sekaligus public figure, Ivan Gunawan, membuktikan kepedulian nyata bangsa Indonesia. Bantuan tahap pertama berupa 25.000 liter air bersih dan 800 porsi makanan siap saji (Hotmeals) berhasil didistribusikan pada 1–2 September 2025 di berbagai titik strategis Gaza.
Fakta di lapangan jelas: 1.562 jiwa kini bisa menghirup harapan lewat setiap tetes air bersih yang mereka terima, rata-rata 16 liter per orang. Sementara 800 penerima manfaat lainnya menikmati makanan hangat di tengah kondisi darurat. Titik distribusi tersebar di Abu Hasirah Port, Al Sheikh Radwan, Al Rasheed, Palestine Stadium, Al Moataz Tower, serta kamp pengungsian Palestine dan Al Ikhwa.
Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menegaskan bahwa air dan makanan bukan sekadar kebutuhan, tetapi penentu hidup-mati bagi warga Gaza.
“Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air bersih, saudara-saudara kita di Gaza menghadapi ancaman kesehatan yang serius. Begitu pula makanan, energi mereka untuk bertahan hidup. Alhamdulillah, kolaborasi dengan Ivan Gunawan telah menghadirkan solusi nyata di tengah krisis ini,” tegas Kiai Noor di Jakarta.
Lebih dari sekadar bantuan, distribusi ini adalah bukti nyata solidaritas Indonesia. Setiap liter air dan setiap paket makanan yang tersalurkan adalah representasi cinta dan kepedulian masyarakat tanah air.
Bukti BAZNAS Bisa Dipercaya
Di tengah keraguan sebagian masyarakat soal kemana larinya donasi kemanusiaan, aksi ini membuktikan: amanah yang dititipkan melalui BAZNAS RI benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan. BAZNAS menegaskan akan terus memberikan laporan secara berkala, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Distribusi akan terus berlanjut. Insya Allah, semakin banyak warga Gaza yang menerima manfaat. Terima kasih kepada Ivan Gunawan dan masyarakat Indonesia yang mempercayakan infak kemanusiaannya kepada BAZNAS,” tambah Kiai Noor.
Ivan Gunawan, yang selama ini dikenal lewat karya dan kiprahnya di dunia hiburan, tampil sebagai sosok penuh kepedulian. Melalui Instagram, ia menegaskan bahwa bantuan tahap pertama sudah sampai ke Gaza.
“Insya Allah tanggal 8 nanti saya akan langsung menyalurkan bantuan berikutnya melalui Mesir. Doakan saya sehat dan selamat dalam perjalanan,” tulisnya.
Ivan menegaskan bahwa bantuan ini adalah simbol cinta dan kepedulian tanpa batas.
“Di tengah reruntuhan dan luka, setetes harapan hadir dalam bentuk bantuan yang insya Allah mampu meringankan beban saudara-saudara kita di Palestina.”
BERITA08/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW: Dari Seremonial Menuju Amaliah Nyata
Manado, 15 Rabi’ul Awal 1447 H/7 September 2025 M –
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya selalu menjadi momentum penuh makna bagi umat Islam. Di berbagai pelosok tanah air, suasana begitu semarak dengan beragam kegiatan: dari lomba-lomba Islami, dakwah para muballigh dan muballighah, hingga aneka perayaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Namun, di balik meriahnya suasana, peringatan Maulid Nabi sejatinya bukan hanya sebatas seremonial. Lebih dari itu, momen ini menjadi panggilan untuk meneladani Rasulullah dalam keseharian dengan menghidupkan amaliah nyata.
Drs. H. MS. Anwar Sandiah dalam tulisannya mengingatkan, kemuliaan Maulid Nabi perlu diwujudkan melalui amal-amal sunnah yang sederhana, namun bernilai besar:
1. Menegakkan Sholat Tepat Waktu
“Ash-sholatu ‘imaduddiin – Sholat adalah tiang agama.” Menurutnya, kesibukan dunia kerap membuat umat abai terhadap sholat. Padahal, memperingati Maulid Nabi sejatinya dimuliakan dengan menjaga sholat tepat waktu.
2. Memperbanyak Dzikir
Menghidupkan hati dengan mengingat Allah, sebagaimana firman-Nya: “Alaa bidzikrillahi tathmainnul quluub” (QS. Ar-Ra’d: 28) – Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
3. Melaksanakan Puasa Sunnah
Amalan puasa Senin-Kamis serta Ayyamul Bidh masih kurang semarak di tengah umat. Padahal, Nabi bersabda: “Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika amalanku diperlihatkan aku sedang berpuasa” (HR. Tirmidzi).
4. Berinfak Sesuai Kemampuan
Firman Allah SWT: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261).
5. Menjalin Silaturahmi
Menguatkan ukhuwah Islamiyah, sebagaimana perintah Allah: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Tak lupa, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Dengan lima amaliah ini, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada perayaan semata, melainkan menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperkuat keimanan dan amal ibadah umat Islam.
Wallahu a’lam.
