Berita Terbaru
BAZNAS Gandeng Komisi Pemberantasan Korupsi, Perkuat Pendidikan Antikorupsi Pengelola Zakat se-Indonesia
Jakarta – Komitmen memperkuat integritas pengelolaan zakat nasional kembali ditegaskan. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI resmi memperkuat sinergi dengan KPK guna mendorong pendidikan antikorupsi bagi seluruh pengelola zakat di Indonesia.
Langkah strategis ini mengemuka dalam audiensi di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (20/2/2026). Pertemuan tersebut dihadiri Ketua BAZNAS RI Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., jajaran pimpinan BAZNAS, serta Ketua KPK Setyo Budiyanto bersama Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo.
Sinergi ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan kuat: pengelolaan dana umat harus dijaga dengan integritas tanpa kompromi.
Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, menegaskan bahwa koordinasi dengan KPK merupakan langkah penting untuk menjaga akuntabilitas sekaligus memperkuat sistem pengawasan internal.
“Kami ingin memastikan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya berjalan transparan, akuntabel, dan berintegritas. Risiko dalam pengelolaan dana publik itu nyata, karena itu pengawasan harus terus diperkuat,” tegas Kiai Noor.
Menurutnya, kebutuhan pendidikan antikorupsi kini semakin mendesak. Pengelolaan ZIS dan DSKL menuntut kehati-hatian serta standar etika yang tinggi, terutama di tengah meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada BAZNAS.
BAZNAS sendiri memiliki BAZNAS Institute yang selama ini menyelenggarakan berbagai pelatihan, termasuk pendidikan integritas. Ke depan, BAZNAS berharap KPK dapat mengisi materi khusus dalam setiap pelatihan agar penguatan budaya antikorupsi semakin sistematis dan terukur.
“Kami berharap KPK berkenan hadir dalam setiap pelatihan. Dengan begitu, penguatan integritas tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi budaya kerja,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KPK Setyo Budiyanto menyambut baik komitmen BAZNAS. Ia menilai pendekatan pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penindakan setelah terjadi pelanggaran.
“Kami mengapresiasi langkah BAZNAS. Pendidikan antikorupsi perlu diperluas hingga ke tingkat daerah, bahkan bisa dirutinkan secara regional, baik daring maupun luring. KPK siap berkontribusi,” kata Setyo.
Ia menekankan, penguatan integritas di tingkat kabupaten dan kota menjadi kunci. Pengelolaan zakat di daerah memiliki tantangan tersendiri, mulai dari potensi konflik kepentingan hingga transparansi distribusi dana.
Karena itu, sistem tata kelola yang profesional dan terbuka menjadi fondasi utama. Transparansi dalam penghimpunan dana, penetapan penerima manfaat, hingga pelaporan keuangan harus dijalankan secara konsisten.
“Dengan tata kelola yang profesional dan transparan, kepercayaan publik akan meningkat,” tegas Setyo.
Sinergi BAZNAS dan KPK ini menjadi angin segar bagi tata kelola zakat nasional. Di tengah tuntutan akuntabilitas publik yang semakin tinggi, langkah preventif melalui pendidikan antikorupsi dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga amanah umat.
Pesannya jelas: zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga amanah publik yang harus dikelola dengan integritas penuh.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Puasa Bukan Sekadar Lapar: Panduan Tuntas Meraih Ramadan Berkualitas ala Irsyâdul ‘Ibâd
Ramadan selalu datang membawa rindu. Namun puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga magrib. Ia adalah ibadah multidimensi—menyentuh syariat, akhlak, hingga kedalaman hati. Agar tak termasuk golongan yang “berpuasa tetapi hanya mendapat lapar dan haus”, mari menyelami panduan praktis yang disarikan dari kitab Irsyâdul ‘Ibâd—sebuah rujukan klasik yang menuntun umat pada keseimbangan antara hukum dan ruh ibadah.
1. Sah atau Tidak? Fondasi Fikih yang Tak Boleh Terlewat
Puasa yang berpahala harus diawali dengan puasa yang sah. Dalam disiplin fikih, ada prasyarat mendasar yang wajib terpenuhi:
1) Beragama Islam. Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.
2) Tamyiz (Mampu Membedakan Baik–Buruk). Seseorang telah memiliki kesadaran dan kemampuan memahami perintah serta larangan.
3) Suci dari Haid dan Nifas (bagi perempuan). Dalam kondisi tersebut, puasa tidak sah dan wajib diganti di hari lain.
4) Mengetahui Masuknya Ramadan. Kesadaran waktu menjadi kunci. Tanpa tahu bahwa hari itu Ramadan, niat dan pelaksanaan tak memiliki pijakan.
Catatan penting: Fikih memastikan ibadah kita sah secara hukum. Namun sah saja belum cukup—ia harus disertai niat dan akhlak agar bernilai di sisi Allah.
2. Dua Rukun Utama: Niat dan Imsak
Puasa tak berdiri tanpa dua pilar ini:
a) Niat di Malam Hari
Niat wajib dilakukan setiap malam sebelum terbit fajar. Tekankan dalam hati bahwa puasa dijalankan sebagai kewajiban lillâhi ta‘âlâ (semata karena Allah). Niat adalah pembeda antara sekadar menahan makan dan ibadah yang berpahala.
b) Imsak (Menahan Diri)
Imsak berarti menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa:
Masuknya benda ke dalam rongga tubuh secara sengaja,
Hubungan suami-istri di siang hari Ramadan,
Muntah dengan sengaja.
Disiplin pada rukun ini menjadikan puasa kokoh secara syariat.
3. Jangan Biarkan Pahala “Bocor”
Rasulullah ? mengingatkan, ada orang yang berpuasa namun tak mendapatkan apa pun selain lapar dan haus. Mengapa? Karena puasanya runtuh oleh akhlak yang lalai.
- Puasa Lisan
Tahan diri dari ghibah, dusta, fitnah, dan kata-kata kasar. Lisan adalah pintu pahala sekaligus sumber dosa.
- Puasa Anggota Tubuh
Mata dijaga dari pandangan haram.
Telinga dari gosip dan maksiat.
Tangan dan kaki dari tindakan zalim.
- Puasa Hati
Inilah inti terdalam. Jangan berpuasa hanya karena tradisi atau tekanan sosial. Niatkan dengan iman dan harap pahala. Ikhlas adalah ruh yang menghidupkan amal.
Puasa sejati adalah ketika tubuh menahan, lisan terjaga, dan hati tunduk.
4. Amalan Sunnah: Menguatkan dan Menyempurnakan
Agar puasa tak hanya sah, tetapi juga tangguh dan bercahaya, hidupkan amalan sunnah berikut:
Begitu azan magrib berkumandang, berbukalah. Dianjurkan dengan kurma atau air. Ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan sunnah yang sarat keberkahan.
Sahur memiliki keberkahan. Bahkan seteguk air bernilai ibadah. Mengakhirkan sahur mendekati fajar adalah tuntunan yang menambah kekuatan fisik dan spiritual.
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Perbanyak membaca dan mentadabburinya. Sertai dengan sedekah, karena keduanya menjadi pembela di hari akhir.
Puasa yang sukses bukan hanya benar secara hukum, tetapi juga indah dalam perilaku. Ia menyatukan syariat (aturan) dan akhlak (karakter) dalam satu tarikan napas ibadah.
Jika syariat menjaga keabsahan, maka akhlak menjaga keberkahan. Jika niat menguatkan awal, maka keikhlasan menyempurnakan akhir.
Ramadan adalah madrasah. Ia mendidik disiplin, empati, dan ketakwaan. Maka jangan berhenti pada rasa lapar—capailah derajat takwa.
Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga Ramadan kali ini bukan hanya berlalu, tetapi benar-benar membekas dalam jiwa.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Toko Galaxy Donasikan 60 Kg Beras, BAZNAS Halmahera Tengah Siap Gulirkan Berkah Ramadan 1447 H
Weda – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, semangat kolaborasi sosial kembali menguat di Kabupaten Halmahera Tengah. BAZNAS Halmahera Tengah menerima donasi dari Toko Galaxy (Hamri) untuk mendukung pelaksanaan Program Berkah Ramadan 1447 H.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung di Kantor BAZNAS Halmahera Tengah, Weda, Sabtu (21/2/2026). Donasi diterima oleh Ketua BAZNAS setempat bersama jajaran pimpinan.
Bantuan yang diserahkan berupa natura, yakni 60 kilogram beras dengan total nilai Rp1.140.000. Paket tersebut akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya mustahik yang telah terdata, guna membantu meringankan kebutuhan pokok selama menjalankan ibadah puasa.