BERITA07/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Reformasi Regulasi Wakaf: Momentum Menata Ulang Fondasi Ekonomi Umat
Jakarta — Wakaf dipandang sebagai fondasi kemandirian umat yang mampu menopang pendidikan, layanan kesehatan, hingga pengembangan ekonomi. Namun, potensi besar itu hingga kini belum tergarap maksimal. Dalam opini yang tayang di Republika, Sabtu (6/9/2025), Guru Besar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Muh. Nadratuzzaman Hosen, bersama ekonom Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jaharuddin, menegaskan perlunya reformasi regulasi wakaf untuk mengatasi kesenjangan antara potensi dan realisasi pemanfaatan wakaf di Indonesia.
Mereka menyoroti bahwa dari 447.532 lokasi tanah wakaf yang terdata, baru 53 persen yang bersertifikat, dan hanya 4 persen yang dimanfaatkan secara produktif. “Tanpa intervensi sistemik, wakaf akan terus terjebak dalam potensi tanpa aktualisasi,” tulis keduanya.
Revisi terhadap Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dianggap mendesak, terutama terkait masa jabatan komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), insentif bagi nazhir, hingga penguatan kelembagaan BWI sebagai regulator. Mereka menekankan pentingnya menjadikan wakaf bagian dari instrumen pembangunan nasional dengan dukungan regulasi fiskal, termasuk penghapusan pajak atas hasil pengelolaan aset wakaf.
“Reformasi regulasi wakaf bukan isu administratif belaka, melainkan kebutuhan strategis bagi masa depan ekonomi umat,” tegas Hosen dan Jaharuddin. Menurut mereka, keberanian politik, kecerdasan regulatif, dan visi jangka panjang para pemangku kebijakan menjadi kunci agar wakaf benar-benar bertransformasi menjadi pilar pembangunan yang Islami, inklusif, dan berkelanjutan.
BERITA06/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Jalan Berliku Membangun Zakat Berdaya: Ketika Pola Pikir dan Karakter Menjadi Pijakan Utama
JAKARTA — Di atas kertas, potensi zakat di Indonesia adalah raksasa tidur. Nilainya bisa mencapai ratusan triliun rupiah, jauh melampaui capaian saat ini. Pertanyaannya, mengapa raksasa ini belum juga bangun? Jawaban dari BAZNAS, melalui Pimpinan Bidang Transformasi Digital, M. Nadratuzzaman Hosen, tak melulu soal teknologi atau regulasi. Kunci utamanya justru ada pada hal yang paling mendasar: cara berpikir dan karakter para pemimpinnya.
Zakat adalah ibadah yang dibangun di atas landasan kokoh. Prof. Nadra secara tajam mengingatkan, setiap manajer zakat harus memahami beda antara Postulat—prinsip dasar yang diterima tanpa perlu bukti, seperti kewajiban zakat itu sendiri—dengan Aksioma—kebenaran universal yang tidak terbantahkan, seperti penetapan 2,5% pada zakat maal. Pemahaman ini memastikan bahwa pengelolaan dana umat tetap berpegang teguh pada koridor syariah yang tak bisa diganggu gugat.
Namun, mengumpulkan dan menyalurkan zakat di era digital butuh lebih dari sekadar kepatuhan. Ia butuh pikiran yang tangkas. Di sinilah berpikir kritis dan analitis menjadi senjata utama. Mengapa laju penghimpunan zakat belum optimal? Mengapa distribusi sering kali terhambat? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan cara kerja konvensional. Dibutuhkan kemampuan untuk membedah masalah, mencari data, dan berani mempertanyakan kebiasaan yang sudah mendarah daging, sebuah mentalitas yang seringkali "tidak populer" di tengah budaya yang menghindari perbedaan.
Lebih dari itu, keberlanjutan zakat di masa depan sangat bergantung pada inovasi. Menjangkau milenial sebagai muzakki dan menyalurkan zakat secara produktif—misalnya, melalui program pemberdayaan ekonomi—memerlukan pikiran yang kreatif dan divergen. Pola pikir ini mengajak untuk keluar dari rutinitas dan berani mencari solusi yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Jika pola pikir adalah kompas, maka karakter adalah mesin penggeraknya. Prof. Nadra tegas menyoroti empat karakter krusial yang harus dimiliki seorang amil (pengelola zakat). Yang pertama, tanggung jawab. Mengelola zakat adalah amanah suci, bukan sekadar pekerjaan. Seperti kata Prof. Nadra, "Kalau Anda bekerja jangan pernah berpikir ada uangnya atau tidak," karena dedikasi pada amanah ini jauh melampaui imbalan dunia.
Kedua, kerendahan hati (humility) menjadi benteng terpenting. Pemimpin yang rendah hati tidak akan merasa "paling tahu" atau defensif saat dikritik. Sikap ini membuka ruang untuk menerima masukan, belajar dari kesalahan, dan menjaga kepercayaan publik. Di balik setiap laporan keuangan yang transparan dan setiap program yang berhasil, ada integritas seorang amil yang meletakkan ego di bawah kepentingan umat.
Pada akhirnya, masa depan zakat di Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa besar potensi dana yang ada, melainkan oleh kualitas pikiran dan integritas karakter mereka yang mengelolanya. Membangun zakat yang berdaya, pada dasarnya, adalah membangun pemimpin yang tidak hanya bekerja, tetapi juga berpikir mendalam, berkarakter kuat, dan siap melayani dengan rendah hati. Inilah transformasi sejati yang diimpikan BAZNAS.
BERITA04/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Potensi Zakat Rp327 Triliun, Mengapa yang Terkumpul Hanya 10 Persen?
Jakarta – Ironi zakat di Indonesia kian terang benderang. Negara dengan mayoritas penduduk muslim ini menyimpan potensi zakat fantastis, mencapai Rp327,6 triliun per tahun. Namun, fakta di lapangan berbicara lain: realisasi pengumpulan hanya menyentuh sekitar 10 persen. Sementara itu, jumlah orang miskin masih bertahan di angka 26,36 juta jiwa (9,57 persen penduduk, data BPS 2023).
Dalam forum Pengajian BAZNAS 1 September 2025, Dr. H. Suhajar Diantoro, Pimpinan Ex Officio BAZNAS RI dari Kemendagri, menekankan bahwa gap besar ini bukan sekadar soal hitungan angka. “Zakat adalah instrumen redistribusi kekayaan. Kalau dikelola dengan benar, ia bisa menjadi motor penggerak keadilan sosial,” ujarnya.
Masalah klasik pengumpulan zakat selama ini adalah jarak antara potensi dan realisasi. Padahal, pemerintah daerah memiliki peran vital sebagai ujung tombak. Dengan kedekatan pada masyarakat, Pemda bisa mendata muzakki (pembayar zakat) dan mustahik (penerima) secara lebih akurat.
Riset terbaru (Dian Masyita, 2023) bahkan menunjukkan, desentralisasi pengelolaan zakat meningkatkan efektivitas penyaluran dan pemberdayaan mustahik. Tapi kenyataannya, dukungan APBD untuk BAZNAS daerah masih minim. Rata-rata provinsi hanya mengalokasikan sekitar Rp0,43 miliar, sedangkan kabupaten/kota rata-rata Rp0,49 miliar. Angka ini bahkan kalah dengan biaya hiburan pejabat.
Zakat di era digital mestinya tak lagi terjebak dalam cara-cara lama. Studi Qurroh Ayuniyyah (2023) menunjukkan, digitalisasi zakat bisa mendongkrak efisiensi pengumpulan hingga 45 persen. Sayangnya, implementasi sistem terintegrasi antara BAZNAS pusat, daerah, dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) masih berjalan lambat.
Padahal, negara tetangga sudah melesat jauh. Malaysia, misalnya, telah mengintegrasikan zakat dengan sistem perpajakan, memberi insentif fiskal, dan memastikan transparansi lewat audit anti-korupsi. Bangladesh memanfaatkan zakat untuk modal usaha mikro. Pakistan menjadikannya bagian dari kebijakan jaring pengaman sosial.
Jika negara lain bisa, mengapa Indonesia masih tertatih? Mengapa zakat—yang semestinya menjadi instrumen pengentas kemiskinan paling Islami dan berkeadilan—hanya dipandang sebatas ritual tahunan?
Di tengah angka kemiskinan yang masih menyentuh puluhan juta jiwa, zakat bisa menjadi jawaban nyata. Namun tanpa political will yang kuat dari pemerintah daerah, keberanian regulasi, dan kepercayaan publik, zakat hanya akan jadi potensi di atas kertas.
BERITA02/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Sebelum Bayar Zakat, Jangan Lupa Niat
BAZNAS Minahasa Ingatkan Pentingnya Niat dalam Menunaikan Zakat
Minahasa – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Minahasa kembali mengingatkan masyarakat bahwa salah satu unsur penting dalam menunaikan zakat adalah niat. Niat menjadi bagian yang menyempurnakan ibadah, termasuk zakat, agar lebih berkah dan diterima oleh Allah Ta’ala.
Zakat penghasilan merupakan wujud syukur atas rezeki yang dititipkan Allah SWT. Dengan menunaikan zakat, harta menjadi lebih bersih, lebih berkah, dan memberi manfaat bagi sesama yang membutuhkan.
Dalam tuntunan agama, niat zakat penghasilan dapat dibaca sebagai berikut:
Nawaitu an ukhrija zakatal maali ‘an nafsi fardan lillahi ta’ala Artinya: Saya berniat mengeluarkan zakat harta dari diri sendiri karena Allah Ta’ala.
BAZNAS Minahasa juga menyediakan layanan pembayaran zakat secara mudah dan cepat melalui platform digital. Masyarakat dapat menunaikan zakat penghasilan melalui laman resmi https://kabminahasa.baznas.go.id/bayarzakat atau dengan menghubungi nomor layanan informasi di 0823 3275 5860.
“Menunaikan zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana berbagi berkah yang dapat menguatkan solidaritas sosial. Mari bersama-sama menyucikan harta dengan zakat,” tulis BAZNAS Minahasa dalam imbauannya.