Ketua BAZNAS Halmahera Tengah mengapresiasi kepedulian Toko Galaxy (Hamri). Ia menegaskan, partisipasi pelaku usaha lokal menjadi bukti bahwa penguatan solidaritas sosial tidak bisa berjalan sendiri, melainkan perlu sinergi antara lembaga zakat dan sektor swasta.
“Bantuan ini akan kami salurkan kepada para mustahik sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Semoga menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi pihak donatur,” ujarnya usai prosesi serah terima.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS didampingi Wakil Ketua II Mustamin Saman Sanusi dan Wakil Ketua III Drs. M. Ridha Saleh, M.Si. Kehadiran jajaran pimpinan ini sekaligus menegaskan komitmen lembaga dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.
Program Rutin, Dampak Berkelanjutan
Program Berkah Ramadan 1447 H merupakan agenda tahunan BAZNAS Halmahera Tengah. Fokusnya tidak hanya pada pembagian bahan pokok, tetapi juga santunan serta dukungan kebutuhan ibadah bagi masyarakat kurang mampu.
Secara edukatif, BAZNAS memastikan setiap bantuan yang diterima melalui mekanisme pendataan dan verifikasi penerima manfaat. Dengan sistem tersebut, distribusi bantuan diupayakan tepat sasaran dan sesuai prinsip syariah serta tata kelola yang baik.
Pihak Toko Galaxy (Hamri) menyebut donasi tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitar. Mereka berharap kontribusi ini dapat memberi manfaat nyata sekaligus mempererat hubungan antara dunia usaha dan lembaga sosial keagamaan.
BAZNAS Halmahera Tengah pun membuka ruang kolaborasi bagi masyarakat dan pelaku usaha lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam program Ramadan. Dengan sinergi yang terus terjalin, semangat berbagi di bulan suci diharapkan semakin tumbuh dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan umat.
Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Di Halmahera Tengah, ia menjadi momentum memperkuat jejaring kepedulian—dari toko lokal, lembaga zakat, hingga masyarakat penerima manfaat—agar keberkahan benar-benar dirasakan bersama.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Program Mushalla Berseri Hadir di Mojokerto, Tingkatkan Kenyamanan Ibadah Ramadan
Mojokerto — BAZNAS Kabupaten Mojokerto kembali menggulirkan Program Mushalla Berseri sebagai upaya meningkatkan kualitas sarana ibadah masyarakat menjelang bulan suci Ramadan. Bantuan berupa kipas tempel diserahkan kepada Mushalla Al Bahry di Dusun Pesanan, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (21/2/2026) pukul 16.30 WIB.
Penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari komitmen BAZNAS untuk menghadirkan fasilitas ibadah yang lebih layak dan nyaman bagi jamaah. Penambahan kipas tempel diharapkan mampu memperbaiki sirkulasi udara di dalam mushalla, sehingga jamaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk, terutama saat salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an selama Ramadan.
Pihak takmir mushalla menyambut baik program tersebut. Takmir Mushalla Al Bahry, Khotifin, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas perhatian yang diberikan.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih atas bantuan dari BAZNAS Kabupaten Mojokerto melalui Program Mushalla Berseri ini. Kipas tempel ini sangat bermanfaat, apalagi menjelang Ramadan di mana jamaah semakin ramai. Semoga menjadi amal jariyah bagi para muzaki,” ujarnya.
Ia menilai, dukungan fasilitas ibadah memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan jamaah dan semangat kebersamaan warga. Menurutnya, mushalla bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.
Khotifin juga mengajak masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS agar manfaatnya semakin luas dirasakan umat.
“Kami mengajak masyarakat untuk berzakat melalui BAZNAS Kabupaten Mojokerto karena programnya nyata dan langsung dirasakan masyarakat. Semoga semakin banyak mushalla dan masjid yang bisa merasakan manfaat seperti kami,” katanya.
Program Mushalla Berseri diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat kualitas layanan keagamaan di tingkat akar rumput. Di tengah meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, dukungan fasilitas sederhana seperti kipas tempel dinilai mampu menghadirkan kenyamanan sekaligus mempererat solidaritas sosial di lingkungan masyarakat.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI–Dubes Sudan Perkuat Poros Kemanusiaan, Fokus Pulihkan Layanan Kesehatan
BAZNAS RI–Dubes Sudan Perkuat Poros Kemanusiaan, Fokus Pulihkan Layanan Kesehatan
Jakarta – Kepedulian lintas negara menemukan momentumnya. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Sudan untuk Indonesia, H.E. Dr. Yassir Mohamed Ali Mohamed, di Kantor Pusat BAZNAS, Jakarta, Jumat (20/2/2026). Pertemuan ini menandai penguatan poros kemanusiaan Indonesia–Sudan di tengah krisis berkepanjangan yang masih melanda negara di kawasan Afrika Timur Laut tersebut.
Audiensi berlangsung hangat dan strategis. Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., bersama jajaran pimpinan menyambut langsung delegasi Sudan. Hadir pula Wakil Kepala Misi (DCM) Mr. Anwar Hassan Ali, Pimpinan BAZNAS Bidang Koordinasi Nasional Achmad Sudrajat, Lc., M.A., CFRM., Pimpinan BAZNAS Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan Prof. (HC) Dr. H. Zainulbahar Noor, S.E., M.Ec., Sekretaris Utama H. Subhan Cholid, Lc., M.A., serta Deputi I H. Mohamad Arifin Purwakananta, S.Ikom., M.Ikom., CFRM.
Fokus pembahasan tertuju pada kondisi terkini di Sudan yang masih dibayangi konflik dan darurat kemanusiaan. Krisis kesehatan menjadi sorotan utama, menyusul banyaknya fasilitas medis yang rusak serta keterbatasan obat-obatan dan tenaga kesehatan.
“Kami di BAZNAS menaruh keprihatinan yang sangat mendalam atas krisis kemanusiaan yang terus melanda saudara-saudara kita di Sudan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, BAZNAS berkomitmen untuk tidak membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah konflik yang masih tidak kondusif ini,” tegas Ketua BAZNAS RI.
Menurutnya, BAZNAS siap memelopori penguatan penghimpunan dan penyaluran bantuan kemanusiaan yang selama ini telah berjalan. Momentum audiensi akan diikuti dengan peningkatan intensitas kampanye publik guna memperluas partisipasi masyarakat Indonesia.
“Terutama untuk mendukung sektor kesehatan melalui penyediaan fasilitas medis dan obat-obatan yang sangat mendesak. Kami ingin memastikan amanah rakyat Indonesia tersalurkan secara tepat sasaran dan menjadi titik terang bagi kepulihan Sudan,” ujarnya.
Di sisi lain, Duta Besar Sudan menyampaikan apresiasi mendalam atas solidaritas Indonesia. Ia menilai dukungan konkret dari masyarakat Indonesia melalui BAZNAS menjadi energi moral sekaligus harapan baru bagi rakyat Sudan.
Menurut Dubes, pemulihan sektor kesehatan harus menjadi prioritas bersama. Banyak rumah sakit terdampak konflik dan tidak dapat beroperasi optimal. Bantuan berupa pembangunan kembali fasilitas kesehatan serta pengadaan alat medis dinilai mendesak untuk menekan angka fatalitas yang telah melampaui 200.000 jiwa, terutama di kalangan perempuan dan anak-anak.
Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan sinyal kuat bahwa diplomasi kemanusiaan Indonesia terus bergerak. Sinergi antara lembaga zakat nasional dan perwakilan negara sahabat diharapkan melahirkan langkah-langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Di tengah krisis global yang kian kompleks, BAZNAS RI menegaskan perannya bukan hanya sebagai pengelola dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga sebagai penggerak solidaritas umat lintas batas. Dari Jakarta untuk Khartoum, harapan itu kembali disemai—bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI Tetapkan Nisab Zakat Pendapatan 2026: Rp7,64 Juta per Bulan
Umat Dimudahkan Menghitung, Syariat Tetap Dijaga
Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia resmi menetapkan nilai nisab zakat pendapatan dan jasa untuk tahun 2026 melalui Keputusan Ketua BAZNAS RI Nomor 15 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 21 Februari 2026 di Jakarta.
Keputusan ini menjadi pedoman resmi bagi umat Islam dalam menunaikan zakat pendapatan secara tepat, sesuai syariat dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad, menetapkan bahwa nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 setara dengan 85 gram emas, atau dalam nilai rupiah sebesar:
Rp91.681.728 per tahun, atau
Rp7.640.144 per bulan (jika zakat ditunaikan setiap bulan).