#BaznasMinahasa #ZakatPenghasilan #ZakatMenyucikanHarta #NiatZakat #BerbagiBerkah
BERITA02/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Sembilan Resolusi Rakornas Baznas 2025 Teguhkan Peran Zakat Sebagai Pilar Kesejahteraan Umat
JAKARTA - Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas 2025 secara resmi ditutup dengan penetapan sembilan resolusi strategis yang akan menjadi pedoman kerja Baznas dan seluruh jaringannya di Indonesia. Resolusi ini menegaskan komitmen lembaga untuk mengoptimalkan peran zakat sebagai instrumen vital dalam penanggulangan kemiskinan dan mendukung agenda pembangunan nasional.
Resolusi utama yang disepakati mencakup beberapa poin krusial, antara lain:
Garda Terdepan Penyejahteraan Umat. Baznas berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam menyejahterakan umat dan mengentaskan kemiskinan, sejalan dengan visi "Asta Cita" yang diusung oleh pemerintahan saat ini.
Prinsip 3 Aman. Lembaga ini menegaskan kembali komitmen untuk menjaga reputasi dengan menerapkan prinsip Aman Syar'i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI.
Pengesahan Peraturan Presiden. Resolusi ini mendorong percepatan pengesahan rancangan Peraturan Presiden tentang zakat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memaksimalkan potensi pengumpulan zakat.
Ekspansi Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Baznas menargetkan pembentukan UPZ di setiap desa, kelurahan, dan masjid di seluruh Indonesia dalam waktu dua bulan.
Optimalisasi Dana Sosial Keagamaan Lainnya. Baznas juga akan mengoptimalkan pengelolaan dana sosial keagamaan lainnya, termasuk dormant account (rekening tak bertuan) yang berpotensi besar untuk kesejahteraan umat.
Pimpinan Baznas RI Bidang Koordinasi Nasional, H. Achmad Sudrajat, menegaskan bahwa kesembilan resolusi ini akan menjadi "roh" bagi gerakan zakat di masa depan, memperkuat tata kelola, dan meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak.https://studio.youtube.com/video/1v6coFd33oQ/edit. Video ini membahas secara rinci sembilan resolusi yang dihasilkan dalam Rakornas Baznas 2025.
BERITA01/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Revolusi Zakat Digital: Baznas-BSI Gaungkan Keadilan Ekonomi Umat
JAKARTA - Gerakan zakat nasional sedang memasuki babak baru yang penuh optimisme. Tak lagi sekadar ritual tahunan, zakat kini disulap menjadi motor penggerak ekonomi umat yang terorganisir dan berdaya. Inilah salah satu poin terpenting yang digariskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Baznas 2025.
Puncaknya, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) mengukuhkan kemitraan strategis yang diproyeksikan akan merevolusi pengelolaan zakat di tanah air. Kemitraan ini bukan hanya tentang transfer dana, melainkan tentang membangun ekosistem yang terintegrasi, transparan, dan berlandaskan teknologi.
Perwakilan BSI, Romi Ramadan Hidayat, mempresentasikan sebuah terobosan yang disebut BSIe, sebuah layanan cash management yang dikembangkan untuk menjawab tantangan tata kelola keuangan lembaga zakat. BSIe hadir dengan janji besar: mempermudah Baznas dalam mengelola triliunan rupiah dana umat agar tepat sasaran.
Bayangkan, setiap rupiah yang masuk dari para muzaki (pemberi zakat) akan memiliki jejak digital yang jelas, berkat sistem virtual account yang canggih. Ini bukan hanya soal memudahkan pembukuan, tetapi juga soal menegaskan prinsip amanah yang dipegang teguh dalam Islam. Masyarakat, sebagai pemilik dana, kini dapat lebih yakin bahwa zakat yang mereka tunaikan akan sampai kepada yang berhak, tanpa celah sedikitpun.
Kolaborasi ini mencerminkan semangat Islam yang tak pernah lekang dimakan zaman. Zakat yang semula dianggap sebagai kewajiban pribadi, kini diangkat derajatnya menjadi instrumen pemulihan ekonomi umat. Melalui sistem yang modern dan akuntabel, dana zakat diharapkan mampu menjadi jaring pengaman sosial yang kokoh, memberdayakan UMKM, dan mengurangi angka kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Ini adalah perpaduan harmonis antara nilai-nilai luhur syariah dan kecanggihan teknologi, sebuah sinergi yang membuktikan bahwa ekonomi Islam bukan hanya teori di atas kertas, melainkan solusi nyata yang mampu membawa berkah bagi seluruh umat.
BERITA01/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS-BPS Perkuat Sinergi Data, Zakat Kian Tepat Sasaran
Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI terus membuktikan komitmennya dalam mengelola zakat secara amanah, transparan, dan akuntabel. Dalam rangka memperkuat ketepatan penyaluran, BAZNAS resmi menjalin kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang pemanfaatan data, Jumat (29/8/2025) di Jakarta.
Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA, menyatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk memastikan zakat, infak, dan sedekah benar-benar sampai kepada mereka yang berhak. “Dengan dukungan data BPS, pendistribusian dan penghimpunan zakat akan lebih efektif, tepat sasaran, serta menghindarkan tumpang tindih bantuan,” ujarnya.