Dengan demikian, seorang Muslim yang memiliki penghasilan minimal sebesar angka tersebut telah memenuhi syarat wajib zakat pendapatan.
Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa standar emas yang digunakan adalah emas 14 karat (58,33%–62,49% kandungan emas). Perhitungan harga emas mengacu pada rata-rata harga emas selama tahun 2025.
Adapun kadar zakat yang dikenakan tetap sebesar 2,5 persen dari penghasilan bruto.
Poin penting lainnya, objek zakat pendapatan dan jasa adalah pendapatan bruto, bukan setelah dikurangi kebutuhan pokok. Zakat ditunaikan saat pendapatan diterima dan dibayarkan melalui amil zakat resmi.
Penetapan ini tidak berdiri sendiri. Ia merujuk pada:
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014
Peraturan Menteri Agama Nomor 52 Tahun 2014 (dan perubahannya)
Hasil Rapat Pleno Pimpinan BAZNAS RI (21 Februari 2026)
Rapat Koordinasi bersama Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia
Artinya, kebijakan ini lahir dari musyawarah, pertimbangan syariah, serta evaluasi ekonomi terkini.
Dalam Islam, zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi bentuk penyucian harta dan jiwa. Allah Ta’ala berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At-Taubah: 103)
Nisab menjadi batas minimal agar kewajiban zakat tetap proporsional dan adil. Mereka yang belum mencapai nisab tidak dibebani kewajiban, sementara yang telah mencapai batas tersebut dianjurkan untuk segera menunaikan zakatnya tanpa menunda.
Penyesuaian nilai nisab setiap tahun juga menunjukkan bahwa syariat Islam tetap relevan dan kontekstual terhadap dinamika ekonomi.
Dengan berlakunya Keputusan Nomor 15 Tahun 2026 ini, maka Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 13 Tahun 2025 tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2025 resmi dicabut dan tidak berlaku lagi.
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, yakni 21 Februari 2026.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Kemenag Tegaskan: Tidak Ada Kebijakan Zakat untuk Program MBG
Isu Penggunaan Dana Umat Diluruskan, Penyaluran Wajib Sesuai Syariat dan Undang-Undang
Jakarta — Isu penggunaan dana zakat untuk mendukung program MBG yang beredar di tengah masyarakat akhirnya mendapat penegasan resmi. Kementerian Agama Republik Indonesia memastikan tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang menetapkan zakat sebagai sumber pendanaan program tersebut.
Klarifikasi ini disampaikan untuk menghentikan spekulasi sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap tata kelola dana umat yang selama ini diatur secara ketat oleh prinsip syariah dan peraturan perundang-undangan.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag RI, Thobib Al-Asyhar, menegaskan bahwa informasi yang menyebut adanya kebijakan zakat untuk MBG tidak benar.
“Tidak ada kebijakan zakat untuk MBG. Kami pastikan penyaluran zakat dilakukan sesuai syariat dan peraturan perundang-undangan,” tegas Thobib.
Menurut dia, zakat bukanlah dana yang dapat dialokasikan secara bebas untuk program di luar ketentuan agama. Zakat memiliki koridor syariah yang jelas dan rigid, sehingga setiap proses pengumpulan dan penyalurannya harus mengikuti prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
Secara teologis, zakat hanya diperuntukkan bagi delapan golongan penerima (asnaf) sebagaimana termaktub dalam QS. At-Taubah ayat 60: fakir, miskin, amil, muallaf, riqab (memerdekakan budak), gharimin (orang berutang), fisabilillah, dan ibnu sabil.
Selain landasan Al-Qur’an, pengelolaan zakat juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Regulasi tersebut menegaskan bahwa pendayagunaan zakat harus tepat sasaran dan sesuai ketentuan syariah.
Dengan demikian, setiap kebijakan yang menyangkut zakat tidak bisa berdiri di luar kerangka hukum dan agama.
Penegasan Kemenag ini dipandang penting di tengah meningkatnya sensitivitas publik terhadap pengelolaan dana keagamaan. Zakat bukan sekadar instrumen ibadah, melainkan juga instrumen keadilan sosial yang menyangkut hak kelompok rentan.
Karena itu, transparansi dan kepatuhan terhadap aturan menjadi fondasi utama.
Kemenag memastikan bahwa negara hadir untuk menjaga agar dana zakat tetap berada pada jalur yang benar—baik secara syariah maupun hukum positif. Setiap pengelolaan dana umat harus akuntabel dan tidak boleh keluar dari prinsip dasar yang telah ditetapkan.
Isu ini sekaligus menjadi pengingat bahwa literasi zakat perlu terus diperkuat. Di era arus informasi yang begitu cepat, klarifikasi berbasis data dan regulasi menjadi penting agar publik tidak terjebak pada asumsi yang keliru.
Di atas segalanya, pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun mendasar: zakat adalah amanah. Dan amanah itu hanya boleh ditunaikan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Ramadhan 1447 H: BTM dan Keimaman Masjid Baitul Ikhlas Langowan Gaungkan Spirit Kebangkitan Umat
Langowan, Minahasa — Ramadhan 1447 Hijriah, ruang digital Masjid Baitul Ikhlas Langowan tak sekadar dipenuhi ucapan seremonial. Yang hadir adalah pesan kebangkitan. Sebuah seruan reflektif tentang peran masjid sebagai pusat peradaban, bukan hanya tempat ritual.
Pengurus Badan Tamir Masjid (BTM) dan Keimaman Masjid Baitul Ikhlas Langowan secara resmi menyampaikan ucapan Ramadhan melalui media sosial resmi masjid. Dalam hitungan jam, pesan itu menyebar dan menuai respons dari jamaah hingga masyarakat Minahasa.
Ketua BTM Masjid Baitul Ikhlas, Syafaruddin Maddepungeng, yang juga menjabat sebagai Ketua NU Minahasa, menegaskan bahwa Ramadhan tahun ini harus menjadi momentum konsolidasi moral dan sosial umat.
“Ramadhan bukan hanya agenda spiritual tahunan. Ia adalah ruang pendidikan karakter, ruang penguatan solidaritas, dan ruang pembentukan peradaban,” kata Syafaruddin dalam pernyataan tertulisnya.
Menurut dia, tantangan umat hari ini bukan semata pada aspek ibadah individual, melainkan pada kemampuan kolektif membangun kepedulian sosial dan ketahanan moral di tengah arus globalisasi.
“Masjid harus menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan. Dari masjid lahir gerakan sosial, lahir literasi keagamaan yang mencerahkan, dan lahir kepemimpinan yang berintegritas,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Ramadhan sebagai titik balik—dari rutinitas menuju kesadaran, dari simbol menuju substansi.
Momentum Ramadhan juga direspons oleh pimpinan BAZNAS Minahasa dengan pesan yang bersifat edukatif dan strategis. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa zakat bukan hanya kewajiban ritual, melainkan instrumen ekonomi yang memiliki daya ubah nyata.
“Zakat adalah mekanisme distribusi kesejahteraan dalam Islam. Jika dikelola secara profesional dan transparan, zakat dapat menjadi solusi konkret bagi pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kesadaran zakat perlu dibangun dengan literasi yang kuat, agar masyarakat memahami bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan bukan sekadar amal personal, tetapi bagian dari sistem keadilan sosial.
BAZNAS, menurutnya, terus berkomitmen menghadirkan pengelolaan zakat yang akuntabel dan tepat sasaran, terutama selama Ramadhan yang identik dengan peningkatan kepedulian sosial.
Menariknya, ucapan Ramadhan yang disampaikan melalui media sosial menunjukkan transformasi dakwah yang adaptif. Masjid Baitul Ikhlas Langowan tidak lagi hanya mengandalkan mimbar fisik, tetapi juga memanfaatkan ruang digital sebagai medium edukasi dan syiar.
Pengurus BTM dan keimaman masjid menyiapkan rangkaian program Ramadhan: kajian ilmiah, pembinaan generasi muda, hingga gerakan sosial untuk dhuafa. Semuanya dirancang untuk memperkuat posisi masjid sebagai simpul peradaban.
Di tengah lanskap media sosial yang sering dipenuhi konten serba cepat dan dangkal, pesan yang disampaikan Masjid Baitul Ikhlas justru hadir dengan kedalaman reflektif. Ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi peluang membangun ulang fondasi spiritual dan sosial.