Menurut Noor, kehadiran data yang terstruktur memungkinkan BAZNAS mengidentifikasi kondisi mustahik dengan lebih detail. Hal ini penting agar zakat tidak hanya sekadar tersalurkan, tetapi juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Kepala BPS RI, Dr. Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan sinergi ini akan memperkuat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSN). BAZNAS dengan cakupan sekitar 26 juta mustahik akan menjadi bagian penting dalam pemutakhiran DTSN yang dikelola BPS.
“Melalui pemadanan data ini, kita dapat memastikan penerima zakat benar-benar masuk kategori miskin atau rentan miskin. Dengan demikian, zakat akan tersalurkan lebih tepat sasaran,” kata Amalia.
Ia menambahkan, kerja sama ini juga merupakan implementasi Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang pemutakhiran data sosial ekonomi nasional. Ke depan, DTSN akan menjadi acuan bersama bagi pemerintah dan lembaga terkait, termasuk BAZNAS, dalam menyalurkan bantuan.
Langkah BAZNAS menggandeng BPS menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan zakat kini semakin modern, berbasis data, dan terintegrasi dengan sistem nasional. Hal ini sejalan dengan prinsip BAZNAS untuk menjadikan zakat sebagai instrumen yang berdampak langsung pada pengentasan kemiskinan.
“Kerja sama ini juga memperkuat kepercayaan masyarakat bahwa zakat yang ditunaikan melalui BAZNAS dikelola dengan amanah, profesional, dan sesuai regulasi. Masyarakat tidak perlu ragu, karena setiap rupiah zakat insya Allah sampai ke mustahik yang tepat,” tegas Noor.
Sebagai bentuk penghargaan, BAZNAS turut menganugerahkan BAZNAS Award 2025 kategori Lembaga Pendukung Ekosistem Zakat kepada BPS atas kontribusinya dalam mendukung pengelolaan zakat berbasis data.
Dengan terwujudnya sinergi data bersama BPS, BAZNAS mengajak umat Islam semakin mantap menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Selain karena kepercayaan yang terjaga, masyarakat juga ikut serta dalam gerakan bersama mengentaskan kemiskinan secara berkelanjutan.
“Zakat bukan hanya kewajiban ibadah, melainkan juga instrumen sosial yang mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Melalui BAZNAS, zakat dikelola dengan profesional dan berdampak luas bagi bangsa,” pungkas Noor.
BERITA01/09/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Kakanwil Kemenag Sulut Ajak Masyarakat Hadapi Dinamika Politik dengan Damai
Manado – Menyikapi situasi politik nasional yang tengah menghangat dan adanya rencana aksi demonstrasi di sejumlah daerah, termasuk di Sulawesi Utara, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Drs. H. Ulyas Taha, M.Pd, mengeluarkan pernyataan sikap resmi pada Minggu (31/8).
Dalam pernyataannya, Ulyas Taha menegaskan pentingnya menjaga demokrasi, persaudaraan, dan kedamaian di tengah perbedaan pandangan politik. Ia menekankan bahwa demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara, namun harus dilakukan dengan cara yang bermartabat dan damai.
“Aspirasi rakyat tidak boleh dibungkam, justru harus didengar dengan hati yang jernih. Saya mengajak semua pihak untuk mengekspresikan pendapat tanpa melukai sesama,” ujarnya.
Ulyas mengingatkan bahwa Sulawesi Utara dikenal sebagai daerah yang rukun dengan semboyan “Torang Samua Basudara.” Ia mengajak seluruh masyarakat agar semangat persaudaraan tetap dijaga sehingga perbedaan politik tidak merusak keharmonisan sosial.
“Sulut harus tetap menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial,” katanya.
Kakanwil Kemenag Sulut juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk kekerasan, baik dari masyarakat maupun aparat. Menurutnya, kekerasan hanya akan memperdalam luka bangsa. Karena itu, semua pihak didorong untuk menahan diri dan memilih jalur dialog.
Secara khusus, Ulyas menyerukan kepada seluruh ASN di jajaran Kemenag Sulut untuk tampil sebagai teladan dan penjaga harmoni di tengah masyarakat.
“ASN Kemenag harus hadir sebagai penyejuk dan jembatan persaudaraan di tengah dinamika sosial-politik,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap agama mengajarkan nilai perdamaian, kasih sayang, dan keadilan. Oleh karena itu, umat beragama diajak untuk menghadirkan spirit religiusitas agar suhu politik yang meningkat tidak berubah menjadi perpecahan.
Ulyas menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghadapi dinamika politik dengan kedewasaan.
“Bangsa kita membutuhkan kedewasaan, bukan hanya dalam politik, tetapi juga dalam sikap sehari-hari. Mari torang baku-baku bae, baku-baku sayang, karena torang samua basudara, torang samua ciptaan Tuhan,” pungkasnya.
BERITA31/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Sosial dan Spiritual
TONDANO – Ketua Badan Takmir Masjid (BTM) Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo Djunaidi Lababa,M.Pd. I, dalam khotbah , mengingatkan jamaah untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan bermuamalah (Jumat 29/9/2025) .