Ramadhan 1447 H di Langowan, dengan demikian, bukan hanya peristiwa kalender. Ia adalah panggilan untuk bangkit—secara personal, komunal, dan struktural.
BERITA21/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Ramadhan untuk Semua: Kakanwil Kemenag Sulut Gaungkan Syiar Digital dan Kepedulian Sosial
Manado — Ramadan 1447 Hijriah tak lagi sekadar ruang ritual, tetapi juga panggung transformasi sosial. Di tengah geliat kota Manado, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Ulyas Taha, menggaungkan pentingnya syiar digital dan kepedulian sosial dalam Podcast Ramadhan bertema “Ramadhan untuk Semua – Spirit Ibadah dan Kepedulian Sosial.”
Kegiatan yang berlangsung di Cinnamon Lounge, Aston Manado Hotel, Jumat (20/2/2026), menjadi edisi perdana Podcast Ramadhan hasil kolaborasi hotel tersebut dengan Yayasan Suara Madani Indonesia dan Syiar Muslimah Indonesia Sulawesi Utara. Formatnya dialogis, inklusif, dan menyasar publik digital—sebuah pendekatan yang menandai perubahan lanskap dakwah di era media sosial.
Dalam forum itu, Ulyas Taha menekankan bahwa Ramadan harus dipahami sebagai momentum penguatan dua dimensi sekaligus: spiritualitas personal dan solidaritas sosial. Ibadah, menurutnya, tak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga teruji dalam relasi horizontal dengan sesama.
“Kami mendorong para penyuluh agama untuk hadir lebih dekat di tengah masyarakat. Ramadhan harus menjadi momentum memperkuat spiritualitas sekaligus kepedulian sosial. Dengan dukungan media digital, pesan keagamaan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat secara inklusif,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan sekadar imbauan normatif. Ia menegaskan strategi konkret: optimalisasi peran penyuluh agama melalui siaran radio, livestreaming, podcast, serta pemanfaatan media sosial. Di tengah penetrasi digital yang kian dalam, dakwah konvensional dinilai perlu bertransformasi agar tetap relevan dan menjangkau generasi muda.
Podcast Ramadhan tersebut menghadirkan ruang dialog lintas elemen. Hadir Rektor IAIN Manado, Kapolresta Manado, Habib Umar bin Toha Alhabsy, H. Ayub Ali Al Bugis, Ketua Dewan Masjid Indonesia Manado, Ketua Syiar Muslimah Sulawesi Utara, serta General Manager Aston Manado Hotel. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Ramadan adalah milik bersama—ruang kolaborasi antara pemerintah, ulama, akademisi, aparat keamanan, hingga sektor swasta.
Diskursus yang mengemuka tak hanya soal teknis ibadah, tetapi juga tentang toleransi dan harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk Sulawesi Utara. Ramadan, dalam perspektif yang dibangun, menjadi jembatan penguat kohesi sosial—bukan sekat pemisah identitas.
Kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama. Bukan sekadar seremoni, tetapi simbol perjumpaan: antara gagasan dan tindakan, antara wacana dan komitmen. Di meja yang sama, para pemangku kepentingan menyatukan niat bahwa syiar Ramadan harus adaptif, edukatif, dan menyentuh kebutuhan zaman.
Di tengah arus digital yang kerap riuh dan terfragmentasi, pesan yang dibawa dari Cinnamon Lounge sore itu jelas: Ramadan adalah untuk semua. Ia harus hadir di ruang ibadah, di ruang sosial, dan kini—di ruang digital.
BERITA20/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Semarak Ramadan di Tanah Rencong, BAZNAS RI Hadirkan Hangat Kebersamaan di Meunasah Darurat Pidie Jaya
Pidie Jaya – Ramadan tahun ini datang dengan suasana berbeda bagi warga Desa Manyang Cut, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Di tengah proses pemulihan pascabanjir dan longsor, cahaya kebersamaan justru menyala terang dari sebuah meunasah darurat yang dibangun oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI.
Di bangunan sederhana itu, ratusan penyintas berkumpul untuk berbuka puasa bersama pada hari pertama Ramadan. Suasana hangat dan penuh haru menyelimuti kegiatan yang menjadi penanda bangkitnya harapan di tengah keterbatasan.
Meski sebagian warga masih bertahan di pengungsian dan rumah-rumah terdampak, antusiasme terpancar jelas. Anak-anak berlarian kecil menjelang azan magrib, para orang tua saling menyapa, dan senyum yang sempat redup perlahan kembali merekah.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, pada hari pertama Ramadan ini warga sudah dapat melaksanakan salat dengan aman dan nyaman di meunasah darurat. Selain itu, kegiatan berbuka puasa bersama juga dapat terlaksana dengan lancar dan baik,” ujar Saidah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, Ramadan bukan sekadar momentum ibadah, melainkan ruang pemulihan batin bagi masyarakat yang tengah bangkit dari musibah. Di tengah duka dan kehilangan, kebersamaan menjadi energi kolektif untuk saling menguatkan.
“Buka puasa bersama ini menjadi ruang temu bagi warga yang selama ini terpencar di sejumlah titik pengungsian dan rumah terdampak. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat saling menguatkan dan berbagi cerita tentang kondisi yang mereka alami,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, BAZNAS menyediakan berbagai menu berbuka, termasuk ayam goreng khas lokal Aceh yang disambut antusias warga. Hidangan sederhana itu terasa istimewa, bukan semata karena rasanya, melainkan karena ia hadir sebagai simbol perhatian dan kepedulian.
Saidah menegaskan, terselenggaranya kegiatan ini merupakan wujud nyata amanah para muzaki dari seluruh Indonesia. Dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun BAZNAS disalurkan langsung untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak bencana.
“Tanpa dukungan para muzaki dari seluruh Indonesia, kegiatan berbuka puasa bersama ini mungkin belum bisa terlaksana dengan baik. Amanah yang dititipkan kepada BAZNAS, kami wujudkan dalam bentuk berbagai layanan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, BAZNAS juga telah menggelar salat tarawih berjemaah di Meunasah Darurat BAZNAS yang mampu menampung lebih dari 200 orang. Fasilitas tersebut akan terus difungsikan hingga Idulfitri sebagai pusat kegiatan ibadah, distribusi bantuan, serta ruang kebersamaan warga selama masa pemulihan.
Di Tanah Rencong yang pernah berkali-kali diuji bencana, Ramadan kali ini menjadi saksi bahwa solidaritas tak pernah surut. Dari zakat yang ditunaikan, dari doa yang dipanjatkan, hingga dari sepiring hidangan berbuka—semuanya menjelma menjadi pesan sederhana: mereka tidak sendiri.
BERITA20/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Ramadan 1447 H: Masjid Imam Bonjol Lotta Gaungkan Syiar Digital, BAZNAS Minahasa Dorong Penguatan UPZ Masjid
Minahasa – Semangat menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah terasa kian kuat di berbagai lini. Dari mimbar masjid hingga ruang digital, syiar Islam digaungkan secara serentak. Salah satunya melalui akun resmi Facebook Masjid Imam Bonjol Lotta yang menayangkan ucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa dari jajaran Badan Takmir Masjid (BTM).
Ketua BTM, Aris Laeladi, menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membersihkan hati dan memperkuat solidaritas sosial. Sekretaris Fadly Afilien menegaskan pentingnya dakwah digital agar pesan masjid menjangkau generasi muda, sementara Bendahara Luswarmin Bagu berharap Ramadan menjadi titik kebangkitan partisipasi jamaah dalam memakmurkan masjid.
Langkah dakwah melalui media sosial ini mendapat apresiasi dari BAZNAS Kabupaten Minahasa. Pimpinan BAZNAS Minahasa menilai, kehadiran masjid di ruang digital merupakan bagian dari transformasi dakwah yang adaptif di era teknologi.
“Kami mengapresiasi pengurus masjid yang aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan syiar. Ini penting untuk membangun kesadaran umat, termasuk dalam penguatan literasi zakat,” ujarnya.
Memasuki Ramadan, BAZNAS Minahasa juga mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh masjid di wilayah Minahasa agar segera melaporkan dan mengusulkan pembentukan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) masjid. Bagi kepengurusan UPZ yang masa berlakunya telah habis atau tidak aktif, diminta segera melakukan pembaruan dan melapor ke BAZNAS.
Menurutnya, Ramadan merupakan periode strategis dalam penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Tanpa sistem yang tertata melalui UPZ resmi, potensi zakat daerah tidak akan terkelola secara optimal.