Dalam khotbahnya, khatib menegaskan bahwa Rasulullah adalah sosok terbaik bagi umat manusia, yang setiap ucapan dan tindakannya senantiasa dilandasi keimanan kepada Allah SWT. “Rasulullah tidak pernah melupakan Allah. Dalam kesuksesan, dalam ketakutan, bahkan dalam cobaan, beliau selalu menghadirkan Allah dalam hatinya,” ujarnya.
Khatib mencontohkan kesungguhan Nabi Muhammad SAW dalam beribadah, meskipun amal beliau telah diakui dan diampuni oleh Allah. Hal ini terlihat dari kebiasaan Rasulullah melakukan salat malam secara istiqamah. Ketika Aisyah RA bertanya, mengapa Rasulullah masih bersungguh-sungguh beribadah padahal beliau sudah dijamin ampunan, Nabi menjawab bahwa semua itu dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
Lebih jauh, khatib menekankan sifat kasih sayang Rasulullah yang menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menyayangi yang muda, menghormati yang tua, menjaga amanah, serta menjunjung tinggi kejujuran. “Inilah nilai yang perlu kita wariskan dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa,” kata khatib.
Dalam pesannya, khatib juga mengingatkan jamaah untuk terus mempelajari sirah nabawiyah sebagai bekal dalam meneladani semangat perjuangan Rasulullah. Dengan memahami perjalanan hidup Nabi, umat Islam diharapkan mampu mengambil pelajaran berharga dan mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjadikan setiap detik kehidupan bernilai ibadah. Semoga dengan meneladani akhlak dan perjuangan Rasulullah, kita menjadi umat yang berilmu, beramal, dan berakhlak mulia,” tutup khatib.
BERITA29/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Komeng Ajak Masyarakat Salurkan Zakat Lewat BAZNAS
JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI kembali menggelar BAZNAS Awards 2025 sebagai bentuk apresiasi kepada individu, lembaga, pemerintah daerah, dan mitra strategis yang dinilai berkontribusi dalam penguatan gerakan zakat di Indonesia. Salah satu penerima penghargaan tahun ini ialah komedian senior Alfiansyah Bustami atau Komeng.
Dalam acara yang berlangsung di Jakarta, Kamis (28/8), Komeng menyampaikan ajakan kepada masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui BAZNAS. Ia menilai, zakat yang dikelola dengan baik tidak hanya bermanfaat bagi mustahik, tetapi juga mampu memberikan dampak luas bagi pembangunan bangsa.
“Jangan lupa berzakat. Banyak program-program BAZNAS yang bermanfaat. Tadi saya baru mendengar ada satu pekerja di luar negeri itu satu sarjana. Wah itu luar biasa. Zakat banyak membantu menyejahterakan dan menjadikan orang biasa menjadi orang,” ungkap Komeng.
Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA., beserta jajaran pimpinan turut hadir dalam acara yang juga menjadi rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS RI 2025.
Selain Komeng, sejumlah publik figur lain seperti Harabdu Tohar alias Bedu hingga desainer ternama Ivan Gunawan juga menerima penghargaan dalam ajang tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan tokoh publik terhadap gerakan zakat nasional.
BAZNAS Awards merupakan agenda tahunan yang konsisten digelar untuk memperkuat sinergi zakat, infak, dan sedekah. Melalui penghargaan ini, BAZNAS ingin meneguhkan peran zakat sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kesejahteraan umat dan memperkuat fondasi pembangunan nasional.
BERITA29/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Prof. Nandra: Arsitek Digitalisasi Zakat yang Kembali Bertarung di Seleksi Pimpinan BAZNAS
Jakarta – Nama Prof. Ir. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Sc., Ph.D., atau akrab disapa Prof. Nandra, kembali menyeruak di tengah publik menjelang seleksi pimpinan BAZNAS RI periode 2025–2030. Sosok yang dikenal sebagai arsitek transformasi digital zakat ini menyatakan kesiapannya untuk maju, meski dengan kerendahan hati ia menilai peluangnya hanya “satu persen.”
“Salam saya, in syaa Allah, akan ikut seleksi calon pimpinan BAZNAS RI periode 2025–2030, karena banyaknya permintaan teman-teman daerah yang minta saya ikut lagi. Jujurnya peluang saya hanya 1 persen, namun saya tetap ikhtiar dan memohon bantuan doa dari Bapak Ibu pimpinan BAZNAS daerah yang selama ini saya sebagai pembina wilayah. Terima kasih atas dukungan dan doanya, jazakallah khairan katsiran barakallah fiikum,” ujar Prof. Nandra dalam pesannya yang beredar di kalangan internal amil zakat.
Namun pernyataan rendah hati itu justru ditangkap publik sebagai kritik halus terhadap mekanisme seleksi pimpinan yang kerap dianggap elitis dan kurang terbuka. Di tengah sorotan soal transparansi dan profesionalisme lembaga zakat, munculnya figur dengan gagasan progresif seperti Prof. Nandra menjadi ujian bagi keberanian BAZNAS untuk berubah.
Rekam jejaknya tak terbantahkan. Di tangannya, BAZNAS bertransformasi dari lembaga pengumpul zakat menjadi pusat inovasi sosial. Ia menggagas ratusan Kantor Digital, menginisiasi pelatihan jurnalistik bagi amil, hingga menggerakkan solidaritas global untuk Palestina dengan penghimpunan lebih dari Rp300 miliar. Semua dijalankan dengan prinsip: zakat adalah energi sosial untuk perubahan bangsa dan dunia.
Visinya pun melampaui teknis kelembagaan. Prof. Nandra kerap menekankan pentingnya growth mindset, work-life balance, dan humility dalam kepemimpinan modern. Baginya, zakat hanya akan dipercaya publik bila dikelola secara profesional, transparan, dan berbasis data real-time.
Dukungan dari daerah terus mengalir. Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Minahasa, Sahlan Kokalo, menyebut Prof. Nandra sebagai sosok dengan gagasan besar. “Kami mendoakan Prof. Nandra agar dimudahkan Allah dalam ikhtiarnya. Beliau punya visi yang bisa membawa BAZNAS lebih dekat dengan masyarakat digital dan memperkuat kepercayaan publik,” ujarnya.
Ketua BAZNAS Provinsi Sulawesi Utara Lutvia Alwi, SH., MH mempertegas dukungan kolektif. “In Shaa Allah Prof, kami dari BAZNAS Provinsi & Kabupaten/Kota se-Sulut men-support dan mendoakan. In Shaa Allah doa kita diijabah dan ikhtiar Prof. untuk maju dimudahkan Allah SWT. Tetap semangat Prof,” ungkapnya penuh optimisme.
Kini pertanyaannya bukan lagi soal seberapa besar peluang Prof. Nandra, tetapi apakah BAZNAS RI berani memberi ruang bagi sosok dengan intelektualitas, visi digital, dan keberanian moral yang konsisten. Jika jawaban atas pertanyaan itu ragu-ragu, maka kritik “peluang hanya satu persen” bisa berubah menjadi cermin besar bagi lembaga zakat nasional: apakah siap melompat ke era baru, atau tetap nyaman dengan pola lama yang mengekang perubahan.
BERITA29/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Prof. Nandra dan Buku Saku Zakat: Membangun Literasi, Meneguhkan Transformasi
Jakarta – Zakat tidak hanya soal kewajiban ibadah, tetapi juga instrumen strategis untuk pembangunan umat. Pesan itu ditegaskan Prof. Ir. Muhammad Nadratuzzaman Hosen, M.S., M.Sc., Ph.D., lewat karyanya Buku Saku Zakat, sebuah panduan ringkas namun sarat makna.
Buku ini menekankan bahwa zakat harus dipahami sebagai energi sosial yang mampu menggerakkan pembangunan manusia. Prof. Nandra menawarkan cara pandang baru: zakat tidak berhenti pada ritual, melainkan harus dikelola berbasis data, teknologi informasi, dan didukung oleh kantor digital BAZNAS sebagai ujung tombak pelayanan publik.
“Literasi zakat harus dikemas sederhana, namun berdampak besar. Buku saku ini hadir agar umat tidak sekadar tahu kewajiban, tapi juga memahami dampak sosial dan ekonomi zakat,” kata Prof. Nandra.
Dampak buku ini pun dirasakan langsung di daerah. Wakil Ketua IV BAZNAS Kabupaten Minahasa, Sahlan Kokalo, mengaku buku tersebut membuka cara pandang baru. “Setelah membaca Buku Saku Zakat Prof. Nandra, saya melihat bahwa zakat bukan hanya kewajiban individual, tetapi kekuatan besar untuk mengentaskan kemiskinan dan membangun kemandirian umat. Buku ini sederhana, mudah dipahami, namun sangat visioner,” ungkapnya.
Menurut Sahlan, pandangan itu sangat relevan untuk konteks daerah. “Kami di BAZNAS Minahasa melihat peluang besar jika pengelolaan zakat didigitalisasi dan dikomunikasikan dengan baik. Buku Prof. Nandra ini memberi peta jalan yang jelas bagi amil di daerah,” tambahnya.
Dengan potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, karya ini hadir tepat waktu. Buku Saku Zakat menjadi jembatan antara teori fikih, praktik pengelolaan modern, dan kebutuhan umat akan literasi zakat yang membumi.
BERITA29/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
MK Tolak Gugatan UU Pengelolaan Zakat, BAZNAS Siap Jalankan Arahan
Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Gugatan ini diajukan oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Forum Zakat, Arif Rahmadi Haryono, serta Muhammad Jazir bersama Indonesia Zakat Watch.
Dalam sidang pembacaan putusan perkara No. 97/PUU-XXII/2024 dan No. 54/PUU-XXIII/2025 pada Rabu (28/8/2025), MK menilai permohonan para pemohon tidak beralasan menurut hukum. Artinya, aturan dalam UU Pengelolaan Zakat tetap berlaku.
MK juga menegaskan bahwa BAZNAS bukan lembaga superbody seperti yang didalilkan para pemohon, melainkan bagian dari sistem pengelolaan zakat nasional yang terintegrasi dengan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan pemerintah.