“Ramadan adalah puncak pengumpulan zakat. Karena itu, setiap masjid perlu memiliki UPZ yang aktif dan terdaftar agar pengelolaan ZIS berjalan tertib, transparan, dan sesuai regulasi,” tegasnya.
Secara tugas pokok dan fungsi, BAZNAS bertanggung jawab dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, hingga pelaporan pengelolaan zakat. UPZ menjadi perpanjangan tangan resmi di tingkat masjid untuk memastikan dana umat terdata dengan baik dan disalurkan tepat sasaran kepada delapan golongan mustahik.
Dengan sistem yang terintegrasi, pengumpulan zakat fitrah dan zakat mal selama Ramadan tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga akuntabel dari sisi tata kelola.
BAZNAS Minahasa menegaskan, penguatan UPZ bukan sekadar administrasi, melainkan upaya menjaga amanah umat dan membangun kepercayaan publik.
“Jika tata kelola kuat, maka dampaknya juga kuat. Zakat bisa menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan bantuan sosial yang lebih terarah,” jelasnya.
Sinergi antara masjid dan BAZNAS di momentum Ramadan ini menunjukkan bahwa dakwah tak hanya berhenti pada ucapan dan simbol, tetapi bergerak ke arah penguatan sistem dan dampak sosial.
Dari unggahan ucapan Ramadan di media sosial hingga konsolidasi pembentukan UPZ, semuanya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan Ramadan sebagai gerakan kolektif membangun kepedulian, transparansi, dan kesejahteraan umat.
Ramadan 1447 H pun bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan momentum konsolidasi gerakan zakat yang lebih profesional, terstruktur, dan berdaya guna di Minahasa.
BERITA20/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Semarak Digital Sambut Ramadan 1447 H, BTM Masjid Al Haq Tondano Gaungkan Spirit Kebangkitan Umat Lewat Media Sosial
Tondano 20/2/2026— Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Badan Takmir Masjid (BTM) Masjid Al Haq Tondano menghadirkan pesan yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial. Melalui desain ucapan “Marhaban ya Ramadhan” yang dipublikasikan lewat akun resmi Facebook Masjid Al Haq Wawalintouan, semangat menyambut bulan suci dipancarkan dengan nuansa profesional, elegan, dan penuh makna.
Pesan yang diangkat dalam publikasi tersebut berbunyi: “Ramadhan datang bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi untuk membangunkan hati yang lama terlelap.” Sebuah refleksi yang mengajak umat Islam tidak sekadar menjalankan ritual, tetapi juga menghidupkan kesadaran sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Ketua BTM Masjid Al Haq, Irwan Saleh, S.Sos, menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum transformasi diri dan penguatan ukhuwah.
“Ramadan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah panggilan untuk memperbaiki diri, memperkuat persaudaraan, dan menghidupkan kembali semangat berbagi. Kami ingin Masjid Al Haq menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan umat,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris BTM, Hakim S. Hamid, S.Pd, menyampaikan bahwa pemanfaatan media sosial merupakan bagian dari dakwah yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Media sosial adalah ruang dakwah masa kini. Melalui akun resmi Masjid Al Haq Wawalintouan, kami ingin menghadirkan pesan-pesan yang menyejukkan, edukatif, dan membangun kesadaran kolektif umat. Ramadan adalah saat terbaik untuk menguatkan literasi keislaman sekaligus literasi sosial,” ungkapnya.
Bendahara BTM, Merwin Talib, turut menambahkan bahwa Ramadan juga menjadi momentum untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara transparan dan profesional.
“Kami mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai bulan berbagi. Penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masjid adalah langkah konkret agar potensi zakat dapat dikelola dengan amanah dan berdampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.
Langkah aktif BTM Masjid Al Haq dalam memanfaatkan media sosial mendapat apresiasi dari Pimpinan BAZNAS Kabupaten Minahasa. Menurutnya, transformasi digital masjid merupakan kebutuhan sekaligus peluang besar dalam memperluas jangkauan dakwah dan gerakan sosial.
Pimpinan BAZNAS Minahasa menyampaikan:
“Kami mengapresiasi langkah Masjid Al Haq Wawalintouan yang aktif mengelola media sosial secara profesional. Ini menunjukkan bahwa masjid hari ini bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat informasi, edukasi, dan pemberdayaan umat. Aktivasi media sosial masjid menjadi sarana penting untuk mengedukasi masyarakat tentang zakat, infak, dan sedekah.”
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masjid di Kabupaten Minahasa untuk terus menghidupkan kegiatan sosial, terutama penguatan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sebagai bagian dari sistem pengelolaan zakat nasional yang terintegrasi.
“Kami mengajak setiap masjid untuk terus aktif, bukan hanya dalam kegiatan ibadah, tetapi juga dalam gerakan sosial. Penguatan UPZ di masjid-masjid akan mempercepat distribusi manfaat zakat kepada mustahik dan memperluas dampak kesejahteraan umat. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memulainya,” tegasnya.
Kehadiran desain ucapan Ramadan yang profesional dan inspiratif ini bukan sekadar simbol seremonial, melainkan penegasan bahwa masjid mampu bertransformasi menjadi pusat peradaban yang adaptif di era digital.
Ramadan 1447 H pun diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan spiritual sekaligus kebangkitan sosial — di mana masjid, media sosial, dan gerakan zakat bersinergi membangun umat yang lebih peduli, lebih berdaya, dan lebih bermakna.
Marhaban ya Ramadan. Saatnya membangunkan hati, menguatkan solidaritas, dan menghidupkan masjid sebagai pusat cahaya bagi masyarakat.
BERITA20/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
“Antara Imsak dan Subuh: Di Mana Sebenarnya Awal Puasa Dimulai?”
Ramadhan selalu datang membawa suasana yang khas. Selain gema tilawah dan cahaya lampu masjid yang tak pernah padam hingga larut malam, ada satu tradisi yang begitu lekat dalam ingatan kolektif umat Islam di Indonesia: berkumandangnya seruan “Imsak” menjelang fajar.
Di banyak kampung hingga kota besar, suara itu menjadi alarm spiritual. Sendok terakhir segera diletakkan. Gelas air diteguk perlahan. Suasana sahur yang semula riuh berubah hening dan khusyuk. Namun setiap tahun, diskusi yang sama kembali muncul: apakah waktu imsak benar-benar batas akhir makan sahur?
Jika merujuk pada ketentuan syariat, batas dimulainya puasa bukanlah waktu imsak, melainkan terbitnya fajar shadiq, yaitu fajar kedua yang menandai masuknya waktu Subuh.
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…” (QS. Al-Baqarah: 187)
Para ulama klasik menegaskan hal tersebut:
Imam Al-Mawardi dalam Iqna’ menyebutkan bahwa waktu puasa adalah sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari.
Musthafa al-Khin dalam Al-Fiqh al-Manhaji mendefinisikan puasa sebagai menahan diri dari pembatal sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari disertai niat.
Artinya, secara hukum fiqih, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum hingga benar-benar masuk waktu Subuh, bukan ketika imsak diumumkan.
Penjelasan serupa juga banyak dikupas dalam kajian-kajian fikih Ramadhan oleh media dan lembaga Islam terpercaya seperti NU Online dan Rumaysho, yang menegaskan bahwa imsak bukan batas syar’i, melainkan bentuk kehati-hatian.
Mengapa Ada Jadwal Imsakiyah?
Lalu, mengapa di Indonesia ada jadwal imsakiyah yang biasanya ditetapkan sekitar 10 menit sebelum Subuh?
Di sinilah kearifan ulama Nusantara berbicara.
Waktu imsak bukanlah hukum wajib, melainkan ihtiyath (langkah kehati-hatian). Tujuannya:
- Menghindari keraguan apakah fajar sudah terbit atau belum.
- Memberi jeda agar umat tidak terburu-buru menyelesaikan sahur.
- Menjaga kesempurnaan ibadah puasa.
Tradisi ini tidak ditemukan di semua negara Muslim. Ia tumbuh dari kultur religius masyarakat Indonesia yang sangat menghormati nasihat ulama. Para alim kita memandang umat dengan kasih sayang—yandhuruunal ummah bi ‘ainir rahmah—agar ibadah tidak rusak karena ketidaktahuan atau kelalaian.
Imsak adalah “lampu kuning” spiritual. Ia bukan palang pintu, melainkan pengingat.
Antara Fiqih dan Kebijaksanaan
Secara syariat, batas makan sahur adalah azan Subuh atau terbitnya fajar shadiq. Namun mengikuti jadwal imsak merupakan pilihan bijak untuk menjaga ketenangan hati.
Karena hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menata disiplin dan ketundukan.
Ramadhan mengajarkan ketepatan waktu, kesadaran, dan kejujuran pada diri sendiri. Ketika seseorang berhenti makan saat imsak sebagai bentuk kehati-hatian, itu adalah ekspresi ketakwaan. Namun ketika ia masih makan sebelum azan Subuh dengan keyakinan waktu belum masuk, itu pun sah secara fiqih.
Yang terpenting adalah ilmu, bukan sekadar kebiasaan.
Sahur: Momen Berkah yang Jangan Disia-siakan
Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam sahur terdapat keberkahan. Maka jadikan waktu sahur sebagai ruang doa, bukan hanya ruang makan.
Tenang. Terjadwal. Tidak tergesa-gesa.
Karena puasa yang dimulai dengan kesadaran akan lebih ringan dijalani hingga magrib tiba.
Ramadhan adalah bulan ibadah dan juga bulan kepedulian sosial.
Mari sempurnakan ibadah dengan memperkuat solidaritas:
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kabupaten Minahasa.
Tunaikan fidyah dan dana sosial keagamaan lainnya secara amanah dan tepat sasaran.
Perkuat kepedulian sosial melalui ZIS DSKL di BAZNAS Kabupaten Minahasa .
Bayar zakat dan fidyah secara digital melalui:
https://kabminahasa.baznas.go.id/bayarzakat
Hubungi Layanan Muzaki BAZNAS Kabupaten Minahasa:
0823 3275 5860
Kunjungi juga:
https://kabminahasa.baznas.go.id/
Ramadhan bukan hanya tentang kapan kita berhenti makan.
Ia tentang kapan kita mulai lebih taat, lebih peduli, dan lebih sadar.
Jadikan imsak sebagai pengingat.
Jadikan Subuh sebagai saksi.
Dan jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik menuju takwa yang lebih nyata.
#RamadanPenuhBerkah
#NiatPuasaRamadan
#Imsak
#KeutamaanRamadan
BERITA20/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS Tubaba Salurkan Bantuan Tahap II Rp62 Juta untuk Korban Bencana di Aceh, Total Tembus Rp632 Juta
Tulang Bawang Barat — Komitmen kemanusiaan kembali ditegaskan Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba). Pada Kamis, 19 Februari 2026, lembaga ini menyerahkan bantuan bencana Sumatera tahap II senilai Rp62.000.000 yang akan didistribusikan langsung kepada penerima manfaat di wilayah Aceh.
Bantuan tersebut merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang sebelumnya telah disalurkan sebesar Rp570.000.000 ke tiga wilayah terdampak bencana di Sumatera. Dengan demikian, total bantuan yang telah digelontorkan BAZNAS Tubaba mencapai Rp632.000.000—sebuah angka yang mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat.
Penyerahan bantuan secara simbolis turut dihadiri Asisten I Pemerintah Daerah Untung Budiona, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Tulang Bawang Barat, serta BPBD Kabupaten Tulang Bawang Barat. Kehadiran unsur pemerintah daerah ini menjadi penegas bahwa aksi kemanusiaan bukan kerja satu lembaga, melainkan kolaborasi lintas sektor.
Ketua BAZNAS Tubaba H. Purwanto menyampaikan, dana yang disalurkan merupakan amanah masyarakat yang dihimpun melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang terkumpul disalurkan secara terukur dan akuntabel kepada mereka yang membutuhkan.
“Ini adalah bentuk kepedulian masyarakat Tulang Bawang Barat kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Semoga bantuan tahap kedua ini dapat meringankan beban dan mempercepat pemulihan kondisi masyarakat terdampak,” ujarnya.
Ia didampingi Wakil Ketua I KH. Jumantoro dan Wakil Ketua III H. Supriyanto Hadi dalam proses pelepasan bantuan tersebut. Pendistribusian direncanakan langsung menyasar titik-titik terdampak agar bantuan tepat guna dan tepat sasaran.
Secara terpisah, perwakilan pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas langkah cepat BAZNAS Tubaba. Menurut mereka, sinergi antara lembaga zakat, pemerintah daerah, dan OPD terkait menjadi model kolaborasi yang efektif dalam penanganan bencana.
Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh, telah berdampak pada ribuan warga. Dalam situasi darurat, kebutuhan mendesak seperti logistik, kebutuhan pokok, dan dukungan pemulihan menjadi prioritas.
Melalui program kemanusiaan ini, BAZNAS Tubaba menegaskan komitmennya untuk tidak hanya hadir pada fase tanggap darurat, tetapi juga berkontribusi dalam tahap rehabilitasi dan pemulihan. Solidaritas lintas daerah diharapkan terus menguat, membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal batas geografis.
Dari Tulang Bawang Barat untuk Aceh, bantuan itu membawa pesan sederhana namun kuat: duka satu daerah adalah duka bersama, dan gotong royong tetap menjadi kekuatan utama bangsa.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Gelombang Jamaah Padati Malam Perdana Tarawih di Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo Jaton
Tondano, 18/2/2026 — Malam pertama Ramadan 1447 Hijriah di Kampung Jawa, Tondano, ditandai dengan lautan jamaah yang memadati Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo, Rabu malam. Sejak selepas Isya, arus kedatangan warga tak terputus. Saf salat meluber hingga ke serambi dan sisi samping masjid, mencerminkan antusiasme yang nyaris tak terbendung.
Pemandangan itu bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi penanda kuat bahwa ruang-ruang spiritual masih menjadi pusat gravitasi sosial masyarakat Kampung Jawa. Anak-anak datang bersama orang tua, remaja membantu merapikan saf, sementara pengurus masjid sigap mengatur ketertiban jamaah.
Sebelum Salat Tarawih dimulai, Ketua Badan Takmir Masjid (BTM) Al-Falah Kyai Modjo Zulkifli Pulukadang menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi diri. Ia mengingatkan jamaah bahwa ibadah bukan hanya soal kuantitas, tetapi kualitas—tentang keikhlasan, disiplin, dan komitmen menjaga ukhuwah.
“Ramadan adalah ruang pendidikan. Di sinilah kita ditempa untuk lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah,” ujarnya di hadapan jamaah yang memenuhi setiap sudut masjid.
Lurah Kampung Jawa Hidayat Nurhamidin. dalam sambutannya menggarisbawahi aspek sosial dari momentum tersebut. Menurutnya, kepadatan jamaah pada malam pertama Tarawih menunjukkan kohesi sosial yang masih terjaga di tengah dinamika zaman. Ia mengajak masyarakat menjaga suasana kondusif dan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan moral generasi muda.
Fenomena membludaknya jamaah pada malam perdana Tarawih kerap menjadi indikator semangat awal Ramadan. Namun, konsistensi hingga penghujung bulan suci kerap menjadi tantangan tersendiri. Pengurus masjid berharap partisipasi yang tinggi ini tidak hanya terjadi pada malam pembuka, melainkan berlanjut hingga malam-malam terakhir, termasuk pada fase sepuluh hari terakhir yang sarat makna spiritual.
Malam pertama Tarawih mengajarkan nilai disiplin kolektif—datang tepat waktu, merapikan saf, menjaga kebersihan, serta menghormati sesama jamaah. Masjid berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran sosial dan penguatan karakter.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari dalam masjid menciptakan suasana khidmat. Di tengah padatnya jamaah, ketertiban tetap terjaga. Warga tampak larut dalam kekhusyukan, seolah menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar kalender keagamaan, melainkan momentum pembaruan spiritual.
Dari Kampung Jawa Tondano, malam itu, cahaya Ramadan menyala terang. Pertanyaannya kini: mampukah semangat malam pertama ini bertahan hingga akhir?
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI Berdayakan Pedagang Nasi Kuning di Banjarmasin, Omzet Tembus Rp1 Juta per Hari
Jakarta – Ikhtiar pemberdayaan ekonomi berbasis zakat kembali menunjukkan hasil nyata. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI melalui program BAZNAS Microfinance Desa (BMD) Banjarmasin berhasil mengangkat usaha Rabiyatul Adawiyah, pedagang nasi kuning dan lontong di Banjarmasin, hingga mampu meraup omzet Rp1 juta per hari.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan zakat secara produktif tidak sekadar bersifat karitatif, melainkan mampu mendorong transformasi ekonomi mustahik secara berkelanjutan.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasinya atas perkembangan usaha binaan tersebut.