Namun, MK memberi catatan penting: DPR bersama pemerintah diminta untuk merevisi UU Pengelolaan Zakat dalam waktu paling lambat dua tahun. Tujuannya agar tata kelola zakat di Indonesia semakin kuat, transparan, dan sesuai kebutuhan zaman.
Menanggapi putusan ini, Ketua BAZNAS RI Noor Achmad menyampaikan apresiasi.
“BAZNAS menghormati dan menyambut baik keputusan MK. Putusan ini menegaskan kembali kedudukan UU 23/2011 sebagai landasan hukum yang sah bagi pengelolaan zakat di Indonesia, sekaligus memberi arah untuk perbaikan melalui revisi undang-undang agar lebih adaptif, akuntabel, dan berkeadilan,” ujarnya.
Noor menambahkan, arahan MK mengenai unified system dalam pengelolaan zakat akan menjadi acuan penting. Sistem ini memastikan koordinasi nasional yang lebih rapi antara BAZNAS, LAZ, dan pemerintah, sehingga penyaluran zakat bisa lebih transparan, efisien, dan tepat sasaran.
Selain itu, MK juga menekankan pentingnya penerapan prinsip good amil governance sebagai pedoman tata kelola zakat, agar seluruh lembaga pengelola zakat tetap profesional, kredibel, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
BAZNAS menyebut putusan ini sekaligus momentum memperkuat sinergi antar-lembaga. “Kami siap berkontribusi aktif dalam proses revisi undang-undang dengan tetap berlandaskan prinsip good zakat governance dan semangat kolaborasi demi kesejahteraan masyarakat,” tambah Noor.
Lewat putusan ini, BAZNAS juga mengajak masyarakat, muzaki, mustahik, serta seluruh pengelola zakat untuk bersama-sama menjaga kepercayaan publik. “Zakat bukan hanya kewajiban agama, tapi instrumen penting pemberdayaan umat dan pengentasan kemiskinan,” tegasnya.
BERITA28/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa
Ivan Gunawan Guncang Panggung BAZNAS Awards 2025: Donasi Rp2 Miliar untuk Palestina
Jakarta — Malam penghargaan BAZNAS Awards 2025 mendadak menjadi panggung penuh kejutan. Sorotan bukan hanya pada deretan tokoh penerima penghargaan, melainkan juga pada satu aksi yang mengguncang ruangan: Ivan Gunawan menyerahkan donasi Rp2 miliar untuk Palestina.
Desainer sekaligus selebritas yang akrab disapa Igun itu bukan sekadar datang untuk menerima gelar Tokoh Publik Gerakan Cinta Zakat. Ia melengkapinya dengan langkah nyata: menyumbangkan seluruh keuntungan penjualan busana dari acara “Love Go For Humanity” untuk masyarakat Palestina, melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
“Alhamdulillah, hari ini saya menerima penghargaan dari BAZNAS Awards 2025. Tapi penghargaan ini bukan soal saya. Yang lebih penting adalah bagaimana kebaikan bisa disalurkan lewat jalur yang tepat dan bermanfaat untuk sesama,” ujar Ivan, Kamis (28/8).
Donasi Rp2 miliar itu bukan angka kecil. Bagi Ivan, ini adalah simbol bahwa karya seni dan industri mode bisa menjadi jalan kepedulian. Roadshow “Love Go For Humanity” yang ia gelar di Margo City Depok dan sejumlah kota lain memang sejak awal diniatkan sebagai ruang solidaritas. “Insyaallah bersama BAZNAS, dana ini segera sampai untuk sahabat-sahabat kita di Palestina,” katanya.
BAZNAS menegaskan, langkah Ivan memberi teladan: bahwa publik figur bukan hanya sumber inspirasi gaya hidup, tapi juga motor gerakan kemanusiaan. Penghargaan yang diterima Igun disebut sebagai pengakuan atas konsistensinya mendorong zakat lifestyle di kalangan masyarakat luas.
Langkah Ivan tak berhenti di panggung penghargaan. Ia menyulut percakapan penting: di era gemerlap popularitas, seberapa jauh pengaruh bisa diubah menjadi manfaat nyata? “Ini bukan soal selebritas. Ini tentang keberanian menyalurkan kebaikan melalui lembaga yang amanah,” tambahnya.
BAZNAS berharap momentum ini menjadi titik balik, mengajak lebih banyak tokoh publik menyalurkan zakat, infak, dan sedekah lewat lembaga resmi. Sebab di balik apresiasi dan donasi, ada pesan strategis: membumikan zakat bukan hanya sebagai kewajiban agama, tapi juga gerakan kebudayaan, solidaritas, dan peradaban.
Dengan Rp2 miliar yang kini diamanahkan untuk Palestina, Ivan Gunawan tak hanya pulang membawa piala. Ia pulang membawa gema: bahwa kemewahan sejati bukan terletak pada busana megah, melainkan pada keberanian berbagi di saat dunia membutuhkan cahaya kemanusiaan.
BERITA28/08/2025 | Humas BAZNAS Minahasa

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
Info Rekening Zakat