“Keberhasilan Rabiyatul menunjukkan zakat yang dikelola secara produktif dapat mendorong kemandirian ekonomi. BAZNAS ingin memastikan para mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga tumbuh dan berkembang melalui usaha yang berkelanjutan,” ujar Saidah dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Program BAZNAS Microfinance Desa dirancang tidak hanya memberikan tambahan modal usaha, tetapi juga menghadirkan pendampingan intensif agar pelaku usaha kecil mampu mengelola dan mengembangkan bisnisnya secara profesional.
Salah satu keunggulan program ini adalah skema pembiayaan tanpa bunga. Pendekatan tersebut dinilai memberi ruang gerak lebih luas bagi pelaku UMKM untuk berkembang tanpa beban cicilan berbunga.
“Bagi kami, pembiayaan bukan sekadar modal. Ini adalah upaya menguatkan ekonomi keluarga dan menghadirkan keberkahan melalui usaha yang halal,” tegas Saidah.
Menurutnya, BAZNAS akan terus memperluas jangkauan program BMD agar semakin banyak mustahik yang dapat meningkatkan skala usaha dan pada akhirnya bertransformasi menjadi muzaki.
“Dari penerima manfaat zakat bisa menjadi pemberi zakat. Jika itu terwujud, kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan akan semakin besar,” tambahnya.
Rabiyatul Adawiyah mengaku merasakan langsung dampak program tersebut. Sebelum mendapatkan pembiayaan dari BAZNAS, omzet hariannya berkisar Rp800 ribu. Kini, setelah mendapatkan tambahan modal dan perbaikan fasilitas usaha, pendapatannya meningkat menjadi Rp1 juta per hari.
“Dulu sebelum dibantu BAZNAS omzet harian cuma Rp800 ribu, kini alhamdulillah meningkat menjadi Rp1 juta per hari seiring dengan perbaikan fasilitas usaha dan penambahan kapasitas produksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bantuan tahap awal digunakan untuk memperbaiki atap warung yang sudah rusak, sementara sisanya dimanfaatkan untuk menambah stok bahan baku agar produksi lebih maksimal.
Rabiyatul menilai skema pembiayaan tanpa bunga sangat membantu pedagang kecil seperti dirinya. “Program BAZNAS ini membantu sekali. Tidak pakai bunga, hanya infak. Dan infak itu juga membuat kita punya ruang untuk bersedekah,” katanya.
Keberhasilan Rabiyatul menjadi gambaran bagaimana zakat, jika dikelola secara terstruktur dan produktif, mampu mendorong peningkatan pendapatan keluarga sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Model pemberdayaan seperti BMD dinilai relevan dalam menjawab tantangan kemiskinan struktural, terutama bagi pelaku usaha mikro yang kerap terhambat akses permodalan formal.
Di tengah dinamika ekonomi, kisah Rabiyatul menjadi representasi bahwa intervensi yang tepat—modal tanpa bunga, pendampingan usaha, serta penguatan nilai spiritual—dapat mengubah usaha kecil menjadi sumber penghidupan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Ramadan Tiba! BAZNAS RI Terjunkan 78 Santri ke 26 Desa, Siap Cetak Santripreneur Tangguh
Jakarta – Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI kembali menghadirkan terobosan. Melalui Direktorat Pendayagunaan dan Layanan UPZ dan CSR, Divisi Program Ekonomi Pedesaan, BAZNAS meluncurkan program bertajuk “Santri Memberdayakan Desa”—sebuah gerakan kolaboratif yang mengawinkan penguatan spiritualitas dengan praktik nyata agribisnis di desa.
Program ini bukan sekadar seremoni Ramadan. Sebanyak 78 santri terpilih akan diterjunkan ke 26 desa strategis yang tersebar di delapan provinsi: Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka dibagi ke dalam 26 kelompok, masing-masing beranggotakan tiga orang, untuk menjalani misi pemberdayaan selama dua pekan dengan metode live in atau tinggal bersama masyarakat binaan.
Peluncuran program dilakukan secara daring pada Kamis (19/2/2026) oleh Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan.
“Program Santri Memberdayakan Desa ini kami hadirkan untuk meningkatkan sisi spiritualitas binaan di lokus Balai Ternak, ZCD, dan Lumbung Pangan. Kami ingin para petani dan peternak kita tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketangguhan iman yang amanah dan produktif,” ujar Saidah.
BAZNAS menaruh harapan besar pada para santri tingkat akhir maupun alumni pesantren berusia 17–22 tahun ini. Mereka dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki bekal ilmu agama, para santri dinilai memiliki energi dan idealisme sebagai agen perubahan di desa.
Di lapangan, mereka akan berperan ganda. Pertama, sebagai mentor religi yang mengisi pengajian, kultum subuh, hingga literasi keagamaan bagi masyarakat desa. Kedua, sebagai pembelajar aktif yang menyerap ilmu tata kelola agribisnis dan UMKM secara langsung.
“Lokasi program dipilih karena unit usaha pertanian, mikro, dan peternakannya sudah berjalan stabil. Ini akan menjadi pusat studi tiru bagi para santri,” jelas Saidah.
Sebanyak 26 titik tersebut tersebar di 26 desa, 12 kecamatan, dan 25 kabupaten/kota. Di sana, para santri akan mendampingi petani lumbung pangan, pelaku UMKM, hingga peternak di Balai Ternak BAZNAS.
Selama dua pekan Ramadan, para santri tak hanya berdakwah, tetapi juga ikut mengelola usaha: mulai dari manajemen pakan ternak, distribusi hasil panen, pencatatan keuangan sederhana, hingga strategi pemasaran produk desa.
Konsep ini menjadikan desa sebagai laboratorium nyata. Santri belajar langsung tentang manajemen usaha berbasis komunitas, sementara mustahik mendapatkan sentuhan pembinaan spiritual yang lebih intens.
Hasil akhirnya, BAZNAS menargetkan lahirnya generasi baru santripreneur—santri yang tidak hanya piawai membaca kitab, tetapi juga cakap mengelola lumbung pangan dan usaha ternak secara profesional.
Kehadiran santri di tengah masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana Ramadan yang lebih hidup dan bermakna. Ibadah semakin kuat, ekonomi pun semakin berdaya.
Dengan pendekatan humanis dan religius, program ini menjadi bukti bahwa zakat bukan hanya soal distribusi bantuan, melainkan investasi jangka panjang untuk kemandirian umat.
Ramadan kali ini, desa tak hanya dipenuhi gema tadarus dan takbir. Di baliknya, ada gerak nyata membangun ekonomi—dari sawah, kandang ternak, hingga ruang-ruang pengajian.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Sholat Tasbih Bergema dari Tondano, Disiarkan Live dan Hidupkan Spirit Ramadan
Tarawih 1 Juz per Malam di Tondano, Tiga Malam Ramadan Tuntas 3 Juz
TONDANO, 20/2/2026 — Semangat Ramadan di Rumah Tahfidz Raudhatul Qur’an Tondano kian membara. Tidak hanya menggelar Sholat Tasbih berjamaah yang disiarkan langsung melalui akun Facebook Rumah Tahfidz Tondano, kini kegiatan Sholat Tarawih pun menjadi magnet spiritual yang menyedot perhatian jamaah.
Yang membuatnya istimewa, Tarawih dilaksanakan dengan target 1 juz setiap malam. Memasuki malam ke-3 bulan suci Ramadan, tercatat sudah 3 juz Al-Qur’an yang berhasil diselesaikan secara berjamaah.
Program ini dipimpin langsung oleh Imam sekaligus Pengasuh Rumah Tahfidz, Ust. Nawir S. Iki Al Hafidz. Dengan bacaan yang tartil dan hafalan yang kuat, suasana Tarawih terasa khusyuk sekaligus penuh semangat tilawah.
Program 1 juz per malam bukan sekadar target kuantitas, tetapi bagian dari pendidikan ruhani yang terstruktur. Jamaah diajak untuk tidak hanya mendengar bacaan Al-Qur’an, tetapi juga memahami maknanya melalui tausiyah singkat yang disampaikan usai sholat.
Memasuki malam ke-3 Ramadan dan telah menyelesaikan 3 juz, jamaah merasakan capaian spiritual yang progresif. Tradisi ini diharapkan berlanjut hingga khatam 30 juz di penghujung Ramadan.
Pimpinan Rumah Tahfidz Raudhatul Qur’an Tondano, Hj. Jabbar Tipu, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari visi besar membangun masyarakat Qur’ani.
“Kami ingin Ramadan ini benar-benar menjadi momentum kebangkitan ruhani. Dengan 1 juz setiap malam, jamaah bukan hanya melaksanakan Tarawih, tetapi juga hidup bersama Al-Qur’an selama sebulan penuh,” ujarnya.
Selain Tarawih, kegiatan Sholat Tasbih yang juga disiarkan secara langsung terus mendapat respons positif dari masyarakat. Ibadah sunnah yang sarat dzikir ini menjadi pelengkap penguatan spiritual di bulan penuh ampunan.
Keutamaan Sholat Tasbih terletak pada 300 bacaan tasbih dalam empat rakaat, yang menjadi sarana pembersihan diri dan penguatan koneksi spiritual dengan Allah. Sementara Tarawih dengan bacaan 1 juz per malam melatih ketahanan fisik, konsentrasi, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Kombinasi keduanya menjadikan Ramadan di Rumah Tahfidz Raudhatul Qur’an Tondano bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan gerakan pembinaan iman yang sistematis dan berkelanjutan.
Pimpinan BAZNAS Kabupaten Minahasa turut memberikan apresiasi atas konsistensi program tersebut. Menurutnya, penguatan spiritual melalui tilawah Al-Qur’an dan ibadah sunnah memiliki dampak besar terhadap pembentukan karakter umat.
“Ketika masyarakat terbiasa dengan Al-Qur’an setiap malam, maka nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial akan tumbuh. Ramadan adalah sekolah karakter terbaik bagi umat Islam,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sinergi antara ibadah dan kepedulian sosial—seperti zakat, infak, dan sedekah—akan melahirkan masyarakat yang kuat secara spiritual dan mandiri secara sosial.
Dengan capaian 3 juz di tiga malam pertama, semangat jamaah semakin terpacu untuk menuntaskan 30 juz hingga akhir Ramadan. Siaran langsung di media sosial pun memperluas jangkauan dakwah, memungkinkan masyarakat dari berbagai daerah ikut merasakan suasana ibadah.
Dari Tondano, gema ayat-ayat suci Al-Qur’an terus mengalun. Ramadan bukan hanya dijalani, tetapi dihidupkan—ayat demi ayat, juz demi juz—menuju hati yang lebih bersih dan iman yang semakin kokoh.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
BAZNAS RI Perpanjang Layanan Kesehatan Gratis ‘Selter Ojek Sehat’ Selama Ramadan, Target Naik Jadi 3.000 Penerima Manfaat
Jakarta - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memperpanjang layanan kesehatan gratis “Selter Ojek Sehat” (SOS) selama bulan Ramadan. Program yang digagas melalui Rumah Sehat BAZNAS ini ditujukan bagi pengemudi ojek, sopir angkutan umum, hingga masyarakat umum yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan saat berpuasa.
Perpanjangan dilakukan karena tingginya kebutuhan layanan serta respons positif dari masyarakat sejak program ini diluncurkan.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, mengatakan awalnya program ini hanya menyasar 1.000 penerima manfaat. Namun selama Ramadan, target ditingkatkan hingga 3.000 orang.
“Ini adalah program Ramadan. Awalnya dilaksanakan sebelum Ramadan, lalu kami perpanjang selama bulan Ramadan karena kebutuhannya memang cukup banyak dan antusiasme masyarakat juga tinggi,” ujar Saidah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/2/2026).
BAZNAS juga memperluas jangkauan dengan membuka titik layanan baru di Terminal Kampung Melayu. Lokasi ini dipilih karena dinilai memiliki karakteristik penerima manfaat yang lebih beragam.
Menurut Saidah, layanan di terminal menyasar sopir angkot, sopir busway, pengemudi Transjakarta, ojek online, hingga masyarakat umum yang ingin memastikan kondisi tubuh tetap prima selama menjalani ibadah puasa.
“Kami berharap dengan adanya layanan ini, kondisi kesehatan selama puasa tetap terjaga. Kalau ada keluhan seperti sakit, pegal, atau kekurangan vitamin, bisa langsung meminta pemeriksaan kepada dokter,” jelasnya.
Untuk layanan di Terminal Kampung Melayu, BAZNAS menargetkan 100 penerima manfaat per hari dengan waktu pelayanan pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Meski demikian, petugas tetap melayani warga meski jumlah peserta melampaui target.
“Kami tidak menolak siapa pun yang ingin berobat. Selama waktu dan anggaran masih tersedia, layanan akan terus kami lanjutkan,” tegas Saidah.
Selain layanan keliling, masyarakat juga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan di Rumah Sehat BAZNAS Indonesia di kawasan Jatinegara yang berstatus Klinik Pratama. Fasilitas ini menyediakan pemeriksaan umum, layanan kesehatan gigi, hingga USG.
Harapannya, program ini tak hanya menjadi solusi sesaat selama Ramadan, tetapi juga membuka akses kesehatan yang lebih luas bagi pekerja sektor informal yang rentan terhadap risiko kesehatan akibat aktivitas harian di jalan.
Sarjono (68), pengemudi ojek online yang telah lima tahun bekerja di jalanan, mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan ini.
“Terima kasih BAZNAS. Saya senang sekali ada layanan kesehatan untuk ojek dan sopir. Kalau bisa dirutinkan, misalnya sebulan sekali, karena pekerjaan kami sering di jalan dan cukup berisiko,” katanya.
Hal serupa disampaikan Agusman (45), pengemudi mikrobus Jaklingko yang sudah enam tahun bekerja. Ia baru pertama kali memanfaatkan layanan tersebut.
“Ini sangat menolong dan gratis. Kalau bisa ditambah lagi layanannya supaya semakin banyak yang merasakan manfaat,” ujarnya.
Dengan target penerima manfaat yang meningkat tiga kali lipat selama Ramadan, BAZNAS berharap program Selter Ojek Sehat mampu menjadi ikhtiar nyata menjaga kesehatan masyarakat kecil di tengah aktivitas puasa yang padat dan melelahkan.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa
Rumah Korban Kebakaran Mulai Dibangun, BAZNAS Karo Letakkan Batu Pertama di Kuta Buluh Gugung
Karo – Harapan baru mulai berdiri di atas puing musibah. BAZNAS Kabupaten Karo melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan rumah milik Frenta Tarigan, korban kebakaran yang terjadi pada 13 Januari 2026 lalu di Kecamatan Kuta Buluh Gugung, Kamis (18/2/2026).
Pagi menjelang siang itu, jajaran pimpinan BAZNAS hadir langsung di lokasi. Ketua BAZNAS Kabupaten Karo Ustadz Amin Gia Bangun, Waka I Ustadz Al Kudri, Waka II Jono Brahmana, jajaran amil pelaksana, Tim BTB BAZNAS Karo, hingga Kepala KUA Kecamatan Kuta Buluh Gugung Bukhori turut menyaksikan momen peletakan batu pertama tersebut.
Kebakaran yang melanda rumah Frenta Tarigan pada 13 Januari 2026 menghanguskan tempat tinggalnya. Sejak saat itu, keluarga harus bertahan dalam keterbatasan.
Kini, melalui dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun BAZNAS, proses pembangunan rumah baru resmi dimulai.
Ketua BAZNAS Kabupaten Karo menegaskan, kehadiran lembaganya bukan hanya untuk menyerahkan bantuan materi.
“Kehadiran BAZNAS bukan sekadar memberi bantuan fisik, tetapi menghadirkan semangat, harapan, dan kepedulian di tengah masyarakat yang sedang tertimpa ujian,” ujarnya dalam sambutan.
Prosesi berlangsung khidmat. Doa bersama dipanjatkan agar pembangunan berjalan lancar dan rumah yang dibangun dapat menjadi tempat tinggal yang aman serta penuh keberkahan bagi keluarga.
Program pembangunan rumah ini menjadi bagian dari komitmen BAZNAS Kabupaten Karo dalam menyalurkan amanah umat secara tepat sasaran, khususnya bagi korban musibah.
BAZNAS memastikan dana yang dihimpun dari masyarakat disalurkan secara transparan dan akuntabel. Respons cepat terhadap korban kebakaran ini juga menjadi bukti bahwa zakat memiliki peran nyata dalam pemulihan sosial.
Dari abu kebakaran, kini fondasi harapan mulai ditegakkan. Peletakan batu pertama bukan sekadar simbol dimulainya pembangunan rumah, tetapi juga tanda kebangkitan dan semangat baru bagi keluarga yang sempat terpuruk akibat musibah.
BERITA19/02/2026 | Humas BAZNAS Minahasa

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Minahasa.
Lihat Daftar Rekening →